Budaya dan Ekonomi Kreatif: Menenun Identitas, Menumbuhkan Harapan
- Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com — Di tengah perubahan zaman yang serba cepat, budaya hadir sebagai pijakan yang memberi arah. Ia tak hanya mengikat manusia pada akar sejarahnya, tetapi juga menjadi ruang tumbuhnya kreativitas, harapan, dan kebersamaan. Ketika nilai-nilai budaya dirawat dan disemai, muncullah kekuatan baru yang mampu menggerakkan masyarakat secara utuh—lahir dan batin.
Budaya bukan sekadar peninggalan, tapi sumber kehidupan. Ia hadir dalam tutur, gerak, nada, warna, dan berbagai ekspresi yang menyatu dengan napas masyarakat. Di banyak tempat, kebudayaan lokal justru menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih berdaya, ketika disandingkan dengan ekonomi kreatif yang terbuka terhadap inovasi.
Ekonomi kreatif yang berpijak pada nilai tradisi telah terbukti memberi dampak nyata. Pelaku seni, pengrajin lokal, hingga komunitas masyarakat kini menjadi bagian dari ekosistem yang mendukung penghidupan sehari-hari. Ini bukan sekadar soal industri, melainkan cara hidup yang menumbuhkan keseimbangan antara warisan dan kemajuan.
Lebih dari itu, ruang-ruang budaya juga menjadi tempat bernaungnya semangat kolektif. Masyarakat yang terlibat di dalamnya tidak hanya berbagi karya, tetapi juga membangun rasa memiliki dan saling menghargai. Dalam irama dan gerak seni, hadir ketenangan yang menyejukkan sekaligus menyatukan.
Inilah yang menjadikan pelestarian budaya sebagai bagian tak terpisahkan dari pembangunan yang berkelanjutan. Ia mencerminkan upaya menjaga keutuhan identitas, sekaligus menciptakan peluang baru yang berpihak pada kesejahteraan rakyat. Sebab budaya yang tumbuh bukan hanya menghibur—ia menghidupi.
Semangat inilah yang kembali terasa kuat di Pacitan. Pada awal Juli 2025, masyarakat dari berbagai kalangan kembali merayakan kebersamaan dan kekayaan tradisi dalam suasana penuh semangat dan sukacita. Sebuah momentum budaya yang telah menjadi bagian penting dari denyut kehidupan daerah.
Dalam suasana itulah Festival Ronthek Pacitan 2025 digelar, menjadi ruang perjumpaan antara seni, tradisi, dan harapan masa depan. Sebuah panggung budaya yang tidak hanya menghidupkan kembali nilai-nilai lokal, tetapi juga memperkuat daya tarik daerah sebagai ruang wisata budaya yang bermakna.
Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono yang turut hadir membuka festival ini menyampaikan bahwa cahaya ronthek yang menyala malam itu adalah simbol dari harapan yang terus dijaga bersama. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya penting untuk pelestarian budaya, tetapi juga untuk membangun karakter masyarakat yang kreatif, tenang, dan bahagia.
Mengusung tema “Pacitan Sumandhang Nugraha”, festival ini dimaknai sebagai ajakan untuk senantiasa rendah hati dalam menerima anugerah kehidupan. Sebuah sikap yang, menurut Ibas, perlu diwujudkan tidak hanya dalam kehidupan personal, tetapi juga dalam semangat membangun daerah dan bangsa.
“Warisan budaya adalah fondasi masa depan. Di sini, kita merayakan peninggalan para leluhur dan memastikan cahaya ini tak pernah padam,” ucapnya dalam sambutan yang disampaikan di Alun-Alun Pacitan (5/7), bersama para tokoh daerah dan masyarakat.
Festival Ronthek Pacitan yang berlangsung pada 4–6 Juli 2025 kembali menjadi bagian dari Karisma Event Nusantara (KEN), sebuah program nasional yang mendukung kegiatan budaya unggulan daerah. Kehadiran tokoh-tokoh lintas sektor—mulai dari pelaku seni, pemerintah, hingga masyarakat—menjadi bukti bahwa budaya tetap menjadi perekat yang kuat dalam kehidupan berbangsa.
Lebih dari sekadar perayaan, kegiatan ini adalah pengingat bahwa di balik setiap bunyi, gerak, dan cahaya, ada harapan yang terus dijaga. Dan selama budaya tetap hidup di hati masyarakatnya, selama itu pula sebuah daerah akan terus bertumbuh dengan jati diri yang utuh.
Load more