Museum ITB, Ruang Baru untuk Membaca Masa Lalu dan Merajut Masa Depan
- Antara
“Selama ini kita belajar hanya dalam kelas saja. Dengan adanya museum ini, siswa-siswa dari SD, SMP, SMA bisa belajar dengan melihat praktisnya, contoh praktisnya,” ujarnya.
Ia memberi contoh sederhana: konsep gaya dalam ilmu fisika atau teknik. Di kelas, gaya bisa terasa abstrak. Namun, di museum, konsep itu dapat dihubungkan dengan jembatan, beban, struktur, atau simulasi visual.
“Katakanlah orang belajar gaya. Gaya itu apa? Gaya yang terjadi dalam jembatan itu apa yang harus dihitung? Apa yang terjadi jika bebannya terlalu berat? Mereka bisa melihat film-filmnya sehingga mereka merasa mendapatkan contoh nyata,” kata Dermawan.
Di titik ini, Museum ITB mengambil posisi sebagai jembatan antara teori dan pengalaman. Ia tidak menggantikan kelas, tetapi memperluas cara belajar. Ia menumbuhkan imajinasi teknis, bukan hanya ingatan historis.
Dermawan kemudian membawa gagasan itu ke wilayah yang lebih luas: rasa percaya diri bangsa.
“Nilai pertama adalah bahwa kita bukan bangsa yang lebih rendah dari bangsa lain. Kita memiliki competitiveness dari segi kemampuan. Karena itu kita ingin membuat generasi berikutnya memiliki daya juang yang tinggi, tidak minder, memiliki kemampuan kompetisi yang bagus, dan juga fairness,” ujarnya.
Pernyataan ini menjadi salah satu inti narasi Museum ITB. Museum tidak hanya menyampaikan apa yang pernah dicapai ITB, tetapi juga membisikkan kepada generasi muda bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi bukan wilayah yang jauh. Ia bisa dipelajari, disentuh, dipahami, dan dilanjutkan.
Gotong Royong Alumni dan Para Donatur
Museum ITB juga menjadi cerita tentang gotong royong. Dalam sambutannya, Tatacipta berulang kali menyebut dukungan para donatur, alumni, dan keluarga besar ITB. Ia secara khusus menyapa tokoh-tokoh yang hadir, termasuk Sinta Nuriyah Wahid, Fadli Zon, Dato’ Low Tuck Kwong, Purnomo Yusgiantoro, keluarga Medco, keluarga Paragon, Yani Panigoro, dan Nyoman Nuarta.
“Terima kasih sekali kepada semua pihak yang telah membantu memberikan kepercayaan, donasi, kontribusi kepada perwujudan museum ini,” ujar Tatacipta.
Secara resmi, ITB sebelumnya juga mencatat adanya kerja sama dengan Purnomo Yusgiantoro Center dan Dato’ Dr. Low Tuck Kwong terkait donasi renovasi Museum ITB. Kerja sama itu ditandatangani pada 14 November 2025, dan disaksikan antara lain oleh Prof. Purnomo Yusgiantoro serta perwakilan Dato’ Low Tuck Kwong. Dermawan menyebut dukungan alumni sebagai salah satu energi utama museum.
Load more