Bencana Alam Sumatera Rusak Jalur Transportasi di Tiga Provinsi, Kemenhub Ajukan Anggaran Triliunan Rupiah
- Julio Trisaputra/tvOnenews.com
Jakarta, tvOnenews.com – Kementerian Perhubungan RI mengungkap dampak bencana alam yang terjadi di wilayah Sumatera. Menurut Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, bencana ekologis tersebut telah merusak infrastruktur transportasi di tiga provinsi sekaligus, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Kerusakan meliputi terminal, jalur rel kereta api, hingga perlengkapan keselamatan jalan.
Dudy mengatakan, di Provinsi Aceh bencana berdampak pada tiga terminal tipe A, satu terminal tipe B, dua unit pelaksana penimbangan kendaraan bermotor, serta jalur rel kereta api sepanjang 30 kilometer di 65 titik lokasi.
“Selain itu, kerusakan juga terjadi pada perlengkapan keselamatan jalan seperti marka, rambu, alat penerangan jalan, lampu peringatan, dan alat pemberi isyarat lalu lintas,” kata Dudy dalam Rapat Kerja dengan Komisi V DPR RI, Selasa (27/1/2026).
Di Sumatera Utara, kerusakan terjadi pada satu terminal tipe A serta jalur rel kereta api Medan–Binjai dan Binjai–Besitang sepanjang 99 kilometer di 88 titik lokasi.
“Kerusakan perlengkapan jalan meliputi marka, rambu, alat penerangan jalan, guardrail, dan lampu peringatan,” ujarnya.
Sementara di Sumatera Barat, bencana berdampak pada satu terminal tipe A dan jalur rel kereta api Padang–Lubuk Alung–Kayu Tanam sepanjang 52 kilometer di delapan titik lokasi.
“Berikut juga termasuk kerusakan yang terjadi pada perlengkapan keselamatan jalan berupa marka, rambu, alat penerangan jalan, guardrail, dan fasilitas pendukung transportasi lainnya,” lanjut Dudy.
Dalam masa tanggap darurat, Kemenhub mengklaim telah melakukan berbagai langkah, mulai dari survei perlengkapan jalan, pengoperasian kembali angkutan perintis, hingga perbaikan fasilitas layanan penumpang.
“Kami juga mendukung distribusi logistik melalui transportasi laut, udara, dan kereta api, termasuk penetapan tarif nol rupiah untuk tol laut dan diskon jasa kepelabuhanan bagi kapal pengangkut bantuan kemanusiaan,” jelasnya.
Kemenhub juga mengerahkan ratusan taruna transportasi untuk membantu penanganan di lapangan. Sebanyak 146 taruna diterjunkan di Aceh, 143 taruna di Sumatera Utara, dan 177 taruna di Sumatera Barat.
“Untuk melakukan pembersihan material di fasilitas umum, pemberian bantuan bahan pokok, dan obat-obatan kepada masyarakat yang terdampak,” kata Dudy.
Selain itu, Dudy menyebut, pihaknya menyiagakan 19 armada transportasi udara yang terdiri dari 12 pesawat dan 7 helikopter di tujuh bandara di wilayah Sumatera.
“Guna menjamin respon cepat terhadap kondisi darurat dan distribusi bantuan,” ujarnya.
Ke depan, jata Dudy, Kemenhub akan membagi rencana aksi dalam empat fokus capaian, mulai dari tanggap darurat hingga rehabilitasi dan rekonstruksi pada 2026 hingga 2028.
“Fokus kami meliputi pemulihan lalu lintas, rehabilitasi terminal, perbaikan prasarana perkeretaapian, serta peningkatan fasilitas bandar udara yang berfungsi sebagai simpul tanggap bencana,” tegas Dudy.
Untuk penanganan pasca-bencana, Kemenhub memperkirakan kebutuhan anggaran tahun 2026 mencapai Rp189,9 miliar, terdiri dari Rp60,58 miliar untuk tanggap darurat dan Rp129,32 miliar untuk rehabilitasi dan rekonstruksi awal.
“Sedangkan kebutuhan tahun 2027 dan 2028 akan diusulkan ke DIPA tahun anggaran 2027–2028,” katanya.
Secara keseluruhan, kebutuhan anggaran berdasarkan sektor transportasi mencapai triliunan rupiah, dengan rincian terbesar pada Direktorat Jenderal Perkeretaapian sebesar Rp702,13 miliar dan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara sebesar Rp589,15 miliar.
Adapun berdasarkan wilayah terdampak, kebutuhan anggaran terbesar difokuskan pada Provinsi Aceh sebesar Rp814,80 miliar, disusul Sumatera Utara Rp544,89 miliar, dan Sumatera Barat Rp112,78 miliar. Total anggaran yang diajukan sekitar Rp1,47 triliun. (rpi/aag)
Load more