Menkeu Ungkap Faktor Kuat Dongkrak IHSG ke Level 10.000 pada 2026, Ekonomi Tumbuh Jadi Kunci
- tvOnenews/Abdul Gani Siregar
Jakarta, tvOnenews.com — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan sejumlah sentimen positif yang diyakini akan menopang laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga menembus level 10.000 pada tahun 2026. Optimisme tersebut didorong oleh fondasi ekonomi nasional yang dinilai semakin solid serta sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter yang kian kuat.
Purbaya menyampaikan, pelaku pasar saat ini menunjukkan keyakinan bahwa kondisi perekonomian Indonesia akan terus membaik. Bahkan, target pertumbuhan ekonomi 6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dinilai realistis untuk dicapai.
“Saya pikir memang itu optimisme di pasar atau pelaku pasar bahwa kita akan membaik terus ke depan. Kalau saya lihat, fondasi ekonominya yang sudah membaik sekarang, tahun ini akan lebih baik lagi karena kebijakan kita dengan BEI sudah amat sinkron,” ujar Purbaya dalam wawancara cegat usai Seremoni Pembukaan Perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2026 di Jakarta, Jumat (2/1/2026).
Ia menegaskan, dengan kondisi tersebut, pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat bukan sekadar harapan. “Harusnya ekonomi akan tumbuh lebih cepat, dan 6 persen bukan mustahil dicapai tahun ini,” katanya.
Seiring dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang kuat, Purbaya meyakini target IHSG di level 10.000 bukan angka yang berlebihan. Menurutnya, pasar modal akan merespons positif kinerja ekonomi yang solid serta peningkatan laba korporasi.
“Tahun ini IHSG 10.000, itu bukan angka yang mustahil dicapai,” tegasnya.
Salah satu faktor penting yang menjadi penopang optimisme tersebut adalah peran Kementerian Keuangan yang kini berada di bawah kendalinya secara penuh sepanjang 2026. Berbeda dengan tahun sebelumnya, Purbaya baru mulai menjabat sebagai Menteri Keuangan pada 8 September 2025, sehingga ruang kebijakan yang dijalankan belum maksimal.
“Kan sekarang satu tahun penuh ini saya sudah bagian ekonominya bersama Gubernur BI dan lain-lain. Kalau kemarin kan saya masih separuh-separuh, cuma seperempat malah,” ujarnya.
Menurut Purbaya, kebijakan fiskal yang dijalankan secara konsisten dan berkesinambungan akan memberikan kepastian bagi pelaku usaha dan investor. Hal tersebut dinilai krusial dalam menjaga kepercayaan pasar, terutama di tengah dinamika ekonomi global.
Selain itu, sinkronisasi kebijakan antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia (BI) menjadi faktor strategis lain yang diyakini mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026. Koordinasi yang lebih erat antara otoritas fiskal dan moneter diharapkan menciptakan stabilitas makroekonomi yang lebih kuat.
“Harusnya dengan kebijakan yang lebih sinkron kita dengan bank sentral, dengan yang lain-lain, ekonomi kita bisa tumbuh lebih cepat. Itu akan melandasi pertumbuhan keuntungan perusahaan juga,” jelas Purbaya.
Ia menambahkan, peningkatan kinerja korporasi akan menjadi katalis penting bagi pasar saham. Dengan prospek laba yang membaik, minat investor terhadap saham-saham di BEI diyakini akan meningkat.
“Investor-investor yang jeli, jangan sampai ketinggalan,” kata Purbaya, menegaskan momentum positif yang sedang terbentuk di pasar modal Indonesia.
Optimisme tersebut tercermin dari pergerakan IHSG pada perdagangan awal tahun. Berdasarkan data BEI pada Jumat pukul 11.50 WIB, IHSG tercatat menguat 77,96 poin atau 0,90 persen ke level 8.724,90.
Aktivitas perdagangan saham juga terbilang aktif. Tercatat 1.808.057 kali transaksi dengan volume perdagangan mencapai 25,83 miliar lembar saham dan nilai transaksi sebesar Rp11,86 triliun. Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, 461 saham menguat, 219 saham melemah, dan 119 saham stagnan.
Penguatan IHSG di awal 2026 ini dinilai menjadi sinyal awal kepercayaan pasar terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah. Dengan dukungan stabilitas makroekonomi, koordinasi kebijakan yang solid, serta prospek pertumbuhan ekonomi yang menjanjikan, target IHSG menembus level 10.000 kian mendapat legitimasi dari para pemangku kepentingan.
Ke depan, pasar akan terus mencermati konsistensi kebijakan fiskal dan moneter, serta respons pemerintah terhadap dinamika global, sebagai faktor penentu apakah optimisme tersebut dapat benar-benar terwujud sepanjang 2026. (ant/nsp)
Load more