Sosok Masoud Pezeshkian, Presiden Iran yang Minta Maaf ke Negara Tetangga di Tengah Perang
- istimewa - antaranews
Latar belakang akademik dan medis tersebut membuat Pezeshkian dikenal sebagai tokoh yang lebih moderat dibandingkan sejumlah politikus garis keras di Iran.
Menang Pilpres Iran dengan Suara Mayoritas
Masoud Pezeshkian resmi menjadi Presiden Iran setelah memenangkan pemilihan presiden putaran kedua dengan perolehan sekitar 53,6 persen suara.
Dalam pemilihan tersebut, ia mengalahkan rivalnya, Saeed Jalili, yang memperoleh sekitar 44,3 persen suara.
Kemenangan tersebut diumumkan oleh Kementerian Dalam Negeri Iran setelah proses pemungutan suara yang berlangsung ketat.
Sejak saat itu, Pezeshkian memimpin Iran di tengah berbagai tantangan besar, mulai dari tekanan geopolitik, konflik regional, hingga persoalan ekonomi domestik.
Kini, langkah Presiden Iran minta maaf kepada negara tetangga menjadi salah satu keputusan diplomatik penting dalam masa pemerintahannya.
Dikenal Kritis terhadap Kekerasan Aparat
Salah satu hal yang membuat Pezeshkian dikenal publik Iran adalah sikapnya yang cukup vokal terhadap isu hak-hak masyarakat.
Ia pernah mengkritik tindakan represif terhadap demonstran pro-demokrasi pada 2009 serta kekerasan aparat terhadap perempuan setelah kematian Mahsa Amini pada 2022.
Mahsa Amini meninggal saat berada dalam tahanan polisi moral Iran karena dianggap melanggar aturan berpakaian bagi perempuan. Peristiwa tersebut memicu gelombang protes besar di Iran.
Dalam salah satu wawancara, Pezeshkian bahkan mengakui bahwa pemerintah melakukan kesalahan dalam menangani situasi tersebut.
Sikap kritis ini turut memperkuat citranya sebagai politisi yang relatif moderat dan terbuka terhadap evaluasi kebijakan pemerintah.
Latar Belakang Keluarga dan Kehidupan Pribadi
Masoud Pezeshkian lahir dari keluarga dengan latar belakang etnis Azeri dan Kurdi. Ia juga dikenal sebagai tokoh yang cukup dekat dengan kelompok minoritas di Iran.
Fakta bahwa bahasa Persia bukan bahasa ibunya membuat Pezeshkian memiliki kedekatan dengan berbagai komunitas etnis di negara tersebut.
Dalam kehidupan pribadinya, Pezeshkian pernah mengalami tragedi besar setelah kehilangan istri dan salah satu anaknya dalam kecelakaan mobil pada 1994.
Peristiwa tersebut disebut menjadi titik balik yang membuatnya semakin aktif di dunia politik dan pelayanan publik.
Load more