Jelang Nyepi dan Idul Fitri, Umat Hindu Jombang Gelar Melasti Sambil Gaungkan Toleransi
- tvOne - Rohmadi
Jombang, tvOnenews.com - Ratusan umat Hindu di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, menggelar prosesi Upacara Melasti sebagai rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948, Sabtu (14/3).
Ritual penyucian diri dan benda-benda sakral pura tersebut dilaksanakan di sumber mata air Dusun Tegalrejo, Desa Jarak, Kecamatan Wonosalam, di lereng Gunung Anjasmoro.
Prosesi Melasti diawali dengan arak-arakan umat dari pura menuju sumber mata air. Rombongan berjalan bersama dalam suasana khidmat sambil membawa berbagai sarana upacara dan sesaji.
Setibanya di lokasi, mereka melaksanakan rangkaian ritual mulai dari pengambilan tirta suci, persembahyangan bersama, hingga pelarungan sesaji berupa hasil bumi ke aliran sungai sebagai bentuk persembahan kepada Tuhan.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Jombang Juwadi mengatakan Melasti merupakan upacara penting menjelang Nyepi yang bertujuan untuk menyucikan diri sekaligus membersihkan benda-benda sakral milik pura.
“Melasti adalah upacara untuk membuang kotoran pikiran dan perilaku buruk atau karma buruk agar manusia kembali suci. Melalui ritual ini, umat memohon kekuatan untuk menjalankan Catur Brata Penyepian,” katanya, Minggu (15/3).
Juwadi menjelaskan secara tradisi Melasti biasanya dilaksanakan di laut. Namun bagi umat Hindu di Jombang yang jauh dari wilayah pesisir, ritual tersebut dilakukan di sumber mata air yang tetap diyakini memiliki kesucian.
“Di Bali biasanya Melasti dilakukan di laut. Karena di Jombang jauh dari pesisir, maka kami melaksanakannya di sumber mata air. Meski begitu tujuannya tetap sama, yaitu sampai kepada Sang Hyang Baruna atau Sang Hyang Wisnu melalui aliran air,” ujarnya.
Pada perayaan Nyepi tahun ini, umat Hindu mengusung tema "Vasudhaiva Kutumbakam: Nusantara Harmoni, Indonesia Maju” yang bermakna bahwa seluruh manusia di dunia adalah satu keluarga.
Tema tersebut sejalan dengan ajaran Tri Hita Karana, yakni menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, serta alam semesta.
Menurut Juwadi, momentum Nyepi tahun ini juga menjadi istimewa karena berpotensi berdekatan dengan Hari Raya Idul Fitri yang dirayakan umat Islam.
“Kondisi ini justru menjadi kesempatan untuk memperkuat nilai toleransi antarumat beragama, khususnya di Jombang yang dikenal sebagai Kota Santri,” ujarnya.
Ia mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan serta unsur masyarakat terkait kemungkinan bersamaan antara malam takbiran Idul Fitri dengan pelaksanaan Catur Brata Penyepian.
“Kesepakatannya, umat Hindu tetap menjalankan Catur Brata Penyepian, sementara saudara kita umat Muslim juga menjalankan malam takbiran. Kita saling menghormati dan menjaga keamanan lingkungan,” katanya.
Juwadi juga mengimbau umat Hindu di Jombang untuk terus menjaga sikap toleransi, mengingat jumlah mereka yang relatif sedikit di daerah tersebut.
“Kita ini minoritas. Jadi saya mengimbau umat Hindu agar tetap menjaga keharmonisan dengan masyarakat sekitar dan menjalankan ajaran dengan damai,” ucapnya.
Berdasarkan data PHDI Kabupaten Jombang jumlah umat Hindu sekitar 900 jiwa yang tersebar di sejumlah kecamatan, seperti Wonosalam, Bareng, Ngoro, dan Jombang Kota. Sebagian di antaranya merupakan pendatang dari Bali yang telah lama menetap di daerah tersebut.
Saat ini tercatat terdapat sekitar delapan pura di Kabupaten Jombang yang menjadi pusat kegiatan keagamaan umat Hindu setempat. (roi/ias)
Load more