Primaya Hospital Kelapa Gading Hadirkan MitraClip, Terobosan Atasi Katup Jantung Bocor Tanpa Operasi
- ChatGPT.com
tvOnenews.com - Masalah kebocoran katup jantung selama bertahun-tahun identik dengan tindakan operasi jantung terbuka.
Namun kini, perkembangan teknologi medis menghadirkan solusi yang jauh lebih minim risiko bagi pasien tertentu.
Salah satu inovasi tersebut adalah MitraClip, sebuah prosedur minimal invasif yang memungkinkan dokter memperbaiki katup jantung bocor tanpa harus membelah tulang dada atau melakukan operasi jantung terbuka.
Teknologi ini mulai tersedia di Indonesia dan menjadi harapan baru, terutama bagi pasien lanjut usia atau mereka yang memiliki risiko tinggi jika menjalani operasi konvensional.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan intervensi sekaligus konsultan aritmia, Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA, menjelaskan bahwa selama ini kasus kebocoran katup jantung berat hampir selalu ditangani melalui operasi.
"Selama ini kalau ada masalah pada katup jantung, terlalu rapat, susah membuka, atau khususnya bocor, maka solusinya, kalau berat, itu dioperasi," katanya dalam acara Press Conference di Primaya Hospital Kelapa Gading, Jakarta, Sabtu (27/6/2026).
Namun kini, pilihan terapi semakin berkembang.
"MitraClip itu nama alatnya, ini satu terobosan perbaikan katup jantung," kata guru besar kardiologi dan aritmia Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tersebut.
Apa Itu MitraClip?
MitraClip merupakan alat berbentuk klip kecil yang dipasang melalui prosedur kateterisasi.Â
Berbeda dengan operasi konvensional, dokter tidak perlu membuka rongga dada.
Alat dimasukkan melalui pembuluh darah vena di lipat paha, kemudian diarahkan menuju jantung menggunakan bantuan pencitraan berteknologi tinggi hingga mencapai katup mitral yang mengalami kebocoran.
Setelah berada di posisi yang tepat, klip akan menjepit kedua daun katup mitral sehingga keduanya dapat menutup lebih rapat saat jantung memompa darah.
Dengan cara tersebut, aliran darah yang sebelumnya bocor kembali ke serambi kiri dapat dikurangi secara signifikan sehingga kerja jantung menjadi lebih efisien.
Prof. Yoga menjelaskan bahwa jantung manusia memiliki empat katup utama, yakni katup trikuspid, katup mitral, katup aorta, dan katup pulmonal.
Di antara keempatnya, katup mitral menjadi salah satu yang paling sering mengalami gangguan.
Saat terjadi regurgitasi atau kebocoran, katup tidak mampu menutup sempurna sehingga sebagian darah justru mengalir kembali ke serambi kiri ketika jantung berkontraksi.
"Kebocoran katup mitral itu, jadi katup bocor, sehingga darah kembali ke atrium kiri atau ke serambi kiri," kata Prof. Yoga.
Akibatnya, jantung harus bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan tubuh.
Jika dibiarkan dalam waktu lama, kondisi tersebut dapat menyebabkan pembesaran jantung hingga penurunan kemampuan pompa jantung atau gagal jantung.
Kebocoran katup mitral sering berkembang secara perlahan sehingga banyak pasien baru menyadarinya ketika kondisinya sudah cukup berat.
Menurut Prof. Yoga, beberapa gejala yang umum muncul antara lain:
- Sesak napas, terutama saat beraktivitas atau berbaring.
- Mudah lelah meski melakukan aktivitas ringan.
- Pembengkakan pada tungkai atau kaki akibat penumpukan cairan.
- Jantung berdebar dan toleransi olahraga yang semakin menurun.
"Gejalanya bisa sesak napas, cepat lelah, bengkak kaki. Pada pasien ini, karena sudah lama jadi tadi bilik kirinya jadi besar dan kemampuan pompanya menjadi sangat lemah," jelasnya.
Karena itu, pemeriksaan sejak dini sangat penting agar kerusakan jantung tidak berkembang lebih jauh.
Tidak semua pasien dengan kebocoran katup jantung membutuhkan prosedur ini.
Menurut Prof. Yoga, MitraClip dapat menjadi pilihan pada pasien dengan kebocoran katup mitral akibat kelainan degeneratif maupun sekunder, termasuk kondisi ketika katup gagal menutup sempurna akibat pembesaran jantung.
Selain itu, prosedur ini sangat bermanfaat bagi pasien yang secara medis masih dapat dioperasi tetapi memiliki risiko komplikasi tinggi karena usia lanjut atau penyakit penyerta.
Sebelum tindakan dilakukan, pasien biasanya akan menjalani Transesophageal Echocardiography (TEE) untuk menilai struktur katup, tingkat kebocoran, serta memastikan apakah anatomi katup sesuai untuk pemasangan MitraClip.
Salah satu keunggulan utama MitraClip adalah prosedurnya yang minimal invasif.
Karena dilakukan melalui pembuluh darah tanpa membuka dada, risiko perdarahan, nyeri pascaoperasi, dan lama rawat inap umumnya lebih rendah dibanding operasi jantung terbuka.
Prof. Yoga juga menegaskan bahwa alat ini dibuat dari bahan sintetis yang kompatibel dengan tubuh sehingga aman digunakan.
Ia menambahkan bahwa pasien biasanya dapat menjalani masa pemulihan lebih cepat sehingga dapat kembali beraktivitas dalam waktu yang relatif singkat, tergantung kondisi masing-masing.
Hadirnya teknologi MitraClip menjadi kemajuan penting dalam penanganan penyakit katup jantung di Indonesia.
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa tidak semua pasien otomatis dapat menjalani prosedur ini.
Penentuan terapi tetap harus melalui evaluasi menyeluruh oleh tim dokter jantung, termasuk pemeriksaan pencitraan dan penilaian kondisi kesehatan secara keseluruhan.
Dengan diagnosis yang tepat dan penanganan yang sesuai, pasien kebocoran katup mitral kini memiliki lebih banyak pilihan terapi yang efektif tanpa harus selalu menjalani operasi jantung terbuka.
(tsy)
Load more