Genap Dua Bulan Disandera Perompak Somalia, Keluarga Pelaut Indonesia Desak Pemerintah Serius Bertindak
- Idris Tajannang
"Anak saya mengalami stres karena menunggu negosiasi dari perusahaan ataupun pemerintah. Mulai dari awal sampai sekarang sama sekali tidak ada yang masuk sehingga dia menjadi tekanan batin di atas kapal dan stres. Banyak yang sakit-sakit, makanan pun kurang," ujarnya.
Kondisi tersebut diperparah dengan semakin menipisnya pasokan makanan dan air bersih di atas kapal. Informasi yang diterima keluarga menyebutkan para awak kapal mulai mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
"Anak saya menyampaikan bahwa pasokan air sudah berkurang, kemudian makanan juga sudah berkurang," katanya.
Bahkan berdasarkan informasi yang diterimanya dari pihak yang berkomunikasi dengan otoritas Indonesia di Somalia, sejumlah awak kapal mulai jatuh sakit akibat kondisi yang semakin memburuk.
"Ketika pihak yang berhubungan di Somalia menyampaikan bahwa awak kapal yang ada di atas kapal sudah kekurangan makanan dan banyak yang sakit-sakit," bebernya.
"Bahkan disebutkan juru bicara perompak mengatakan bahwa dia tidak peduli yang sakit dan tidak peduli urusan makanan. Yang mereka minta hanya tebusan," Tambahnya.
Kekhawatiran keluarga semakin besar karena komunikasi dengan para sandera kini nyaris terputus total. Menurut Syamsuddin, terakhir kali dirinya menerima kabar dari putranya sekitar tiga minggu lalu.
"Sudah sekitar tiga minggu terakhir saya sama sekali tidak dapat informasi. Di situlah terasa sekali kekhawatiran saya terhadap keadaan anak saya," ujarnya.
Ia menduga komunikasi para awak kapal dibatasi ketat oleh kelompok perompak yang menguasai kapal.
"Katanya dibatasi karena di sana mereka ditekan oleh pembajak. Jadi tidak bisa bergerak bebas. Kalau salah langkah atau salah sedikit saja diancam. Makanya anak saya tidak bisa berkomunikasi karena mau menyelamatkan dirinya," katanya.
Ancaman yang dihadapi para awak kapal bukan sekadar intimidasi verbal. Menurut informasi yang diterimanya, para perompak menggunakan senjata api otomatis untuk mengendalikan para sandera.
"Mereka diancam pakai senjata. Di sana semua pakai senjata otomatis dan pelurunya besar-besar," Ungkapnya.
Ayah Azhari Samadikun mengungkap jika kondisi putranya saat ini menjadi beban pikiran yang terus menghantuinya setiap hari. Ia mengaku tidak bisa tidur nyenyak sejak anaknya disandera.
Load more