News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

Pasar Karbon Mandek, DPR Dorong Pembentukan Kementerian Perubahan Iklim

Pasar karbon nasional mandek, DPR dorong pembentukan Kementerian Perubahan Iklim untuk atasi krisis iklim dan perkuat daya tarik investor global.
Senin, 12 Januari 2026 - 13:29 WIB
Rapat DPR
Sumber :
  • Antara

Jakarta, tvOnenews.com - Wacana pembentukan kementerian atau lembaga khusus perubahan iklim kembali menguat di parlemen. Mandeknya kinerja pasar karbon nasional dinilai menjadi sinyal lemahnya kepemimpinan dan tata kelola kebijakan iklim di Indonesia, di tengah ancaman krisis iklim yang kian nyata.

Anggota Komisi XII DPR RI, Ateng Sutisna, menilai belum adanya satu komando kelembagaan menjadi faktor utama rendahnya daya tarik pasar karbon Indonesia, sekaligus membuat penanganan perubahan iklim berjalan terfragmentasi. Menurutnya, pembentukan kementerian khusus perubahan iklim merupakan langkah strategis untuk memperkuat kepemimpinan kebijakan iklim nasional.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Situasi ini ironis. Ancaman krisis iklim semakin terasa, tetapi respons kelembagaan kita masih terpecah-pecah dan belum menunjukkan kepemimpinan yang kuat,” ujar Ateng, Senin (12/1/2026).

Ateng menegaskan, dampak perubahan iklim sudah dirasakan langsung oleh masyarakat luas. Banjir rob di wilayah pesisir, gelombang panas ekstrem, polusi udara, hingga cuaca yang tidak menentu kini menjadi fenomena yang berulang. Jika tidak ditangani secara serius dan terkoordinasi, dampaknya berpotensi jauh lebih besar.

Ia mengingatkan, kenaikan muka air laut berisiko mengancam hingga 180 juta penduduk yang tinggal di kawasan pesisir. Bahkan, dampak ekonomi yang ditimbulkan diperkirakan dapat memangkas Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia hingga 30–40 persen pada 2050.

Di sisi lain, Ateng menyoroti kinerja Bursa Karbon Indonesia atau IDXCarbon yang diluncurkan sejak September 2023. Hingga kini, pasar karbon nasional dinilai belum menunjukkan kinerja yang menggembirakan dan masih jauh dari potensi yang dimiliki Indonesia.

Berdasarkan data hingga pertengahan 2025, total transaksi karbon baru mencapai sekitar 1,6 juta ton setara karbon dioksida (CO₂e) dengan nilai sekitar Rp78 miliar. Bahkan, pada Juni 2025, volume perdagangan karbon tercatat anjlok hingga 98 persen, dengan hanya delapan ton kredit karbon yang terjual sepanjang bulan tersebut.

Kondisi ini, menurut Ateng, menjadi alarm serius bagi pemerintah. Pasalnya, sekitar 90 persen pembeli kredit karbon masih berasal dari dalam negeri. Rendahnya partisipasi investor global mencerminkan minimnya kepercayaan terhadap integritas dan kepastian kebijakan pasar karbon Indonesia.

“Pasar karbon kita belum dipercaya investor global. Ini menunjukkan ada persoalan mendasar dalam tata kelola dan kepastian regulasi,” tegas politisi Fraksi PKS tersebut.

Ateng menilai, fragmentasi kewenangan menjadi akar masalah utama. Saat ini, urusan perubahan iklim dan perdagangan karbon tersebar di berbagai kementerian dan lembaga, dengan koordinasi melalui komite lintas kementerian yang tidak memiliki fokus utama pada isu iklim.

Akibatnya, akuntabilitas menjadi tidak jelas ketika target penurunan emisi atau pengembangan pasar karbon gagal tercapai. Tumpang-tindih kewenangan juga membuat proses perizinan dan sertifikasi proyek karbon menjadi berbelit, lamban, dan tidak efisien.

