Siswa SD Bunuh Diri di NTT Bukan Disebabkan Kekerasan Fisik, Menteri PPPA Ungkap Dugaan Mengejutkan di Balik Kematian Korban
- Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com - Kasus tragis yang menimpa Y (10), seorang siswa kelas 4 sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), kini menjadi perhatian serius pemerintah pusat.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) bersama pihak kepolisian tengah melakukan investigasi mendalam untuk mengungkap motif di balik keputusan siswa tersebut mengakhiri hidupnya.
Menteri PPPA, Arifatul Choiri Fauzi, mengungkapkan bahwa meskipun tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh korban, pihaknya kini memfokuskan penyelidikan pada kondisi mental atau tekanan psikologis yang mungkin dialami Y.
"Jadi untuk kasus anak di Ngada ini, memang sampai saat ini tidak terlihat ada kekerasan secara fisik. Tetapi kalau kekerasan secara psikis, ini yang sedang kita perdalam. Saat ini sedang proses, kira-kira apa yang menyebabkan si anak sehingga mengambil keputusan untuk melakukan hal yang sangat tidak diinginkan oleh kita semua," ujar Menteri Arifah saat memberikan keterangan di Jakarta, Kamis (5/2).
Selain mencari tahu adanya dugaan tekanan batin, tim juga tengah menelusuri dari mana korban mendapatkan ide atau pengaruh untuk melakukan tindakan tersebut.
"Kemudian yang kedua, dia terinspirasi dari apa, sehingga melakukan hal ini. Ini yang sedang kami coba dalami," tambah Menteri Arifah.
Tragedi ini memicu desakan dari KPPPA agar seluruh pemerintah daerah meninjau kembali efektivitas program Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA).
Menteri Arifah menegaskan bahwa kenyamanan dan keamanan siswa di lingkungan sekolah maupun tempat tinggal adalah prioritas yang tidak bisa ditawar.
"Kami menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga korban. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa penguatan sistem perlindungan anak melalui implementasi kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) sangat diperlukan untuk memastikan setiap anak di Indonesia dapat mengikuti pendidikan dengan baik, bersekolah dengan aman dan nyaman," tuturnya.
Kementerian PPPA juga telah mengaktifkan tim layanan SAPA 129 untuk bersinergi dengan UPTD PPPA Kabupaten Ngada, Polres Ngada, serta Polda NTT dalam mengawal penanganan kasus ini hingga tuntas.
Peristiwa memilukan ini terjadi pada Kamis (29/1) lalu. Y ditemukan tak bernyawa dengan meninggalkan sepucuk surat yang ditujukan untuk ibundanya.
Kehidupan pribadi Y diketahui cukup berat; ia tinggal bersama neneknya, sementara sang ibu menetap di kampung lain bersama empat saudaranya.
Load more