Tak Cukup Kuasai AI, Kemampuan Problem Solving Dinilai Tetap Tak Tergantikan
- ist
Jakarta, tvOnenews.com - Perkembangan teknologi kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence) atau AI dinilai mengubah kebutuhan kompetensi di dunia kerja.
Selain kemampuan memanfaatkan teknologi, talenta muda kini dituntut memiliki kemampuan analitis dan penyelesaian masalah yang lebih kuat.
Hal itu dikemukakan dalam ajang BRAVO 500 Summit 2026 yang mempertemukan lebih dari 1.500 peserta dari kalangan perusahaan, regulator, institusi pendidikan, dan pelaku industri.
- Istimewa
Dalam salah satu sesi diskusi, Direktur Digital Business Peruri Farah Fitria Rahmayati mengatakan penggunaan AI telah menjadi bagian dari berbagai proses bisnis modern, mulai dari pengolahan data hingga pengambilan keputusan.
"AI mampu membantu mempercepat proses analisis dan memberikan berbagai rekomendasi berbasis data. Namun pada akhirnya manusia tetap menjadi pihak yang menentukan bagaimana informasi tersebut digunakan untuk menyelesaikan permasalahan nyata," kata Farah.
Ia menilai kebutuhan industri saat ini tidak lagi hanya berfokus pada penguasaan teori dan keterampilan teknis.
Dunia kerja semakin membutuhkan sumber daya manusia yang mampu mengombinasikan pemanfaatan teknologi dengan kemampuan berpikir kritis dan pengambilan keputusan.
Dalam forum tersebut, Peruri juga mengidentifikasi lima kompetensi utama yang perlu dimiliki generasi muda untuk menghadapi perubahan kebutuhan industri.
Berikut lima kompetensi yang dinilai penting:
1. Data Literacy
Kemampuan memahami, membaca, dan mengolah data menjadi keterampilan dasar yang semakin dibutuhkan di berbagai sektor. Data tidak hanya berfungsi sebagai sumber informasi, tetapi juga menjadi dasar dalam pengambilan keputusan bisnis maupun kebijakan.
Dengan kemampuan literasi data yang baik, seseorang dapat mengidentifikasi pola, memahami tren, serta menarik kesimpulan yang lebih akurat dari berbagai informasi yang tersedia.
2. AI Literacy
AI literacy tidak hanya berarti mampu menggunakan aplikasi berbasis AI, melainkan juga memahami cara kerja, manfaat, keterbatasan, serta risiko yang menyertainya.
Pemahaman tersebut penting agar teknologi AI dapat dimanfaatkan secara efektif dan bertanggung jawab.
3. Digital Product Mindset
Industri saat ini membutuhkan talenta yang tidak hanya mampu menjalankan tugas teknis, tetapi juga memahami bagaimana sebuah produk digital dikembangkan untuk menjawab kebutuhan pengguna.
Pola pikir ini mencakup kemampuan melihat masalah, merancang solusi, memahami pengalaman pengguna, hingga menciptakan nilai tambah melalui teknologi.
4. Security and Governance
Meningkatnya pemanfaatan teknologi digital membuat aspek keamanan dan tata kelola data menjadi semakin penting.
Talenta digital perlu memahami prinsip dasar keamanan siber, perlindungan data, kepatuhan regulasi, serta tata kelola teknologi agar proses digitalisasi dapat berjalan secara aman dan berkelanjutan.
5. Critical Thinking dan Problem Solving
Di tengah pesatnya perkembangan AI, kemampuan berpikir kritis dan menyelesaikan masalah tetap menjadi kompetensi yang tidak tergantikan.
AI dapat membantu mengolah informasi dan memberikan rekomendasi, tetapi manusia tetap berperan dalam menilai konteks, mempertimbangkan berbagai faktor, dan mengambil keputusan yang tepat.
Farah menambahkan pengembangan kompetensi tersebut memerlukan kolaborasi antara dunia pendidikan, pemerintah, dan sektor industri agar kurikulum serta proses pembelajaran dapat mengikuti kebutuhan pasar kerja yang terus berubah.
Menurutnya, pemanfaatan AI dan integrasi data yang tepat dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk mencetak individu yang melek digital dan mampu bersaing di tingkat global.
Load more