Top Round 4: Media Thailand Sebut Timnas Indonesia Harapan Asia Meski Gagal ke Piala Dunia, Tak Ada Angin FIFA Beri Kabar Gembira, Media Vietnam Makin Muak Skuad Garuda Sudah Jelas Gagal
- AFC
tvOnenews.com - Mimpi besar Timnas Indonesia untuk tampil di Piala Dunia 2026 resmi kandas. Harapan itu pupus setelah skuad Garuda menelan dua kekalahan beruntun di Putaran Keempat Kualifikasi Zona Asia.
Setelah lebih dulu kalah 2-3 dari Arab Saudi, pasukan Patrick Kluivert kembali tumbang 0-1 dari Irak di King Abdullah Sports City, Jeddah, Minggu (12/10/2025). Gol semata wayang Zidane Iqbal di menit ke-75 memastikan Indonesia terbenam di dasar klasemen Grup B dan gagal melaju ke putaran berikutnya.
Kekalahan tragis ini tak hanya memupus mimpi, tapi juga memicu gelombang kritik dari publik dan media nasional. Tagar #KluivertOut bahkan memuncaki trending topic X, disertai desakan agar PSSI segera melakukan evaluasi besar-besaran, termasuk kemungkinan memanggil kembali Shin Tae-yong sebagai pelatih kepala.
Meski hasil akhir menyakitkan, kiprah Indonesia sejatinya tetap menarik perhatian publik internasional. Sebab, dari seluruh wakil Asia Tenggara, hanya Garuda yang mampu menembus putaran keempat kualifikasi sebuah capaian yang belum pernah dicapai Thailand atau Vietnam dalam edisi kali ini.
Namun, kegagalan di ujung jalan membuat perjalanan heroik itu berakhir dengan getir. Berikut tiga artikel terpopuler soal Timnas Indonesia usai gagal lolos ke Piala Dunia 2026:
1. Media Thailand: Indonesia Tetap Harapan Terakhir ASEAN
Kekalahan dari Irak menjadi akhir perjalanan pahit bagi skuad Garuda, namun di balik itu ada apresiasi besar dari media kawasan. Portal olahraga Ball Thai menulis bahwa Timnas Indonesia adalah satu-satunya harapan sepak bola Asia Tenggara di Piala Dunia 2026.
- AFC
“Dulu jika berbicara sepakbola ASEAN di pentas besar seperti Piala Dunia, harapan akan tertuju kepada Thailand dan Vietnam. Indonesia kala itu masih banyak masalah, asosiasi bermasalah, liga kisruh, pelatih gonta-ganti, tidak pernah ada stabilitas,” tulis Ball Thai.
Media tersebut juga menyoroti betapa cepatnya situasi berubah. “Tahun ini Thailand dan Vietnam sudah tersingkir dari kualifikasi,” lanjut laporan mereka.
Oleh sebab itu, perjuangan Indonesia di putaran keempat dianggap sebagai kebanggaan tersendiri bagi kawasan.
“Kini, perwakilan ASEAN hanya Indonesia yang masih bisa meraih tiket ke Piala Dunia,” lanjut Ball Thai. Media itu menutup dengan harapan agar Indonesia tetap melanjutkan pembangunan sepak bola yang stabil dan menjadi contoh baru di Asia Tenggara.
2. Kabar Mengejutkan dari FIFA: Peringkat Indonesia Naik Lagi
Meski gagal ke Piala Dunia 2026, skuad Garuda ternyata mendapat kabar gembira dari FIFA. Berdasarkan laporan Football-Ranking, Indonesia naik satu peringkat ke posisi 122 dunia, meski sebelumnya sempat turun akibat dua kekalahan.
- AFC
Kekalahan 2-3 dari Arab Saudi membuat Indonesia kehilangan 6,68 poin, sementara kekalahan 0-1 dari Irak membuatnya kehilangan 6,53 poin. Hasil itu menurunkan peringkat Indonesia ke posisi 123 dunia per 13 Oktober 2025.
