Meski Tangan Kaki 'Buntung' dan Kehilangan Mata, Pengorbanan Hercules Tak Berbuah Manis, Hendropriyono: Dia Enggak Kebagian Kue Apa-apa
- Tangkapan layar Youtube Deddy Corbuzier
Jakarta, tvOnenews.com - Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono menanggapi soal maraknya hujatan yang didapatkan oleh Ketua Umum GRIB Jaya Hercules Rosario Marshal.
Belakangan ini, Hercules kembali menuai banyak sorotan setelah menyebut mantan Gubernur Jakarta Sutiyoso sebagai purnawirawan TNI yang sudah 'bau tanah'.
Hercules pun mendapatkan banyak kecaman, salah satunya dari mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo.
Tak cuma mengatai Hercules sebagai sosok preman berpakaian ormas, Gatot juga menyinggung tindakan anarkis anggota GRIB Jaya yang bakar mobil polisi di Depok.
Di tengah kericuhan itu, Hercules pun sudah menyatakan permintaan maafnya kepada Sutiyoso.
Namun, ia menolak meminta maaf terhadap Gatot. Mantan penguasa Tanah Abang ini berpesan agar mantan Panglima TNI itu mau mengoreksi perkataannya, khususnya soal ungkapan preman dan GRIB Jaya.
Nampaknya, kini pria asal Timor Timur tersebut mendapatkan dukungan baru, yakni dari Hendropriyono.
Di dalam tayangan YouTube Rhenald Kasali, Hendropriyono menegaskan sebenarnya ia bukan membela tindakan yang dilakukan mantan preman Tanah Abang tersebut.
"Bukan saya mau bela. Saya tetap anti premanisme. Tapi kan kita punya hati nurani," katanya dia, dikutip Senin (5/5/2025).
Ia tak memungkiri bahwa sosok pria bermata satu itu pernah melakukan kekerasan khususnya ketika ia bertindak menjadi preman.
Namun, menurutnya kejadian tersebut harus dilihat dari sisi lain yang lebih bijak.
Hendropriyono menjelaskan, di masa lalu ketika Timor Leste masih menjadi bagian dari Indonesia yakni Timor Timur, Hercules telah banyak membantu para tentara.
Di tengah konflik tersebut, sang mantan preman bahkan mengalami kecacatan permanen.
"Dia kan buntung. Kaki buntung, tangan buntung Hercules itu. Mata sebelah. Ini karena membela Republik Indonesia," tegas mantan Kepala BIN itu.
Pengorbanan yang membuat sang mantan preman kehilangan bagian tubuhnya itu pun dinilai Hendropriyono tak berbuah manis.
Menurutnya, Hercules hanyalah korban dari konspirasi global dan ekonomi. Oleh karenanya, hidup menjadi preman menjadi satu-satunya pilihan.
"Karena dia juga korban ekonomi. Bukan hanya korban konspirasi. Ekonomi, setelah dia ada di Indonesia menjadi bangsa Indonesia. Dia enggak kebagian kue apa-apa," katanya lagi.
Pada akhirnya, hal yang bisa dilakukan Indonesia adalah tidak 'membunuh' karakter Hercules dengan kesalahan-kesalahannya di masa lalu.
Menurutnya, preman-preman yang ada mestinya mendapatkan pembinaan, bukan terus-terusan dihujat.
Untuk mengatasi premanisme, tindakan yang dilakukan harus penuh strategi dan sistemik. Sebab, jika tidak dilakukan masalah ini tak akan pernah selesai.
"Semuanya kan korban konspirasi internasional. Kita jangan lupa itu. Kenapa kalau sekarang dinilai mersahkan, dan lain-lain. Berati kan masalah pembinaan," ujar dia. (iwh)
Load more