“Tumpang-tindih kewenangan membuat prosesnya panjang dan tidak pasti. Ini jelas menghambat investasi dan menurunkan kepercayaan pasar,” ujarnya.

Ia juga menyinggung rendahnya harga kredit karbon domestik yang masih berada di kisaran US$2–5 per ton. Angka tersebut jauh tertinggal dibandingkan pasar karbon Uni Eropa yang telah mencapai US$60–90 per ton. Kondisi ini dinilai mencerminkan lemahnya integritas pasar dan kepastian kebijakan di dalam negeri.

Dorongan pembentukan kementerian khusus perubahan iklim, lanjut Ateng, merujuk pada praktik sejumlah negara yang telah memiliki institusi khusus di bidang tersebut. Negara-negara tersebut terbukti mampu menurunkan emisi karbon per kapita secara signifikan dalam waktu relatif singkat berkat kepemimpinan kebijakan yang kuat dan terfokus.

Seiring masuknya Rancangan Undang-Undang (RUU) Perubahan Iklim dalam Program Legislasi Nasional Prioritas 2026, Ateng mendorong pemerintah segera menentukan arah kelembagaan yang tegas. Ia mengusulkan tiga opsi yang bisa dipertimbangkan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pertama, membentuk kementerian khusus perubahan iklim. Kedua, memperkuat lembaga lingkungan hidup yang ada menjadi badan strategis lintas sektor. Ketiga, mengaktifkan regulator khusus dengan kewenangan jalur cepat untuk sertifikasi proyek karbon dan penegakan hukum.

“Krisis iklim terjadi sekarang, bukan di masa depan. Potensi ekonomi karbon Indonesia juga terlalu besar untuk dikelola setengah hati. Kita butuh satu ‘dirijen’ yang memimpin orkestrasi besar menuju ekonomi rendah karbon,” pungkasnya. (nsp)x

Berita Terkait

Komentar

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

Bukan Sekadar Label, Ini Alasan Halal Mulai Jadi Penentu Kepercayaan Konsumen pada Sebuah Brand

Bukan Sekadar Label, Ini Alasan Halal Mulai Jadi Penentu Kepercayaan Konsumen pada Sebuah Brand

Konsumen kini menilai brand bukan hanya dari kualitas dan harga, tetapi juga kehalalan, transparansi, dan konsistensi. Apa yang berubah? Label halal
Dari Climate Summit PBB, Menteri LH: Presiden Prabowo Subianto Lakukan Langkah Nyata Pengendalian Perubahan Iklim

Dari Climate Summit PBB, Menteri LH: Presiden Prabowo Subianto Lakukan Langkah Nyata Pengendalian Perubahan Iklim

Menteri LH/Kepala BPLH Moh. Jumhur Hidayat menegaskan Indonesia menerjemahkan komitmen iklim ke dalam aksi lintas sektor yang menyatukan pertumbuhan ekonomi, ketahanan energi, pengentasan kemiskinan, dan perlindungan lingkungan.
Serapan Tebu Petani Terjaga di Tengah Musim Panen Raya, PG Ngadiredjo Pastikan Proses Giling Berjalan

Serapan Tebu Petani Terjaga di Tengah Musim Panen Raya, PG Ngadiredjo Pastikan Proses Giling Berjalan

Memasuki masa panen raya tebu 2026, kelancaran penyerapan hasil panen menjadi perhatian petani.
Florian Wirtz Terus Dikritik, Sudah Saatnya Liverpool Jual Sang Bintang?

Florian Wirtz Terus Dikritik, Sudah Saatnya Liverpool Jual Sang Bintang?

