MU Murka! Kritik Pedas Legenda di Podcast Picu Konflik, Carrick Justru Bungkam dan Menang 2-0
- instagram manutd
tvOnenews.com - Perselisihan antara fans Manchester United dan para mantan pemain klub kembali memanas. Kali ini, sumber kegaduhan datang dari maraknya podcast yang dibawakan legenda Setan Merah.
Banyak pendukung mulai merasa lelah dengan kritik pedas yang terus diarahkan ke pemain aktif, sementara persoalan besar klub justru jarang disentuh secara jujur.
Sebagian fans menilai, mantan pemain akan jauh lebih dihormati jika menggunakan panggung podcast untuk membongkar masalah sebenarnya di Old Trafford.
Kritik tajam yang terkesan mencari sensasi dinilai hanya memperlebar jarak emosional antara legenda klub dan basis pendukungnya, terlebih ketika disampaikan tanpa empati terhadap situasi tim saat ini.
Budaya Podcast Legenda MU dan Retaknya Hubungan dengan Fans
Melansir dari Manchester Evening News, fenomena podcast menjadi medan konflik baru antara Manchester United modern dan para pahlawan masa lalunya.
Nama Gary Neville kembali terseret, bukan karena pernyataan langsung, melainkan karena sindiran yang muncul dalam konferensi pers Ruben Amorim.
Meski tidak disebutkan secara eksplisit, publik tahu arah kritik tersebut mengacu pada figur-figur vokal di media.

- instagram Gary Neville
Seiring waktu, podcast yang awalnya dinilai segar dan menghibur kini mulai dianggap menjengkelkan oleh sebagian fans. Format yang santai dan bebas sering melahirkan komentar hiperbolis demi potongan viral di media sosial.
Perseteruan verbal antara Lisandro Martinez dengan Nicky Butt dan Paul Scholes menjadi contoh paling nyata dalam beberapa hari terakhir.
Komentar Martinez pascakemenangan derby sempat dianggap akan menutup polemik. Namun, situasi justru memanas ketika Butt dan Scholes membahasnya kembali dalam episode terbaru The Good, The Bad & The Football.
Butt mengecam Martinez karena berani membalas komentar soal Erling Haaland yang disebut akan “mengintimidasinya” di Old Trafford.
Butt kemudian berdalih bahwa pernyataan tersebut hanyalah candaan khas podcast, sesuatu yang tak mungkin diucapkan di televisi. Masalahnya, bagi fans, candaan itu dinilai meremehkan pemain sendiri. Apalagi, secara fakta, Martinez beberapa kali tampil solid saat menghadapi Haaland di masa lalu.
Ketika Martinez merespons dengan nada tegas, Butt justru menyuruhnya untuk “bersikap dewasa”. Scholes memang terdengar lebih tenang, tetapi reaksi publik jelas berpihak pada sang bek Argentina.
Fans MU: Kritik Pemain Mudah, Masalah Besar Klub Diabaikan
Kekecewaan terhadap legenda klub yang kini menjadi komentator semakin menguat. Sofa podcast, studio radio, hingga kursi analis dipenuhi mantan juara Old Trafford yang berlomba menciptakan pernyataan kontroversial. Namun, fans menilai arah kritik sering salah sasaran.
Para pendukung percaya, sosok seperti Butt dan Scholes akan jauh lebih dihormati jika berani mengalihkan fokus ke akar persoalan Manchester United: kepemilikan klub.
Rezim keluarga Glazer yang dinilai menghambat kemajuan klub, ditambah keputusan-keputusan kontroversial di era Sir Jim Ratcliffe, dianggap jauh lebih merusak daripada perdebatan soal postur tubuh Martinez menghadapi Haaland.
Sayangnya, topik ini kerap dihindari. Kritik terhadap pemilik hanya muncul sesekali, seperti saat polemik Liga Super Eropa. Selebihnya, lebih mudah menyerang pemain yang masih aktif dan berada di bawah tekanan.
Ironisnya, Scholes sendiri pernah mengatakan pada 2023 bahwa Glazer selalu mendukung setiap manajer, pandangan yang dianggap terlalu menyederhanakan kompleksitas masalah klub.
Butt pun pernah mengaku “muak dengan orang-orang di atas” sebelum akhirnya meninggalkan perannya di United. Namun, pernyataan-pernyataan tersebut jarang ditindaklanjuti dengan kritik berkelanjutan.
Michael Carrick, Diam-Diam Menjawab dengan Kemenangan
Di tengah hiruk-pikuk kritik dan drama podcast, Michael Carrick justru memilih jalan berbeda. Tanpa banyak komentar di media, ia menjalani debutnya sebagai pelatih Manchester United dengan hasil nyata: kemenangan 2-0 atas Manchester City.
Hasil tersebut menjadi kontras mencolok. Saat legenda klub sibuk berdebat di ruang podcast, Carrick menjawab dengan ketenangan di pinggir lapangan.
Kemenangan derby itu memberi harapan baru, sekaligus pengingat bahwa solusi tak selalu datang dari kritik keras, melainkan dari kerja senyap dan fokus.
Bagi banyak fans, Carrick mewakili sikap yang mereka rindukan dari para mantan pemain: memahami situasi klub, menjaga martabat internal, dan berbicara seperlunya.
Di tengah rencana protes lanjutan terhadap kepemilikan klub, pesan dari tribun semakin jelas, kritik boleh keras, tetapi kejujuran dan empati jauh lebih berharga. (udn)
Load more