Bertambah! Tujuh Korban Ledakan SMAN 72 Jakarta Utara Jalani Operasi, 14 Lainnya Masih Dirawat
- Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com - Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Margaret Aliyatul Maimunah mengungkap kondisi terkini korban ledakan SMAN 72 Jakarta Utara, yang dirawat di RS Islam Jakarta Cempaka Putih, pada Jumat (7/11/2025).
Margaret mengatakan, data terakhir dari RS Islam Jakarta Cempaka Putih, sebanyak tujuh korban harus menjalani operasi.
“Ya, tentunya ada sebagian yang harus dioperasi ya. Tadi data terakhir ada sekitar 7 anak,” kata Margaret di RS Islam Jakarta Cempaka Putih, Jumat (7/11/2025).
Adapun Magaret mengungkapkan, korban yang dilakukan tindakan operasi ini diantaranya mengalami luka di bagian kaki hingga kepala.
“Macem-macem, ada di bagian kaki, ada yang jarinya harus kukuhnya diambil, dan kebanyakan telinga, merasakan telinga sakit gitu ya, terus kemudian daerah kepala. Dan saya tadi tidak sempat melihat yang mau dioperasi. Ada sekitar 7 anak informasinya. Tadi ketika saya mau ke sini, saya dapat informasi 4 orang yang mau dioperasi. Tapi kemudian saya sampai sini, sudah bertambah menjadi 7,” terang Margaret.
Sementara itu Margaret mengungkapkan sebanyak 14 orang lainnya berdasarkan data dari kepolisian, pada malam ini akan dilakukan rawat inap.
“Tapi yang kondisinya sudah memungkinkan untuk dibawa pulang, sudah diperbolehkan untuk dibawa pulang. Misalnya yang lukanya gak terlalu, ya masih bisa dilakukan rawat jalan, meskipun juga ada tadi yang telinganya juga mengalami gangguan,” ucap Margaret.
Kemudian Margaret menerangkan, selain fokus kepada anak yang terluka, pihaknya juga akan memberikan trauma healing.
“Tadi saya sudah menyampaikan juga ya bahwa ada hal penting selain hari ini kita fokus kepada anak-anak yang mengalami luka, tapi tentu kita juga harus mendampingi anak-anak dengan rehabilitasi untuk trauma healingnya,” kata Margaret, di RS Islam Jakarta Cempaka Putih, Jumat (7/11/2025).
Sebab menurut Margaret, seluruh siswa dan siswi di SMAN 72 Jakarta yang mendengar dan menyaksikan indisen tersebut, memerlukan pendampingan psikologis.
“Karena pasti anak-anak ini mengalami trauma. Semua anak, baik yang mengalami luka atau tidak, yang mendengar dan menyaksikan kasus tadi, itu pasti membutuhkan untuk pendampingan psikologis,” terang Margaret. (ars/raa)
Load more