Reformasi TKDN Dongkrak Kepercayaan Diri Industri, PMI Manufaktur RI Masih Ekspansif
- Antara
Jakarta, tvOnenews.com – Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan reformasi kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) membuat industri nasional lebih percaya diri dalam meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperluas pasar konsumen. Kebijakan ini dinilai menjadi faktor penting di tengah ketidakpastian global, karena mampu menjaga momentum pertumbuhan industri manufaktur Indonesia.
Agus mengungkapkan, pada akhir triwulan III-2025, sektor manufaktur masih menunjukkan tren positif meskipun pertumbuhannya sedikit melambat dibandingkan bulan sebelumnya. Data S&P Global mencatat Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada September 2025 berada di level 50,4, masih bertahan di zona ekspansi. Angka ini memang turun dibanding Agustus yang mencapai 51,5, tetapi tetap menjadi sinyal bahwa industri nasional masih tumbuh.
“PMI Manufaktur Indonesia berhasil bertahan di zona ekspansif selama dua bulan berturut-turut. Ini mengindikasikan bahwa permintaan domestik yang kuat masih menjadi motor utama pertumbuhan, sementara permintaan ekspor masih terjaga meski tertekan perlambatan ekonomi global,” jelas Agus di Jakarta, Kamis (2/10).
Pasar Domestik Jadi Penopang
Berdasarkan laporan S&P Global, permintaan baru naik selama dua bulan beruntun berkat konsumsi dalam negeri yang terus meningkat. Menurut Agus, kondisi ini menjadi momentum baik bagi pelaku industri nasional untuk memaksimalkan potensi pasar domestik yang sangat besar.
“Apalagi dengan adanya reformasi kebijakan TKDN, peluang penyerapan produk dalam negeri semakin terbuka. Hal ini membuat industri lebih percaya diri dalam meningkatkan produksi dan memperluas basis konsumen,” ujarnya.
Selain itu, hasil survei PMI juga menunjukkan pelaku industri meningkatkan pembelian bahan baku dan stok inventaris sebagai antisipasi peningkatan produksi ke depan. “Langkah ini mencerminkan optimisme sektor industri terhadap prospek pertumbuhan dalam beberapa bulan mendatang,” tambahnya.
Lapangan Kerja Meningkat
Indikator lain yang menggembirakan adalah peningkatan serapan tenaga kerja di sektor manufaktur. Data menunjukkan tingkat ketenagakerjaan berada di level tertinggi dalam empat bulan terakhir. Kepercayaan bisnis juga mencapai posisi tertinggi sejak Mei 2025, seiring dengan ekspektasi membaiknya kondisi permintaan.
“Kemenperin mencermati bahwa peningkatan tenaga kerja adalah sinyal positif. Artinya pelaku industri bersiap menghadapi permintaan yang lebih baik, sekaligus memperkuat kontribusi industri terhadap penciptaan lapangan kerja,” tegas Agus.
Dukungan Kebijakan Pemerintah
Menperin juga menyoroti langkah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang memastikan cukai rokok tidak akan naik pada 2026. Menurutnya, keputusan ini bisa menjadi bentuk insentif bagi industri hasil tembakau (IHT) yang berkontribusi besar pada penerimaan negara, penyerapan tenaga kerja, serta devisa ekspor.
“Tidak menaikkan cukai saja sudah menjadi insentif, karena akan menjaga stabilitas usaha sekaligus mendorong permintaan,” kata Agus.
Ke depan, Kemenperin bertekad menjaga stabilitas harga bahan baku, meningkatkan efisiensi rantai pasok, hingga memperkuat strategi hilirisasi. Diversifikasi pasar ekspor juga akan dikejar untuk mengimbangi tekanan dari turunnya permintaan global.
Optimisme Menghadapi Tantangan Global
Meski ekonomi global penuh tantangan, Agus optimistis sektor manufaktur Indonesia tetap menjadi penopang utama perekonomian nasional. Hal ini diperkuat dengan capaian PMI Indonesia yang masih lebih baik dibandingkan sejumlah negara besar seperti Jepang (48,5), Jerman (48,5), Prancis (48,1), Inggris (46,2), Taiwan (46,8), Malaysia (49,8), dan Filipina (49,9).
“Dengan kebijakan industri yang tepat, kepercayaan diri pelaku usaha, serta penguatan pasar domestik, kita optimistis sektor manufaktur akan terus tumbuh dan mendukung ketahanan ekonomi nasional,” pungkas Agus. (nsp)
Load more