Bangun Gereja Tangguh Bencana, GPIB Pasar Minggu, BNPB dan UI Kolaborasi Gelar Simulasi Evakuasi Bencana
- Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com – Ibadah Minggu di GPIB Pasar Minggu pada 28 Juni 2026 berakhir seperti biasanya. Namun, jemaat belum beranjak pulang. Sesaat setelah ibadah selesai, suara peluit Panjang dan instruksi terdengar memenuhi ruang ibadah. "Gempa...Gempa...Gempa.. Jemaat tetap tenang."
Kalimat sederhana itu menjadi awal dari sebuah simulasi evakuasi gempa yang melibatkan seluruh jemaat. Tidak ada kepanikan, tidak ada saling berebut keluar. Jemaat justru mempraktikkan apa yang telah dipelajari selama beberapa pekan sebelumnya: berlutut, berlindung, dan bertahan sebagai respons pertama ketika gempa terjadi.
Simulasi yang dilaksanakan seusai ibadah ini bukan sekadar latihan, melainkan bagian dari upaya membangun budaya kesiapsiagaan bencana di lingkungan gereja. Melalui pengalaman langsung, jemaat diajak memahami bahwa keselamatan saat bencana tidak hanya bergantung pada kondisi bangunan, tetapi juga pada pengetahuan dan kesiapan setiap orang dalam mengambil tindakan yang tepat.
Saat skenario gempa dimulai, petugas ibadah segera memberikan instruksi kepada seluruh jemaat untuk melakukan prosedur 3B (Berlutut, Berlindung, dan Bertahan). Langkah ini menjadi bentuk adaptasi dari prinsip internasional Drop, Cover, and Hold On yang disederhanakan agar lebih mudah dipahami dan diingat oleh seluruh jemaat, mulai dari anak-anak hingga lanjut usia.
Setelah simulasi guncangan dinyatakan berakhir dan kondisi dipastikan aman, peluit dibunyikan panjang sebanyak 2 kali sebagai tanda dimulainya proses evakuasi. Jemaat kemudian meninggalkan ruang ibadah secara bertahap melalui pintu evakuasi terdekat sesuai zona yang telah ditentukan. Di setiap jalur, petugas ibadah telah bersiaga untuk mengarahkan arus evakuasi sehingga seluruh jemaat dapat bergerak dengan tertib menuju dua titik kumpul yang telah disiapkan.
Bagi sebagian jemaat, latihan tersebut mungkin menjadi pengalaman pertama mengikuti simulasi gempa di dalam gereja. Namun, justru melalui praktik seperti inilah mereka mengenal letak jalur evakuasi, memahami fungsi titik kumpul, serta menyadari pentingnya mengikuti arahan petugas ketika keadaan darurat benar-benar terjadi.
Tidak hanya jemaat yang belajar. Simulasi ini juga menjadi kesempatan bagi para petugas ibadah untuk mempraktikkan peran masing-masing, mulai dari memberikan instruksi yang jelas, mengatur arus evakuasi, memastikan tidak ada peserta yang tertinggal di dalam gedung, hingga melakukan koordinasi setelah seluruh jemaat tiba di titik kumpul. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam membangun sistem kesiapsiagaan yang tidak hanya mengandalkan prosedur tertulis, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia.
Load more