Viral Sejoli Tidur Berpelukan di Musala Kebumen, PBNU Geram: Kesucian Ruang Ibadah Dilanggar Terang-terangan
Jakarta, tvOnenews.com - Viral di media sosial sejoli tidur berpelukan di sebuah musala di Kawasan Pantai Logending, Kebumen, Jawa Tengah.
Dalam video 1 menit 5 detik yang beredar luas, tampak tiga orang remaja tengah tidur di sebuah musala beralaskan karpet masjid.
Dua di antaranya sejoli yang tampak tidur sambil berpelukan. Tidak hanya tidur berpelukan, mereka juga memakai pakaian yang tidak pantas di tempat ibadah.
Mengetahui aksi tak senonoh tersebut, warga setempat kemudian menyiram ketiga remaja dengan seember air hingga mereka terkejut dan terbangun.
- Istimewa
Video detik-detik sejoli disiram air saat kelonan di dalam musala tersebut, kemudian viral di media sosial.
Menanggapi hal itu Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Ahmad Fahrur Rozi atau Gus Fahrur mangaku prihatin dengan insiden itu.
Gus Fahrur menilai insiden tersebut sebagai alarm keras yang mengindikasikan semakin menipisnya rasa malu dan kepatutan dalam masyarakat.
"Kasus sejoli tidur berduaan di musala yang viral bukan hanya soal pelanggaran norma, ini adalah alarm keras bahwa sebagian masyarakat mulai kehilangan rasa malu dan batas kepantasan," kata Gus Fahrur kepada wartawan, Jumat (3/4/2026).
Ia mengatakan kalua musalah bukan tempat istirahat bebas, apalagiruang untuk bermesraan, tapi tempat sujud.
Menurutnya, ketika kesucian ruang ibadah dilanggar secara terang-terangan, maka yang tercoreng bukan hanya tempatnya, tetapi juga wajah moral masyarakat.
Meski begitu, Gus Fahrur tetap meminta para pelaku diberikan pembinaan jika tidak jelas memenuhi unsur pidana.Â
Para pelaku menurutnya masih memiliki ruang untuk memperbaiki diri dan bertaubat.
Ia mengatakan Islam adalah agama yang menjunjung tinggi keadilan sekaligus kasih sayang.Â
"Dalam banyak ajaran, menutup aib dan memberi ruang taubat lebih diutamakan daripada membuka aib dan mempermalukan. Jika perbuatan tersebut tidak secara jelas memenuhi unsur pidana, maka pendekatan yang lebih utama adalah pembinaan dan peningkatan kualitas keimanan agar tidak terulang," terangnya.
Ia menambahkan, pendekatan pembinaan, edukasi, dan penyadaran seringkali jauh lebih efektif dibandingkan sekadar penghukuman.Â
Load more