Namun, pada Selasa (14/10/2025), situasi berubah setelah Azerbaijan kalah 1-2 dari Ukraina dalam Kualifikasi Zona Eropa. Kekalahan itu membuat Azerbaijan kehilangan 4,37 poin dan turun ke posisi 123 dunia, sementara Indonesia naik ke posisi 122 dengan 1144,73 poin*.
Meski kenaikannya bersifat “karambol” akibat hasil negara lain, perubahan ini tetap dianggap sebagai kabar positif di tengah suasana duka.
“Meski gagal lolos ke Piala Dunia, Timnas Indonesia setidaknya tidak menjadi tim paling sial bulan ini.”
Kendati begitu, penurunan total poin tetap menjadi refleksi penting bagi PSSI dan Patrick Kluivert. Dua kekalahan beruntun di putaran keempat menunjukkan bahwa skuad Garuda perlu peningkatan signifikan — baik dalam hal fisik, rotasi pemain, maupun strategi melawan tim elite Asia seperti Arab Saudi dan Irak.
3. Media Vietnam: Geram dengan Isu Park Hang-seo ke Indonesia
Berbeda dengan Thailand yang memuji, media Vietnam justru menyoroti kegagalan Indonesia dengan nada sinis. Portal Soha.vn menulis bahwa kegagalan Garuda dianggap sebagai bukti bahwa strategi naturalisasi dan pergantian pelatih belum efektif.
“Dua kekalahan beruntun membuat tim nasional kandas di Piala Dunia, meskipun telah menerapkan kebijakan naturalisasi sejumlah pemain kelahiran Belanda,” tulis media tersebut.
Namun, yang membuat media Vietnam makin geram bukan hanya kegagalan itu, melainkan rumor bahwa mantan pelatih Vietnam, Park Hang-seo, kini disebut-sebut menjadi kandidat kuat untuk menggantikan Patrick Kluivert. “Pakar Indonesia ingin Tuan Park Hang-seo menggantikan Kluivert,” tulis Soha.
- Instagram @iraqnt_en
Mereka menyebut, tekanan terhadap PSSI semakin berat karena publik menuntut perubahan.
“Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI) sedang menghadapi tekanan berat setelah kegagalan di babak keempat kualifikasi,” lanjut Soha.
Salah satu pakar Indonesia, Supriyon, bahkan menilai Park Hang-seo cocok untuk memimpin Indonesia karena sudah memahami karakter sepak bola ASEAN dan pernah membawa Vietnam juara Piala AFF 2018, meraih emas SEA Games 2019 & 2021, serta melaju jauh di Piala Asia 2019.
Isu ini memantik reaksi keras dari media Vietnam yang menganggapnya sebagai bentuk “pengkhianatan emosional” karena Park selama ini menjadi ikon sepak bola negeri itu. Mereka menilai Indonesia sebaiknya mencari solusi internal ketimbang terus berganti pelatih asing.
Meski gagal menembus Piala Dunia 2026, perjalanan Timnas Indonesia di babak kualifikasi menjadi cerminan kemajuan signifikan dalam sepak bola nasional. Di tengah kritik tajam dan sorotan publik, Indonesia tetap menjadi satu-satunya wakil ASEAN yang menembus putaran keempat.
Pujian dari media Thailand, kenaikan ranking FIFA, hingga kontroversi dari Vietnam menunjukkan betapa besarnya perhatian terhadap langkah Garuda di kancah internasional.
Kini, semua mata tertuju pada langkah PSSI berikutnya: apakah tetap mempercayai Patrick Kluivert atau mencari pelatih baru yang mampu membawa Indonesia ke level berikutnya.
Yang pasti, kegagalan ini bukan akhir perjalanan, melainkan awal dari proses panjang menuju kejayaan sepak bola Indonesia di masa depan. (udn)
Load more