Florian Wirtz belum mampu memenuhi ekspektasi sejak bergabung dengan Liverpool. Situasi tersebut membuat masa depannya mulai menjadi sorotan.
IJTI Gelar Simposium dan Apresiasi 2026: Anugerahkan Penghargaan bagi 5 Tokoh Inspiratif Pendorong Keterbukaan Informasi

IJTI Gelar Simposium dan Apresiasi 2026: Anugerahkan Penghargaan bagi 5 Tokoh Inspiratif Pendorong Keterbukaan Informasi

Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) kembali menggelar perhelatan "Simposium dan Apresiasi IJTI 2026", sebuah ajang bergengsi yang bertujuan untuk mengkaji arah jurnalisme di tengah pusaran disrupsi.
Asian Games 2026: FPTI Resmi Melepas Sembilan Atlet Panjang Tebing Indonesia Menuju Nagoya Hari Ini

Asian Games 2026: FPTI Resmi Melepas Sembilan Atlet Panjang Tebing Indonesia Menuju Nagoya Hari Ini

Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (PP FPTI) lewat ketua umum, Yenni Wahid, melepas sembilan atlet yang berlaga di Asian Games 2026 Aichi-Nagoya.

Trending

Pertama Kali Berlatih dengan Megawati Hangestri, Pemain Hyundai Hillstate Tak Habis Pikir dengan Hal Ini

Pertama Kali Berlatih dengan Megawati Hangestri, Pemain Hyundai Hillstate Tak Habis Pikir dengan Hal Ini

Pertama kali berlatih dengan Megawati Hangestri, Kim Hee-jin mengungkap hal yang membuatnya terkesan. Simak proses adaptasi Mega di Hyundai Hillstate.
Lupakan Megawati Hangestri, Red Sparks Sambut Musim Baru dengan Trio Bukilic, Yeum Hye-seon dan Zhong Hui

Lupakan Megawati Hangestri, Red Sparks Sambut Musim Baru dengan Trio Bukilic, Yeum Hye-seon dan Zhong Hui

Move on dari Megawati Hangestri, Red Sparks sambut musim baru V-League dengan trio Yeum Hye-seon, Vanja Bukilic dan Zhong Hui yang belum lama gelar photo shoot.
4 Fakta Terbaru dari Video Mesum A Day in My Life yang Viral di Media Sosial

4 Fakta Terbaru dari Video Mesum A Day in My Life yang Viral di Media Sosial

Media sosial dihebohkan dengan video berjudul A Day in My Life. Ternyata ada beberapa fakta yang baru disampaikan pihak Kepolisian.
Sebanyak 2.054 Lowongan Kerja Diinformasikan KDM dalam Bursa Kerja Online, Disiarkan Langsung di Tiktok

Sebanyak 2.054 Lowongan Kerja Diinformasikan KDM dalam Bursa Kerja Online, Disiarkan Langsung di Tiktok

Bursa Kerja Online yang ditayangkan live melalui akun TikTok @dedimulyadiofficial dan dipandu langsung oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM).
Fakta Terbaru Savanna Azzahra yang Ngaku Calon Suaminya Selingkuh dengan Sang Kakak: Ternyata Rekayasa AI

Fakta Terbaru Savanna Azzahra yang Ngaku Calon Suaminya Selingkuh dengan Sang Kakak: Ternyata Rekayasa AI

Kisah Savanna Azzahra, gadis yang curhat di TikTok kalau calon suaminya selingkuh dengan sang kakak hingga hamil tiga bulan ternyata merupakan rekayasa dari AI.
‎Pelatih Thailand Akui FIFA ASEAN Cup 2026 Lebih Berat dari Piala AFF, Timnas Indonesia Jadi Salah Satu Ancaman

‎Pelatih Thailand Akui FIFA ASEAN Cup 2026 Lebih Berat dari Piala AFF, Timnas Indonesia Jadi Salah Satu Ancaman

Pelatih Timnas Thailand, Anthony Hudson, langsung memasang target tinggi setelah tiba di Indonesia untuk mengikuti FIFA ASEAN Cup 2026. Juru taktik asal Inggris itu menegaskan Gajah Perang datang dengan ambisi membawa pulang gelar juara.
Polisi Minta Video Mesum Berkedok "A Day in My Life" Tidak Disebarluaskan Lagi

Polisi Minta Video Mesum Berkedok "A Day in My Life" Tidak Disebarluaskan Lagi

Pihak kepolisian meminta agar video mesum berkedok “A Day in My Life” tidak disebarluaskan lagi.
Selengkapnya

Viral