WHO Tetapkan Status Darurat, Wabah Ebola di Kongo Bisa Tewaskan 1.000 Orang per Hari
- pexels.com
Jakarta, tvOnenews.com - Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) semakin mengkhawatirkan. Pemerintah setempat memperingatkan jumlah korban jiwa bisa melonjak drastis hingga mencapai 1.000 kematian per hari jika virus mulai menyebar ke kamp-kamp pengungsian di Provinsi Ituri.
Peringatan tersebut disampaikan Menteri Urusan Sosial, Kemanusiaan, dan Solidaritas Nasional DRC, Eve Bazaiba Masudi, di tengah meningkatnya kasus Ebola di wilayah timur negara tersebut.
Menurut Masudi, situasi di kamp pengungsian sangat rentan karena tingginya kepadatan penduduk dan keterbatasan fasilitas kesehatan.
"Jika kasus Ebola muncul di situs-situs ini, terdapat risiko jumlah infeksi dapat meningkat setidaknya seribu orang per hari," kata Masudi sebagaimana dikutip portal berita Actualite, Minggu (5/7/2026).
Provinsi Ituri sendiri saat ini menjadi pusat penyebaran wabah Ebola. Wilayah tersebut diketahui menampung sekitar 1,15 juta pengungsi yang tersebar di 69 lokasi penampungan.
Kondisi pengungsian yang padat dan minim sanitasi dikhawatirkan dapat mempercepat penularan virus mematikan tersebut.
Data terbaru otoritas kesehatan setempat menunjukkan situasi wabah masih terus berkembang. Hingga Kamis lalu, tercatat ada tambahan 26 kematian hanya dalam satu hari.
Di sisi lain, sebanyak 213 pasien dilaporkan berhasil sembuh setelah menjalani perawatan intensif.
Meski demikian, ratusan pasien lainnya masih dirawat di sejumlah fasilitas kesehatan darurat yang disiapkan pemerintah dan organisasi kemanusiaan.
Pemerintah Republik Demokratik Kongo juga melaporkan adanya 42 kasus baru Ebola yang ditemukan di Provinsi Ituri dan Kivu Utara.
Lonjakan kasus ini membuat kekhawatiran global kembali meningkat, mengingat Ebola dikenal sebagai salah satu virus dengan tingkat kematian tinggi dan penyebaran cepat apabila tidak ditangani secara ketat.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya telah menetapkan wabah Ebola di kawasan tersebut sebagai status darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional atau Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) sejak Mei 2026.
Status tersebut dikeluarkan karena risiko penyebaran lintas wilayah dinilai cukup tinggi, terutama di kawasan Afrika Tengah yang masih menghadapi konflik dan krisis kemanusiaan.
Pemerintah DRC bersama WHO kini terus memperkuat pengawasan, pelacakan kontak pasien, hingga distribusi bantuan medis guna mencegah wabah semakin meluas ke area pengungsian dan wilayah lain di sekitarnya. (Ant/cmi)
Load more