Di Hadapan Putin, Indonesia Tegaskan ASEAN Tak Mau Terjebak Politik Blok
- Dok. Kemlu
Jakarta, tvOnenews.com — Indonesia menyampaikan pesan tegas di hadapan Rusia dan para pemimpin kawasan bahwa ASEAN tidak ingin terseret dalam rivalitas geopolitik global yang semakin tajam.
Di tengah ketidakpastian dunia, ASEAN menegaskan haknya untuk menentukan sendiri mitra kerja sama tanpa tekanan dari kekuatan mana pun.
Pesan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono saat mewakili Presiden Prabowo Subianto dalam ASEAN-Rusia Summit di Kazan, Rusia, bertepatan dengan peringatan 35 tahun hubungan kemitraan ASEAN dan Rusia.
Menurut Sugiono, peringatan tiga setengah dekade hubungan ASEAN-Rusia tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang sejarah kerja sama, tetapi juga kesempatan untuk merumuskan arah kemitraan di tengah perubahan besar yang sedang terjadi di dunia.
“Tahun ini kita memperingati 35 tahun hubungan ASEAN-Rusia. Selama tiga setengah dekade terakhir, kemitraan kita terus berkembang secara konsisten,” kata Sugiono dalam pidatonya, dikutip Jumat (19/6/2026).
“Peringatan ini bukan sekadar tonggak sejarah untuk dirayakan. Ini juga menjadi kesempatan untuk meninjau kembali perjalanan yang telah kita tempuh sekaligus memikirkan langkah-langkah ke depan yang dapat kita lakukan bersama,” lanjutnya.
Sugiono menegaskan dunia saat ini jauh berbeda dibanding ketika ASEAN dan Rusia pertama kali membangun kemitraan. Konflik yang terjadi di satu kawasan kini dapat dengan cepat memberikan dampak ekonomi dan sosial ke berbagai negara lain.
“Dunia yang dihadapi ASEAN saat ini sangat berbeda dengan dunia ketika kemitraan ini pertama kali dibangun,” tegasnya.
“Saat ini, tidak ada lagi konflik yang benar-benar jauh dari kita. Ketegangan di satu kawasan dapat dengan cepat memengaruhi kehidupan jutaan orang di berbagai belahan dunia,” ujarnya.
Menurut Sugiono, dampak paling nyata dari situasi tersebut terlihat pada terganggunya rantai pasok global, meningkatnya ketidakpastian pangan dan energi, serta tekanan yang dirasakan langsung oleh masyarakat kecil.
“Rantai pasok global mengalami gangguan. Sistem pangan dan energi menghadapi ketidakpastian yang terus berlanjut. Dan yang paling merasakan dampaknya adalah para petani, pekerja, serta pelaku usaha kecil,” lugas Sugiono.
Di tengah tantangan tersebut, ASEAN disebut terus memperkuat fondasi ketahanannya melalui investasi pada sektor pangan, energi, dan rantai pasok. Namun, Sugiono menegaskan bahwa penguatan kawasan tidak dapat dilakukan dengan menutup diri dari dunia luar.
“Di seluruh kawasan ASEAN, kami terus berinvestasi untuk memperkuat ketahanan, memperbaiki rantai pasok, dan mempercepat transisi energi,” ujar dia.
“Untuk menjaga upaya tersebut tetap berjalan, ASEAN tentu tidak bisa bersikap tertutup. Ketahanan kami justru diperkuat oleh kualitas kemitraan dengan berbagai pihak di luar kawasan,” katanya.
Karena itu, Sugiono menegaskan salah satu prinsip paling penting bagi ASEAN adalah kebebasan dalam menentukan mitra kerja sama. Pernyataan ini menjadi sorotan di tengah meningkatnya persaingan pengaruh antara berbagai kekuatan besar dunia.
“Karena itu, hak untuk menentukan sendiri mitra kerja sama kami merupakan hal yang sangat penting,” ungkap Sugiono.
“Kami menjalin hubungan dengan semua mitra berdasarkan prinsip saling menghormati, saling menguntungkan, dan bebas dari politik blok,” tegasnya.
Menurut Sugiono, seluruh prinsip tersebut pada akhirnya harus bermuara pada kepentingan masyarakat ASEAN yang kini berjumlah sekitar 670 juta jiwa.
“Prinsip-prinsip ini harus mampu memberikan manfaat nyata bagi 670 juta penduduk ASEAN,” tandas dia. (agr/ree)
Load more