Industri Event Dinilai Tak Lagi Sekadar Hiburan, tetapi Juga Ruang Edukasi
- Istimewa
tvOnenews.com - Industri kreatif di Indonesia dinilai terus mengalami perubahan, terutama dalam pola kepemimpinan dan pendekatan terhadap publik. Jika sebelumnya identik dengan gaya formal dan korporatif, kini mulai muncul pendekatan yang lebih kolaboratif serta dekat dengan isu sosial.
Salah satu yang menyoroti perubahan tersebut adalah Managing Director PT Navaswara Bhuwana Kencana, Cahaya Manthovani. Menurut dia, perkembangan industri kreatif saat ini tidak hanya berbicara mengenai kemasan acara, tetapi juga pesan dan dampak yang ingin disampaikan kepada masyarakat.
“Semua berawal dari mengikuti alur hidup. Sebagai lulusan architectural design di Korea, yaitu negara yang sangat mendorong kreativitas, saya belajar banyak dari mereka. Dunia industri kreatif adalah awal mula saya menjejaki karier,” ujar Cahaya.
Ia mengatakan keterlibatannya di dunia penyelenggaraan acara berkembang seiring perjalanan karier yang dijalani. Menurutnya, komitmen dalam bekerja menjadi salah satu faktor penting untuk membangun kepercayaan publik.
“Dari awal industri kreatif sudah ada di dalam jiwa saya, tapi kalau event adalah sesuatu yang mengikuti alur hidup. Dengan saya mengerjakan setiap pekerjaan dengan komitmen yang tinggi, Alhamdulillah orang-orang percaya terhadap saya,” katanya.
Sejumlah kegiatan yang pernah digelar di antaranya Festival Storytelling Cerita Rakyat Suara Nusantara 2025, ABPEDNAS Jaga Desa Awards 2026, dan Inklusiland 2025. Berbagai kegiatan tersebut mengangkat isu yang berbeda, mulai dari pelestarian budaya tutur, pembangunan desa, hingga inklusivitas.
Menurut Cahaya, sebuah kegiatan publik perlu memiliki tujuan yang jelas agar dapat memberi dampak lebih luas kepada masyarakat.
“Ketika ingin membuat sebuah event, kita sendiri harus tahu betul tujuan utamanya itu apa. Efeknya apa? Apakah hanya berguna untuk sendiri atau bisa menginspirasi orang banyak?” ujarnya.
Ia mencontohkan program Suara Nusantara yang diinisiasi untuk mendorong minat generasi muda terhadap cerita rakyat sekaligus meningkatkan kepercayaan diri peserta.
“Peserta wajib membaca dan memahami cerita-cerita rakyat di daerah Indonesia. Efek dari event ini bukan saja melestarikan cerita rakyat, tetapi juga meningkatkan percaya diri dan pengalaman para peserta,” kata Cahaya.
Selain bergerak di industri kreatif, Cahaya juga terlibat dalam sejumlah kegiatan sosial melalui Yayasan Inklusi Pelita Bangsa. Salah satu program yang dijalankan ialah Makanan Bergizi Gratis-Swasta di Provinsi Banten yang melibatkan pelaku UMKM lokal dan menyasar sekolah khusus serta komunitas disabilitas.
Menurut dia, kolaborasi menjadi salah satu aspek penting dalam menjalankan program sosial maupun kegiatan kreatif.
“Kita hidup di dunia ini bersama individu lainnya. Peradaban dunia tidak akan berubah tanpa kerja sama dengan sesama,” ujarnya. Di sisi lain, Cahaya mengakui terdapat tantangan dalam membangun karier di industri kreatif, terutama terkait persepsi publik terhadap usia dan pengalaman.
“Tantangan terbesar adalah first impression orang-orang terhadap saya. Sebagai perempuan dengan wajah yang terlihat sangat lebih muda dari umur saya, semua orang selalu mengira saya bocah SMP, SMA, atau masih kuliah,” ungkapnya.
Meski demikian, ia menilai konsistensi dan profesionalisme menjadi hal penting untuk membangun kepercayaan dalam dunia kerja.
“Menjadi entrepreneur bukan sesuatu hal yang bisa dibangun secara instan. Perlu waktu dan ketekunan yang lama. Kuncinya adalah percaya diri dan konsistensi terhadap perkembangan diri,” tutup Cahaya.
Load more