Elektrifikasi Ojol Jadi Kunci Hemat Subsidi BBM, Potensi Penghematan Capai Rp15 Triliun
- Antara
Jakarta, tvOnenews.com -Â Upaya mendorong penggunaan kendaraan listrik kembali menjadi sorotan, terutama di sektor transportasi berbasis aplikasi. Elektrifikasi ojek online (ojol) dinilai sebagai langkah strategis untuk menekan beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Kepala Center of Food, Energy and Sustainable Development Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Abra Talattov, menyebut sektor ojek online dan logistik sebagai target paling rasional dalam percepatan transisi energi. Tingginya mobilitas harian membuat konsumsi BBM di sektor ini sangat besar dan stabil.
Konsumsi BBM Ojol Sangat Besar
Abra mengungkapkan, jika diasumsikan terdapat sekitar 7 juta pengemudi ojek online di Indonesia, maka konsumsi BBM harian bisa mencapai angka yang sangat signifikan.
Rata-rata, satu pengemudi menghabiskan sekitar 5 hingga 10 liter BBM per hari. Dengan angka tersebut, total konsumsi nasional dari sektor ini diperkirakan mencapai:
-
35–70 juta liter BBM per hari
-
12,7–25,5 miliar liter BBM per tahun
Besarnya konsumsi ini menjadikan sektor ojol sebagai salah satu penyumbang utama penggunaan BBM bersubsidi. Karena itu, intervensi di sektor ini dinilai akan memberikan dampak cepat dan terukur.
Potensi Penghematan Hingga Rp15 Triliun
Menurut Abra, peralihan sebagian kendaraan ojol ke motor listrik dapat memberikan dampak besar terhadap efisiensi anggaran negara. Bahkan, tanpa perlu konversi penuh, hasilnya sudah cukup signifikan.
Jika sekitar 20% hingga 30% pengemudi beralih ke kendaraan listrik, maka potensi penghematan BBM diperkirakan mencapai:
-
2,5–7,5 miliar liter per tahun
Dengan asumsi subsidi BBM berada di kisaran Rp1.500 hingga Rp2.000 per liter, maka potensi penghematan fiskal dapat mencapai:
-
Rp3,7 triliun hingga Rp15 triliun per tahun
Angka tersebut dinilai mampu mengurangi tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama di tengah fluktuasi harga energi global.
Insentif Jadi Kunci Percepatan
Meski potensinya besar, Abra menilai transisi ke kendaraan listrik tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan kebijakan yang kuat. Pemerintah dinilai perlu menghadirkan insentif yang menarik bagi para pengemudi ojol.
Ia menyebut kisaran insentif sebesar Rp6 juta hingga Rp10 juta per unit masih tergolong realistis untuk mendorong adopsi awal. Selain itu, dukungan pembiayaan juga menjadi faktor penting.
Beberapa skema yang dinilai efektif antara lain:
-
Kredit berbunga rendah
-
Cicilan ringan di bawah Rp500.000 per bulan
-
Program subsidi langsung untuk pembelian motor listrik
Dengan kombinasi tersebut, hambatan biaya awal yang selama ini menjadi kendala utama dapat ditekan.
Dari Subsidi Konsumtif ke Investasi
Lebih jauh, Abra menilai skema ini pada dasarnya merupakan pergeseran paradigma dalam kebijakan energi. Jika sebelumnya subsidi diberikan dalam bentuk konsumsi BBM, kini diarahkan menjadi investasi jangka panjang melalui kendaraan listrik.
Dalam jangka waktu 2 hingga 3 tahun, penghematan subsidi yang dihasilkan diperkirakan sudah mampu menutup biaya insentif yang dikeluarkan pemerintah.
Setelah periode tersebut, negara akan mulai merasakan manfaat bersih atau net saving dari kebijakan tersebut.
Artinya, selain mengurangi beban subsidi, kebijakan ini juga menciptakan efisiensi fiskal yang berkelanjutan.
Dampak Langsung ke Kesejahteraan Driver
Selain berdampak pada keuangan negara, elektrifikasi ojol juga dinilai memberikan manfaat langsung bagi para pengemudi. Kendaraan listrik dikenal memiliki biaya operasional yang lebih rendah dibandingkan kendaraan berbahan bakar minyak.
Beberapa keuntungan yang bisa dirasakan pengemudi antara lain:
-
Biaya energi lebih murah dibanding BBM
-
Perawatan kendaraan lebih sederhana
-
Pengeluaran harian lebih efisien
Dengan biaya operasional yang lebih rendah, margin pendapatan pengemudi berpotensi meningkat. Hal ini pada akhirnya dapat mendorong peningkatan daya beli masyarakat, khususnya di kalangan pekerja sektor informal seperti ojol.
Momentum Transisi Energi Nasional
Elektrifikasi ojek online dinilai bukan sekadar solusi teknis, tetapi juga bagian dari strategi besar menuju transisi energi bersih di Indonesia. Dengan jumlah pengemudi yang besar dan aktivitas harian yang tinggi, sektor ini menjadi titik masuk yang ideal untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik.
Jika dijalankan secara konsisten dan didukung kebijakan yang tepat, langkah ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada BBM, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi energi nasional.
Di tengah tantangan global terkait harga energi dan isu lingkungan, elektrifikasi ojol menjadi peluang konkret yang bisa segera diwujudkan dengan dampak yang luas—baik bagi negara maupun masyarakat. (nsp)
Load more