Piala Dunia 2026: Austria, Wales hingga Italia Sudah Merasakan Ganasnya Bosnia, Kanada Berikutnya?
- REUTERS/Matteo Ciambelli
Jakarta, tvOnenews.com – Kanada memiliki alasan kuat untuk berhati-hati menghadapi Bosnia dan Herzegovina dalam pertandingan pertama Grup B Piala Dunia 2026 yang akan dimainkan di Toronto Stadium, Toronto, pada Sabtu dini hari, 13 Juni.
Sebagaimana tim-tim Balkan pecahan Yugoslavia lainnya, Bosnia memiliki kekuatan teknik dan fisik yang membuat mereka sulit dikalahkan maupun ditembus lawan.
Di sisi lain, mereka juga dikenal sangat klinis, mampu memaksimalkan peluang sekecil apa pun menjadi ancaman nyata.
Bosnia memastikan tiket ke Piala Dunia 2026 melalui jalan berliku. Mereka gagal lolos otomatis dari grup kualifikasi zona Eropa setelah hanya bermain imbang melawan Austria dalam laga penentuan.
Hasil itu membuat Bosnia harus berjuang lewat babak playoff. Namun Hebatnya, di fase inilah mereka menunjukkan kualitasnya dengan menyingkirkan Wales dan secara mengejutkan mengalahkan juara dunia empat kali, Italia.
Dengan pencapaian semacam itu, kendati menjadi tim dengan peringkat FIFA paling rendah di Grup B, Bosnia tak bisa diremehkan oleh Kanada, yang selalu kalah dalam dua Piala Dunia sebelumnya, termasuk Piala Dunia 2022 saat ditangani John Herdman yang kini melatih Indonesia.
Filosofi bermain Bosnia berpijak pada permainan langsung, fisikal, dan sekaligus emosional. Sikap bermain seperti itu berakar kuat dari spirit orang Bosnia yang tahan menghadapi tantangan hidup, dengan keyakinan bahwa ketangguhan dan kecemerlangan seseorang justru ditempa oleh kesulitan yang dihadapinya.
Mentalitas semacam itu pula yang membuat Bosnia menjadi lawan yang sulit ditaklukkan. Austria, Wales, hingga Italia merasakan sendiri kerasnya perlawanan tim ini.
Meski secara tradisi dan prestasi masih berada di bawah Kroasia sebagai kekuatan utama Balkan, Bosnia tetap memiliki daya saing yang membuat tim-tim besar kesulitan mengalahkan mereka.
Walau relatif baru mengikuti Piala Dunia, negara yang merdeka pada 1992 dari negeri yang dulu disebut Yugoslavia itu sering bertarung seperti tim yang telah lama mengenal atmosfer turnamen besar seperti Piala Dunia.
Mereka tidak inferior, pun tak pernah langsung terpuruk, bahkan ketika lawan mencetak gol lebih dulu atau menghadapi lawan yang jauh lebih kuat.
Bersama pemain veteran seperti Edin Dzeko dan Sead Kolasinac serta darah muda seperti Kerim Alajbegovic, Esmir Bajraktarevic, Tarik Muharemovic dan Amar Dedicseperti, Bosnia memiliki daya tahan tinggi dan keyakinan bahwa siapa pun bisa mereka kalahkan.
Italia menjadi bukti paling nyata. Tim juara dunia empat kali itu menjadi korban terbesar Bosnia di babak playoff, padahal Kanada sebelumnya telah bersiap menghadapi Italia sebagai lawan pertama mereka di Piala Dunia 2026.
Sama kuat
Tetapi juga akan salah jika tim asuhan Sergej Barbarez menganggap Kanada lebih mudah dari Italia, apalagi tim asuhan Jesse Marsch itu tampil di depan pendukung sendiri.
Filosofi sepak bola modern Kanada sendiri dibangun dalam identitas tim yang selalu berusaha mendominasi lapangan dengan kekompakan, permainan yang agresif, tak henti menekan, dan berbekal pada persiapan laga yang mengandalkan data.
Sejak menukangi Kanada setelah malang melintang di level klub, termasuk bersama Leeds United dan RB Leipzig, Jesse Marsch telah membangun tim Kanada yang bermain sesuai dengan filosofi itu.
Para pemain Kanada bermain dengan intensitas tinggi, menekan lawan secara agresif untuk menguasai bola sekaligus mengendalikan ruang permainan.
Ketika kehilangan penguasaan, mereka berupaya merebut bola kembali secepat mungkin sehingga ruang gerak lawan menyempit dan peluang untuk menciptakan kesempatan gol menjadi sangat terbatas.
Walau terlihat mengandalkan team-work, tetap saja Marsch akan sangat mengandalkan pemain Bayern Muenchen Alphonso Davies, Jonathan David yang menjadi anggota lini serang Juventus, dan gelandang Tajon Buchanan yang bermain untuk Villareal.
Namun Kanada saat ini harap-harap cemas karena Davies tengah berjuang melawan cedera sehingga Marsch mungkin akan terpaksa tak menurunkannya menghadapi Bosnia.
Tapi Marsch tak akan mengeluhkan keadaan ini, apalagi belakangan ini Kanada telah bertarung sebagai tim yang kompak yang tak tergantung pada satu pemain, sehingga sulit dikalahkan lawan.
Buktinya bisa dilihat dari enam pertandingan terakhir mereka melawan Venezuela, Guatemala, Islandia, Tunisia, Uzbeksitan, dan Irlandia.
Mereka tak pernah kalah dalam enam laga itu, bahkan mengalahkan Venezuela, Guatemala, dan Uzbekistan.
Masalahnya, catatan serupa juga digenggam Bosnia. Bahkan pasukan Sergej Barbarez sebagian besar melakukan hal itu dalam laga-laga kompetitif.
Mereka seri melawan Panama dan Makedonia Utara dalam laga persahabatan serta Austria pada kualifikasi Piala Dunia 2026.
Tiga pertandingan lain yang juga dalam kualifikasi Piala Dunia melawan Rumania, Wales dan Italia, berhasil mereka menangkan, walau dua di antaranya ditentukan dari adu penalti.
Load more