Buntut Demo Bau Sampah hingga Warga Sakit, Pramono Hentikan Sementara Operasional RDF Rorotan
- tvOnenews - Abdul Gani Siregar
Jakarta, tvOnenews.com - Polemik fasilitas Refuse Derived Fuel Rorotan (RDF Rorotan) kembali mencuat setelah warga mengeluhkan bau menyengat, dampak kesehatan, hingga tekanan psikologis yang memicu aksi protes berulang.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, akhirnya mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara operasional RDF Rorotan sambil membenahi persoalan utama yang dinilai menjadi sumber masalah.
Pramono mengakui, persoalan di RDF Rorotan belum sepenuhnya terselesaikan. Ia menegaskan, akar persoalan bukan terletak pada proses pengolahan sampah di fasilitas RDF, melainkan pada sistem transportasi sampah menuju lokasi tersebut.
“Jadi yang untuk RDF Rorotan memang problem utamanya adalah angkutan. Jadi sekarang ini begitu angkutan dilakukan, ada air lindinya jatuh, netes-netes, inilah yang kemudian menyebabkan protes masyarakat,” ujar Pramono di Jakarta Utara, Jumat (30/1/2026).
Menurut Pramono, RDF Rorotan sendiri telah berkali-kali menjalani tahapan commissioning dengan kapasitas 200 hingga 500 ton per hari dan relatif tidak menimbulkan masalah berarti.
Namun, kondisi armada angkutan lama yang masih digunakan memicu kebocoran air lindi dan menimbulkan bau tak sedap di kawasan permukiman.
“Sedangkan Rorotan sendiri sudah berulang kali dilakukan commissioning sampai dengan 200, 300, 500 per hari, itu apa relatif tidak masalah,” katanya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pramono mengungkapkan Pemprov DKI Jakarta telah membeli armada angkutan sampah baru pada 2025. Ia menegaskan tidak mengizinkan lagi penggunaan kendaraan lama yang dinilai tidak layak.
“Yang lama saya tidak izinkan untuk digunakan. Dan mudah-mudahan, untuk sementara ini saya minta untuk di-stop. Mudah-mudahan ini akan bisa mengatasi persoalan transportasi sampah yang ada di Rorotan ini,” ucapnya.
Pramono menegaskan, penghentian sementara dilakukan murni karena persoalan transportasi.
“Ya pokoknya kita stop dulu karena memang problemnya itu di transportasinya,” ujarnya.
Di tengah peninjauan, Pramono juga mendengarkan langsung keluhan warga yang mengaku terdampak secara fisik dan mental akibat bau dari RDF Rorotan. Salah satu warga menyampaikan keluhan dengan suara bergetar.
“Kita sakit dan mental, mental ya Pak,” kata warga.
Menanggapi hal tersebut, Pramono menyatakan memahami kondisi warga. “Saya tahu itu,” jawabnya.
Namun, ketika warga meminta agar RDF Rorotan ditutup permanen, Pramono menyebut opsi tersebut bukan perkara sederhana. Ia mengingatkan RDF Rorotan dibangun dengan anggaran besar dan penutupan total justru berpotensi menimbulkan persoalan baru.
“Jadi RDF ini terus terang kan dibangun bukan di era saya. Biayanya cukup tinggi. Kalau kemudian saya tutup, ini problemnya lebih rumit lagi, enggak mungkin,” ujarnya.
Pramono menegaskan, seluruh aspirasi warga tetap menjadi perhatian utama pemerintah. Ia menyebut telah beberapa kali bertemu langsung dengan warga untuk mendengar keluhan secara langsung.
“Ya ingat, waktu itu kan kita ketemu, dua kali bahkan ketemu. Jadi semua persoalan masyarakat kan saya dengarkan,” pungkasnya.
Pemprov DKI Jakarta kini fokus membenahi sistem transportasi sampah sebagai langkah awal meredam dampak lingkungan dan kesehatan, sambil menyiapkan solusi jangka menengah agar operasional RDF Rorotan dapat berjalan tanpa merugikan warga sekitar. (agr/aag)
Load more