Kenapa Israel Bersikeras Tolak Hentikan Perang Buat Damai AS-Iran Hampir Gagal? Ini Kata Pengamat Timur Tengah
- Reuters/Zohra Bensemra
Jakarta, tvOnenews.com - Pengamat Timur Tengah, Teuku Rezasyah menyoroti kekecewaan Israel. Amarah tersebut akibat kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada Minggu (14/6/2026).
Kesepakatan damai AS dan Iran menuai penolakan dari Israel. Israel bahkan ogah menarik pasukannya dan sempat membombardir wilayah Beirut, Lebanon, yang menewaskan 3 orang dan 15 orang terluka.
Padahal poin penghentian permusuhan dari segala lini menjadi bagian dari keputusan antara AS dan Iran. Penolakan tersebut memicu kemarahan Presiden Donald Trump.
Menurut Teuku, penolakan tersebut adalah reaksi secara sengaja bagi Israel. Gempuran menyasar wilayah Lebanon tak lepas dari ambisinya berupa konsep Greater Israel atau "Israel Raya".
"Dia (Israel) hanya merasa aman kalau wilayah sekelilingnya bisa dikuasai, paling tidak mereka ribut satu sama lain tapi ujung-ujungnya Israel stabil," ujar Teuku dalam program Catatan Demokrasi, Rabu (17/6/2026).
Sasaran Negara Wujudkan Greater Israel
Ilustrasi Bendera AS dan Iran
Sumber :
- Antara
- Antara
- ANTARA/Xinhua
Lebih lanjut, Teuku menuturkan ada beberapa negara menjadi sasaran merealisasikan konsep tersebut. Israel setidaknya menargetkan wilayah Palestina, Lebanon, Yordania, Suriah.
Negara Teluk dan Afrika Utara yang potensi menjadi sasaran Greater Israel, di antaranya sebagian wilayah Irak, Kuwait, Arab Saudi, dan Mesir termasuk Semenanjung Sinai.
Teuku melihat penolakan tersebut membuat harapan membentuk Greater Israel terhambat bahkan berakhir gagal. Untuk itu, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu kecewa.
Associate Professor President University ini menambahkan, kesepakatan damai itu menunjukkan militer AS tidak hebat. Presiden Donald Trump dinilai gagal melindungi kekuatannya dari serangan Iran di Timur Tengah.
"Dan presisi peluru kendali Iran itu luar biasa, cepat, tepat, akurat, dan didukung oleh remote sensing dari atas," lanjutnya.
Ia menjelaskan, kegagalan kekuatan militer AS membuat sejumlah negara Timur Tengah berpikir. Mereka juga akan mengevaluasi kembali hubungan bilateral dengan AS.
AS dan Iran diketahui akan menandatangani kesepakatan damai di Swiss pada 19 Juni 2026 mendatang. Pencapaian itu setelah mediator memfasilitasi berbagai pertemuan.
Atas hasil pertemuan tersebut, AS dan Iran menemukan beberapa poin dalam kesepakatan damai setelah melalui negosiasi panjang yang alot.
Kekhawatiran Iran kepada Israel
- ANTARA
Di sisi lain, kondisi konsep tersebut menimbulkan gejolak kekhawatiran bagi Iran. Israel dengan mudah menggempur wilayahnya meskipun kekuatan Iran juga jauh lebih kuat.
"Iran ini satu-satunya kekuatan yang bisa menghadapi Israel dan juga dia punya basis tiga H, yakni Hamas, Houthi, dan Hizbullah," tuturnya.
Apakah Kesepakatan Damai AS-Iran Bisa Terwujud?
- Antara
Ia memprediksi keputusan perjanjian AS-Iran tentu akan menimbulkan perlawanan lebih. Jika keduanya telah menandatangani kesepakatan tersebut, kondisi gesekan maupun perang tetap berlanjut.
"Saya pikir selepas nanti Jumat, kita belum tentu punya damai. Mungkin keadaan dapat dikatakan seperti Could War tapi levelnya Timur Tengah," imbuhnya.
"Perang tidak, tapi suasana tetap tegang sehingga masih bikin takut," lanjutnya.
(hap)
Load more