Timeline Bikin Pusing? Yuk Bahas Fenomena FOMO di Dunia Digital
- Istimewa
tvOnenews.com - Pernah nggak sih buka media sosial cuma buat hiburan, tapi malah jadi stres? Awalnya pengen santai, eh ujung-ujungnya ngerasa tertinggal. Fenomena ini punya nama: FOMO (Fear of Missing Out)—rasa takut ketinggalan tren, update, atau momen yang lagi ramai dibicarakan.
Masalahnya, FOMO nggak cuma bikin kita scroll tanpa henti. Dampaknya bisa lebih dalam, lho! Tekanan sosial standar hidup yang kelihatan “sempurna” bikin kita ngerasa harus selalu tampil keren. Sehingga, kecemasan takut nggak update bikin kita terus-terusan online yang mengakibatkan hilangnya otentisitas. Alhasil, kita jadi lebih fokus ikut tren daripada jadi diri sendiri.
Berdasarkan Journal of Behavioral Addictions, Penelitian tentang bagaimana FOMO berkorelasi dengan kian meluasnya penggunaan internet. Akbari (2021) menunjukan adanya grafik survey dari 50.000+ partisipan yang mana jumlah tersebut merefleksikan tingginya Traffic penggunaan internet. Tercatat 58,37% Dari jumlah partisipan tersebut adalah wanita. Nah, Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa fenomena fomo sebenarnya terasosiasi dengan maraknya penggunaan internet era Covid-19.
Dengan luasnya penggunaan internet pasca Covid-19, generasi muda di periode 2020-2023 menjadi partisipan dan kontributor utama dalam meningkatnya traffic penggunaan internet, and yes! Partisipan dan Kontributor didominasi oleh Gen-Z. Generasi muda sekarang makin sadar kalau ruang digital harusnya bikin nyaman, bukan bikin insecure. Banyak yang mulai cari alternatif—platform yang nggak cuma soal pamer tren, tapi juga soal koneksi yang lebih real dan eksplorasi minat pribadi.
Bayangin kalau ada ruang online yang nggak maksa kamu ikut arus, nggak bikin FOMO, dan justru kasih kesempatan buat kamu berekspresi tanpa tekanan. Tempat di mana rekomendasi datang dari orang-orang yang punya minat sama, bukan sekadar algoritma yang nge-push tren. Konsep serupa yang ditawarkan oleh Pomogo Social E-commerce.
Perubahan ini lagi jadi topik hangat di dunia digital. Perlahan, konsep social e-commerce muncul sebagai jawaban: bukan sekadar belanja online, tapi juga interaksi sosial yang lebih sehat. Tujuannya? Bikin pengalaman digital yang lebih autentik, bebas tekanan, dan sesuai sama diri kamu.
Kalau kamu juga ngerasa capek sama budaya “harus selalu update”, mungkin ini saatnya coba sesuatu yang lebih santai "Jangan Sampai dunia digital nggak bikin kita insecure—bisa kok jadi tempat yang bikin kita nyaman" ujar Rajiv Fatih, Team Partnership dari Pomogo E-commerce.(chm)
Load more