Prancis vs Senegal di Grup I Piala Dunia 2026: Akankah Kemenangan 2002 Terulang Lagi?
- FFF
Jakarta, tvOnenews.com – Prancis mulai hadir di Senegal pada 1659 dan secara bertahap menjadikannya koloni hingga berada sepenuhnya di bawah kekuasaan kolonial pada abad ke-19. Senegal kemudian memperoleh kemerdekaan pada 4 April 1960.
Sebelum merdeka, wilayah Senegal merupakan bagian dari Imperium Prancis. Karena itu, dalam catatan sejarah FIFA, Senegal dianggap turut berada dalam entitas politik yang mewakili Prancis saat lima edisi pertama Piala Dunia digelar, yakni dari 1930 hingga 1954.
Empat puluh dua tahun setelah memperoleh kemerdekaan, Senegal melakukan debut Piala Dunia 2002, ketika Jepang dan Korea Selatan menjadi tuan rumah. Mereka langsung menggebrak untuk mengakhiri Piala Dunia perdananya dengan status perempat finalis.
Piala Dunia 2026 adalah Piala Dunia keempat yang diikuti Senegal dan ketiga berturut-turut sejak 2018 dan 2022 ketika mereka finis pada babak 16 besar. Juara Afrika 2021 dan runner up Piala Afrika 2002, 2019, dan 2025 ini memiliki kaitan emosi dan budaya yang kuat dengan Prancis.
Hal itu terjadi bukan saja karena Senegal bekas jajahan Prancis dan salah satu anggota Persemakmuran Prancis atau La Francophonie, tapi juga karena banyak pemain Senegal memiliki jejak Prancis. Sepuluh dari 26 pemain Senegal lahir di Prancis, bahkan semua dari tiga penjaga gawang mereka, termasuk kiper utama Edouard Mendy.
Seluruh dari 26 pemain Senegal itu bermain di klub-klub luar Senegal, yang sebagian besar di Eropa di mana Liga Inggris dan Liga Prancis menjadi penyumbang terbesar bagi skuad Lion Teranga.
Uniknya, Prancis tak jauh-jauh dari Afrika, karena 10 dari 26 pemain Les Blues memiliki darah Afrika, termasuk N'Golo Kante, Aurelien Tchouameni, Ousmane Dembele, Kylian Mbappe, Rayan Cherki, dan Michael Olise.
Bahkan, salah satu dari tiga penjaga gawang mereka, Brice Bamba, dilahirkan di Kongo. Uniknya, akar Prancis juga merambat ke tim-tim selain Senegal. Total 75 pemain kelahiran Prancis bermain dalam Piala Dunia 2026, dengan proporsi terbesar membela Senegal, Aljazair, Haiti, dan Kongo, yang semuanya bekas jajahan Prancis.
Namun, hanya Prancis yang paling sering mengikuti Piala Dunia, bahkan dua kali menjuarainya pada 1998 dan 2018, serta runner-up pada 2006 dan 2022. Apakah mereka akan tetap kuat ketika menghadapi Senegal nanti, masih menjadi pertanyaan.
Hal itu karena dalam satu-satunya pertemuan dengan Senegal sebelum ini, pada fase grup Piala Dunia 2002 pada 31 Mei, Prancis menyerah 0-1. Prancis juga menjadi tim yang kalah dalam pertandingan fase grup saat menghadapi tim-tim Afrika dalam tiga dari empat Piala Dunia terakhir.
Dua tim Afrika lain yang menumbangkan Prancis adalah Afrika Selatan pada 2010 dan Tunisia pada 2022. Itu bisa menghantui Prancis, tapi kenangan pahit Piala Dunia 2002 adalah mungkin yang paling dikenang mereka.
Tahun itu gol semata wayang Papa Bouba Diop membawa Senegal menumbangkan Prancis yang diperkuat trio bomber jaminan gol, yakni Thierry Henry, David Trezeguet dan Djibril Cisse.
Saat itu Prancis mendominasi laga dengan penguasaan dan penciptaan peluang gol yang superior atas Senegal. Tetapi tetap saja kalah. Senegal tampaknya akan memperlakukan laga ini dengan rujukan sukses 2002.
Mereka akan tetap bermain dalam nafas filosofi permainan yang mengandalkan organisasi pertahanan yang kuat dan transisi menyerang yang cepat nan presesi.
Hal itu pula yang menjadi fondasi sukses Senegal belakangan tahun ini, sampai mereka menjuarai Piala Afrika 2025, sebelum predikat itu dicabut karena insiden walk out dalam final yang membuat trofi juara kemudian diserahkan kepada Maroko.
Sejak debut pada Piala Dunia 2002, Senegal terus berkembang menjadi tim yang kuat yang konsisten memadukan keterampilan, kecepatan, dan kecerdasan taktis. Prancis pantas waspada menghadapi tim yang dikapteni Kalidou Koulibaly itu.
Filosofi sepak bola Prancis sendiri memadukan teknik tingkat tinggi dengan kemampuan taktik yang adaptif, keprimaan fisik, dan ruang lapang kepada semua pemain untuk mengekspresikan kelebihan mereka.
Les Bleus harus awas menghadapi lawan yang memprioritaskan adu fisik, pressing tinggi, dan transisi dari bertahan ke menyerang yang cepat, dengan cara memasang tiga atau lima gelandang dalam formasi 4-3-3 dan 4-2-3-1.
Tapi Pape Thiaw, yang menjadi pemain yang tak diturunkan saat Senegal menggebuk Prancis 1-0 pada Piala Dunia 2002, tak akan membiarkan Senegal langsung kalah dalam laga pertamanya di Grup I Piala Dunia 2026. Ia akan berusaha menularkan spirit 2002 kepada pemain-pemain Senegal.
Load more