Tradisi Makan Bandeng Bersama di Tambak, Cara Warga Pesisir Pantura Pati Sambut Ramadhan
- Tim tvOne - Abdul Rohim
Pati, tvOnenews.com – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, warga Desa Ketitangwetan, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, menggelar tradisi makan bersama di area tambak.
Tradisi turun-temurun ini menjadi simbol rasa syukur sekaligus ajang mempererat silaturahmi sebelum menjalankan ibadah puasa.
Kegiatan yang berlangsung di kawasan tambak milik warga itu diikuti puluhan masyarakat pesisir. Sejumlah warga tampak menjaring ikan bandeng hasil panen, lalu memasukkannya ke dalam karung untuk kemudian diolah bersama.
Ikan bandeng segar yang baru diangkat dari tambak menjadi menu utama dalam tradisi tersebut.
Sebagian dimasak menjadi kuah bandeng pedas khas pesisir, sementara sebagian lainnya dibakar di gubuk sederhana di tengah tambak.
Aroma bandeng bakar dan kuah gurih yang mengepul menambah hangat suasana kebersamaan.
Warga bergotong royong membersihkan ikan, menyiapkan bumbu, memasak, hingga menyajikan hidangan untuk disantap bersama di tepi tambak. Suasana akrab dan penuh canda tampak mewarnai kegiatan tersebut.
Kepala Desa Ketitangwetan, Ali Muntoha, mengatakan tradisi makan bersama di tambak merupakan warisan leluhur masyarakat pesisir Pantura yang terus dijaga hingga kini.
“Ini merupakan tradisi masyarakat Ketitangwetan jelang bulan suci Ramadhan. Kita mengadakan masak-masak dan makan-makan bandeng di tambak dari hasil bumi masyarakat Ketitangwetan.” Kata Ali Muntoha, Rabu (18/2/2026).
“Tradisi ini turun temurun dari dulu hingga sekarang kita adakan menjelang Ramadhan. Selain sebagai wujud syukur atas hasil panen dan rezeki selama setahun, ini juga menjadi sarana mempererat kebersamaan warga sebelum memasuki bulan Ramadhan,” imbuh dia.
Senada dengan itu, salah seorang warga, Kholis, menyebut tradisi ini bukan sekadar makan bersama, melainkan momentum untuk memperkuat persaudaraan.
“Setiap tahun kami menunggu momen ini. Rasanya berbeda karena kami memasak dari hasil tambak sendiri dan menikmatinya bersama-sama,” katanya.
Bagi masyarakat Desa Ketitangwetan, tradisi ini memiliki makna mendalam. Selain menjaga budaya nenek moyang, kegiatan tersebut menjadi simbol rasa syukur atas kesehatan dan rezeki yang diterima selama setahun terakhir, sekaligus harapan akan keberkahan di bulan suci Ramadhan.
Load more