BGN Fokuskan Pembangunan Dapur Gizi di 312 Wilayah dengan Angka Stunting Tinggi
- tvOnenews.com/Syifa Aulia
Jakarta, tvOnenews.com - Badan Gizi Nasional (BGN) tengah mempercepat pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai motor utama Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Langkah ini difokuskan pada wilayah dengan prevalensi stunting yang signifikan guna mengatasi masalah kekurangan kalori dan protein yang melanda sekitar 116 juta penduduk Indonesia, khususnya di kalangan ekonomi bawah.
Kepala BGN, Sudaryono, menjelaskan bahwa prioritas penempatan dapur gizi akan disesuaikan dengan peta kerawanan stunting nasional, di mana terdapat 92 kabupaten/kota berkategori sangat tinggi dan 220 daerah berkategori tinggi.
"Jadi nanti ada beberapa dapur MBG atau SPPG ini kita lihat yang tinggi dan sangat tinggi stuntingnya, kemudian kita lihat sudah ada atau belum dapur di situ, kalau ada, segera kita aktivasi, kalau belum dan lain-lain, kita fokus ke situ dulu sambil menata yang memang sudah bagus. Yang bagus kita teruskan, kemudian yang lain-lain kita perbaiki," ungkap Sudaryono dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (29/7).
Untuk memastikan program ini tidak salah sasaran, pemerintah mengintegrasikan data by name by address melalui Nomor Induk Kependudukan (NIK).
Dengan data ini, pemerintah dapat memantau setiap penerima manfaat, mulai dari balita, siswa sekolah, hingga ibu hamil.
"Jadi lewat NIK itu kita bisa tahu dan cek, balita ini misalnya dapat MBG atau enggak, stunting atau enggak dia, datanya ada di Kemenkes kemudian ini kita crossed (integrasikan) data antarlembaga, sehingga kita bisa tahu anak sekolah SD, SMP, SMA, balita, ibu hamil ini ada di mana, kondisi kesehatannya seperti apa, dapat MBG apa tidak, setelah dapat MBG lebih baik apa tidak?" jelasnya.
Selain pemberian makanan, efektivitas program ini akan dipantau melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dilakukan secara rutin bersama Kementerian Kesehatan.
Sudaryono berharap program ini memberikan dampak nyata bagi perbaikan gizi masyarakat secara berkelanjutan.
"Ada CKG, maka untuk anak-anak balita, ibu hamil, sama anak-anak sekolah bukan hanya sekali, kami mengusulkan ada pengecekan kesehatan gratis ini dilakukan lebih dari sekali, sehingga program itu selalu mengandung output, outcome, dan impact atau dampak. Kalau output-nya makanan bagus, jumlah sesuai, gizinya bagus, lengkap kandungan gizi, maka kita harapkan akan menghasilkan outcome yang bagus. Anak-anak yang tadinya stunting jadi tidak stunting, yang tadinya sakit jadi sehat, yang tadinya kurus bisa jadi normal," ujar Sudaryono. (ant/dpi)
Load more