Waspada Hoaks! GERD Disebut Bisa Sebabkan Serangan Jantung dan Kematian, Begini Faktanya
- Freepik/user18526052
tvOnenews.com - Belakangan ini banyak beredar di media sosial klaim bahwa penyakit GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) dapat menyebabkan serangan jantung hingga kematian mendadak.
Informasi tersebut tentu membuat banyak orang panik, terutama mereka yang sering mengalami keluhan nyeri dada atau sesak napas saat asam lambung naik. Namun, benarkah GERD bisa menyebabkan kematian karena serangan jantung?
Dalam wawancara eksklusif bersama dr. Bobby Arfhan Anwar, Sp.JP (K), seorang spesialis jantung dan pembuluh darah, dijelaskan bahwa hingga saat ini GERD tidak termasuk faktor risiko penyakit jantung.
“Sampai saat ini, dalam praktik klinis sehari-hari para dokter jantung dan pembuluh darah, GERD tidak dimasukkan ke salah satu faktor risiko seseorang untuk menderita penyakit jantung,” ujar dr. Bobby kepada tvOnenews.com.
Ia menambahkan bahwa faktor risiko utama penyakit jantung yang terbukti secara medis meliputi hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, dan kebiasaan merokok.
Sementara GERD, meskipun bisa menimbulkan gejala yang mirip dengan serangan jantung, tidak menyebabkan kerusakan pada organ jantung.
“Berbeda dengan hipertensi, diabetes, atau kolesterol tinggi yang memang sudah terbukti secara studi berkaitan erat dengan risiko penyakit jantung. GERD sampai saat ini belum dimasukkan ke dalam kriteria yang sama seperti faktor risiko tadi,” tambahnya.
Mengapa GERD Sering Disangka Serangan Jantung
Banyak orang mengira mereka terkena serangan jantung ketika mengalami nyeri dada akibat asam lambung naik.
Menurut dr. Bobby, hal ini disebabkan oleh posisi anatomi esofagus (kerongkongan) yang berada di tengah dada, sangat dekat dengan jantung.
“GERD artinya ada reflux atau aliran balik asam lambung ke esofagus. Esofagus itu berada di tengah dada, sehingga seseorang yang mengalami GERD akan merasakan rasa panas atau nyeri di bagian tengah dada, lokasi yang sama dengan nyeri akibat jantung,” jelasnya.
Akibatnya, banyak pasien yang khawatir mengalami serangan jantung, padahal setelah dilakukan pemeriksaan EKG (rekam jantung) dan evaluasi medis lainnya, jantung mereka terbukti sehat.
Namun, dr. Bobby juga mengingatkan bahwa hal sebaliknya bisa terjadi, serangan jantung justru disangka sakit maag.
“Ada juga kasus penyakit jantung koroner yang menyerupai sakit maag. Bila terjadi penyempitan di pembuluh darah jantung bagian bawah dekat ulu hati, pasien bisa mengira itu nyeri maag, padahal serangan jantung,” terangnya.
Oleh karena itu, pemeriksaan medis yang menyeluruh sangat penting untuk memastikan diagnosis yang tepat.
Terkait kabar yang menyebut asam lambung dapat merusak jantung jika dibiarkan, dr. Bobby menegaskan bahwa hal itu tidak benar sama sekali.
“Sampai saat ini yang saya tahu tidak, karena asam lambung yang naik itu bisa mengiritasi saluran makan atau saluran napas, tapi apakah ini merusak jantung? Jawabannya tidak sama sekali,” tegasnya.
Asam lambung hanya memengaruhi saluran pencernaan bagian atas dan pernapasan, bukan jantung.
Sensasi sesak napas yang sering dirasakan penderita GERD biasanya terjadi karena asam lambung menekan diafragma atau menyebabkan iritasi pada tenggorokan, bukan karena gangguan pada otot jantung.
Banyak penderita GERD juga mengeluhkan jantung berdebar-debar saat penyakitnya kambuh.
Dokter Bobby menjelaskan bahwa hal itu bukan karena gangguan jantung, melainkan reaksi tubuh terhadap rasa tidak nyaman dan stres akibat asam lambung naik.
“Jantung berdebar yang dirasakan bukan artinya penyakit jantung, tetapi sekunder dari rasa nyeri dan tidak nyaman yang dirasakan pasien GERD. Rasa kembung meningkatkan hormon kortisol atau adrenalin yang bikin jantungnya berdebar, tapi bukan penyakit jantung,” ujar dr. Bobby.
Cara Menghindari Efek Samping GERD
Dr. Bobby menyarankan penderita GERD untuk berkonsultasi ke dokter spesialis penyakit dalam agar penyakitnya dapat diobati hingga tuntas.
Bila asam lambung terkendali, risiko timbulnya gejala seperti gangguan irama jantung ringan atau sesak napas akan jauh berkurang.
“Kalau GERD-nya bisa diobati dan disembuhkan maka kemungkinan mengalami gangguan irama jantung dan gangguan pernapasan pun akan semakin kecil,” tutup dr. Bobby.
Pada intinya, GERD tidak menyebabkan serangan jantung dan tidak menimbulkan kematian.
Meski gejalanya bisa mirip dengan penyakit jantung, penyebab dan mekanismenya berbeda.
Pemeriksaan medis tetap menjadi langkah paling aman untuk membedakan keduanya dan memastikan kondisi tubuh tetap sehat. (adk)
Load more