Ogah Kambinghitamkan VAR, Sikap Berkelas Pemain AC Milan Usai Keok dari Parma: Menyakitkan, tapi Kita Harus Bangkit
- REUTERS/Daniele Mascolo
Jakarta, tvOnenews.com - Kekalahan dari Parma meninggalkan rasa pahit bagi AC Milan, bukan hanya karena skor 0-1 yang tercatat di papan, tetapi juga karena rekor panjang tak terkalahkan akhirnya terhenti. Di tengah suasana muram San Siro, Matteo Gabbia menjadi salah satu sosok yang merasakan luka itu paling dalam.
Bek asal Italia tersebut sejatinya diproyeksikan tampil sejak menit awal. Namun, cedera otot yang muncul saat pemanasan memaksanya menepi dan hanya menyaksikan rekan-rekannya berjuang dari bangku cadangan.
Dari tepi lapangan, Gabbia melihat bagaimana Milan berusaha mengontrol permainan. Ia juga menyaksikan momen krusial ketika gol Parma disahkan setelah melalui tinjauan VAR yang memicu perdebatan.
Hasil akhir terasa semakin berat karena datang pada momen penting musim ini. Peluang menjaga jarak dari para pesaing pun ikut melayang bersama peluit panjang yang menutup laga.
Bagi Gabbia, malam itu seperti rangkaian kejadian yang tak berjalan sesuai harapan. “Malam ini tidak dimulai dengan baik dan berakhir dengan kekalahan, dan itulah hal yang paling menyakitkan,” ujarnya dengan nada kecewa, dilansir dari Sky Sports.
Ia tak hanya berbicara soal hasil pertandingan. Bek berusia 26 tahun itu juga menyempatkan diri mengirim dukungan untuk rekan setimnya, Ruben Loftus-Cheek, yang tengah mengalami masa sulit.
“Saya, seperti seluruh tim, ingin mengirimkan doa terbaik untuk Ruben karena dia sangat penting bagi kami dan dia adalah sosok yang luar biasa,” kata Gabbia. Ia menambahkan bahwa ruang ganti Milan berdiri bersama sang gelandang dan berharap ia segera kembali.
Terkait kontroversi gol Parma, Gabbia memilih bersikap tenang. Ia tidak ingin timnya larut dalam perdebatan yang justru bisa mengganggu fokus.
“Kami kecewa dengan pertandingan ini, dengan kekalahan yang terjadi. Kami harus tetap jernih dan tidak membiarkan situasi seperti ini memengaruhi kami,” katanya.
Menurutnya, wasit telah berusaha mengambil keputusan terbaik di lapangan. Ia menyadari bahwa tidak semua situasi mudah diputuskan dalam waktu singkat.
“Wasit ada di lapangan untuk melakukan yang terbaik, mereka harus mengambil keputusan, dan situasinya tidak selalu mudah,” jelasnya. “Kami tidak boleh membuang energi untuk hal-hal seperti ini.”
Sikap dewasa itu mencerminkan tekad Milan untuk segera bangkit. Gabbia menilai, menghabiskan waktu memperdebatkan keputusan tidak akan mengubah hasil yang sudah terjadi.
Sebaliknya, fokus harus diarahkan pada respons di pertandingan berikutnya. Milan dituntut menunjukkan karakter dan mentalitas jika ingin tetap berada di jalur persaingan papan atas.
Kekalahan ini memang menyakitkan, tetapi musim belum berakhir. Bagi Gabbia dan rekan-rekannya, yang terpenting kini adalah menjawab kekecewaan dengan performa yang lebih tajam dan solid pada laga selanjutnya.
(sub)
Load more