SBY Ragu Amerika Serikat Bisa Menang Lawan Iran, Sebut Iran Jauh Lebih Ngeri dari Irak dan Afghanistan
- Youtube Susilo Bambang Yudhoyono
Jakarta, tvOnenews.com - Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), memberikan pandangan kritis mengenai dinamika geopolitik global, khususnya potensi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran.
SBY memperingatkan bahwa keterlibatan pasukan darat di wilayah Iran dapat berujung pada konflik berkepanjangan tanpa hasil yang pasti.
Dalam sebuah siara podcast di Channel Youtube Susilo Bambang Yudhoyono yang diunggah 3 Maret 2026, SBY menyoroti langkah militer yang mungkin diambil oleh pemimpin Amerika Serikat.
Ia mengaku skeptis terhadap peluang kemenangan mutlak jika konfrontasi fisik terjadi di daratan Iran.
"Kalau sampai pasukan darat dimasukkan ke Iran oleh Presiden Trump misalnya, saya belum punya bayangan pasti menang nggak Amerika itu," ujar SBY.
Ia menekankan kekhawatirannya akan skenario perang yang tidak berujung.
Menurutnya, pengerahan pasukan darat berisiko terjebak dalam situasi sulit selama bertahun-tahun.
"Jangan sampai sudah digelar di sana berkepanjangan, bertahun-tahun, dan tidak ada tanda-tanda untuk menang," tambahnya.
Lebih lanjut, SBY membandingkan potensi konflik di Iran dengan sejarah keterlibatan Amerika Serikat di negara-negara lain yang memakan waktu lama dan biaya besar.
Ia menilai bahwa keluar dari medan perang sering kali jauh lebih sulit daripada memulainya.
"Di samping itu untuk mengakhirinya, exit dari peperangan di Iran sebagaimana dulu exit dari Afghanistan dan Irak dan juga Vietnam itu juga tidak mudah," jelas SBY.
Ia menegaskan bahwa Iran memiliki karakteristik yang berbeda dan jauh lebih kompleks dibandingkan negara-negara konflik sebelumnya.
"Iran bukan Afghanistan, bukan Irak. Nah, Afghanistan dan Irak pun sangat tidak mudah, apalagi Iran," ujarnya.
Pandangan ini menurut SBY didasari oleh pemahamannya yang mendalam terhadap strategi militer dan hukum internasional yang mengatur peperangan.
"Ini karena saya memahami geopolitik, memahami strategi, memahami peperanganlah dengan segala dinamika hukum-hukum dan teorinya," ujarnya. (dpi)
Load more