Breaking News! Rupiah Terperosok Makin Dalam Siang Ini, Nyaris Rp17.400 per Dolar AS
- Antara
Jakarta, tvOnenews.com - Nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS semakin terpuruk pada perdangan siang ini, Kamis (30/4/2026) seiring mandeknya negosiasi perdamaian antara AS dengan Iran.
Melansir data Bloomberg 12:18 WIB, rupiah tergerus 0,47% ke Rp17.380 per Dolar AS, di tengah penguatan indeks dolar AS sebesar 0,12% yang kembali menyentuh 99,07.
Harga minyak Brent kembali melonjak 6,02% menjadi US$125,14 per barel, menjadi harga termahal sejak Maret 2022.
Kenaikan harga minyak sejak konflik Timur Tengah ini tak cuma dipicu risiko pasokan, tetapi juga kekhawatiran terhadap ongkos angkut, asuransi, dan gangguan rute energi.
Selain tertekan harga minyak mentah, rupiah juga mendapat sentimen negatif dari keputusan bank sentral AS, The Fed, yang menahan suku bunga di tengah ketidakpastian global.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menyatakan berhenti atau kemandekan negosiasi perdamaian antara AS dengan Iran menekan nilai tukar rupiah.
“Harga minyak terus meningkat didorong oleh mandeknya negosiasi perdamaian antara AS dan Iran. Akibatnya, kekhawatiran terhadap inflasi global semakin meningkat, sehingga menekan mata uang Asia, termasuk rupiah,” ucapnya, dikutip Kamis (30/4/2026).
Iran disebut menawarkan proposal baru untuk membuka kembali Selat Hormuz pada pekan ini, namun sebagian besar pihak di Washington skeptis terhadap proposal tersebut karena melibatkan penundaan pembicaraan tentang aktivitas nuklir di Teheran.
Presiden AS Donald Trump sendiri tak senang dengan proposal terbaru Iran yang bertujuan untuk mengakhiri perang. Sumber-sumber Iran mengungkapkan proposal Teheran menghindari pembahasan program nuklir hingga permusuhan berhenti dan sengketa pelayaran di Teluk diselesaikan.
Mengutip Anadolu, harga komoditas juga menunjukkan tren beragam di tengah ketegangan akibat konflik AS dengan Iran yang belum terselesaikan, terutama akibat penutupan Selat Hormuz, sehingga memicu ekspektasi inflasi dan keputusan kebijakan moneter oleh bank sentral AS.
Ketidakpastian atas negosiasi perdamaian, kekhawatiran pasokan, dan biaya energi yang terus tinggi memicu perkiraan peningkatan inflasi global, yang berimplikasi terhadap kemungkinan The Fed dalam mengadopsi pendekatan lebih hati-hati ke depannya.
Sentimen lain berasal dari keputusan Uni Emirat Arab (UAE) menarik diri dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan OPEC+. Keputusan tersebut akan berlaku efektif mulai 1 Mei 2026.
Load more