Bukan Bali atau Raja Ampat, Morotai Kini Mulai Dilirik karena Pesona Alam dan Sejarahnya
- Jababeka Morotai.
Jakarta, tvOnenews.com - Kabupaten Pulau Morotai di Maluku Utara selama ini dikenal lewat panorama pantainya yang indah. Namun di balik hamparan laut biru dan pasir putihnya, wilayah yang pernah menjadi basis penting Perang Dunia II itu kini mulai menawarkan pengalaman wisata yang lebih lengkap, mulai dari sejarah, budaya, hingga wisata bawah laut kelas dunia.
Salah satu kawasan yang mulai banyak menarik perhatian wisatawan adalah Daloha Beach & Dive Resort yang berada di kawasan Tanjung Dehegila, Desa Juanga, Kecamatan Morotai Selatan.
Berjarak sekitar 10 menit dari Bandara Pitu Morotai, kawasan ini menawarkan suasana pantai yang tenang dengan garis pantai mencapai sekitar 4,5 kilometer.
Saat pagi hari, kawasan pantai terlihat lengang dengan hamparan pasir putih dan air laut jernih yang memperlihatkan dasar perairan dangkal secara jelas. Sejumlah wisatawan tampak menikmati suasana dengan berjalan di bibir pantai, berenang, hingga bermain pasir bersama keluarga.
“Lokasi kami di sini memang cocok untuk mereka yang ingin sejenak menjauh dari kesibukan dan menikmati suasana yang tenang di tengah keindahan alam (Morotai),” kata Alan Wijaya, Direktur Utama PT Jababeka Morotai selaku pengelola dan pengembang Kawasan Ekonomi Khusus Morotai, mengutip keterangannya, Sabtu (4/7/2026).
Selain menawarkan panorama pantai, kawasan tersebut juga mengusung konsep bangunan bernuansa tradisional yang terinspirasi dari rumah adat dengan dominasi material kayu.
“Inspirasi kami ambil dari rumah tradisional Tomohon,” ujar Alan Wijaya.
Resort tersebut memiliki 22 unit cottage dengan beberapa pilihan tipe kamar yang disesuaikan untuk wisatawan keluarga maupun individu.
Namun daya tarik Morotai bukan hanya terletak pada akomodasi atau pantainya. Wilayah ini juga dikenal memiliki sejumlah destinasi wisata bahari unggulan yang mulai diminati wisatawan domestik maupun mancanegara.
Pulau Dodola misalnya, terkenal dengan fenomena pasir timbul yang menghubungkan dua pulau saat air laut surut. Panorama tersebut membuat kawasan ini kerap dijuluki sebagai “Maldives-nya Indonesia”.
Sementara Pulau Zum-zum menyimpan jejak sejarah Perang Dunia II karena pernah menjadi lokasi tinggal Jenderal Douglas MacArthur dari Amerika Serikat.
“Kalau sudah datang ke Morotai tapi tidak mencoba diving, rasanya sayang sekali,” kata Alan Wijaya.
Morotai sendiri memiliki sejumlah titik penyelaman populer, mulai dari Pulau Mitita yang menjadi habitat hiu sirip hitam hingga perairan Pulau Wawama yang menyimpan bangkai Jeep Willys peninggalan Perang Dunia II di dasar laut.
Selain wisata laut, Morotai juga menawarkan wisata sejarah yang masih terjaga hingga kini.
Salah satunya Museum Swadaya Perang Dunia II milik warga lokal bernama Muhlis Eso di Desa Joubela. Museum tersebut menyimpan ribuan artefak peninggalan perang yang ditemukan secara mandiri selama bertahun-tahun.
Mulai dari peluru, perlengkapan tentara, lencana hingga berbagai benda peninggalan perang tersimpan di museum sederhana tersebut.
"Banyak orang datang ke Morotai karena pantai dan lautnya. Tapi setelah berada di sini, mereka biasanya baru menyadari bahwa Morotai juga menyimpan cerita sejarah yang sangat kuat," ujar Alan Wijaya.
Menurutnya, konsep wisata Morotai saat ini memang diarahkan tidak hanya menjual keindahan alam semata, tetapi juga menghadirkan pengalaman perjalanan yang memadukan sejarah, budaya, dan aktivitas alam dalam satu destinasi. (cmi)
Load more