Klarifikasi Kuburan Band soal Lagu Viral 'Tak Diberi Tulang Lagi' Dinilai Sindir Slank, Menduga Buatan AI
- Instagram/@bandkuburan
Jakarta, tvOnenews.com - Pengguna media sosial dihebohkan dengan dugaan lagu menyindir grup band Slank. Publik menduga judul lagu viral "Tak Diberi Tulang Lagi" adalah milik grup Kuburan Band.
Judul lagu diduga milik Kuburan Band tersebut muncul setelah Slank membuat lagu mengkritik pemerintah. Judul lagu baru buatan Slank bertajuk "Republik Fufufafa".
Kuburan Band membantah telah merilis lagu Tak Diberi Tulang Lagi. Hal ini langsung diungkap oleh vokalis Kuburan Band, Resa Rizkyan melalui kolom komentar unggahan Instagram miliknya.
"Boleh bantu viralkan lagu baru Kuburan yang berjudul AJENG. Bukan lagu yang viral di TikTok," ungkap Resa dikutip tvOnenews.com, Senin (5/1/2026).
Lagu Tak Diberi Tulang Lagi Hoaks
- Istimewa
Lanjut Resa, Kuburan Band saat ini tengah memfokuskan judul lagu barunya "AJENG". Pihaknya merilis judul lagu tersebut genap berusia 24 tahun.
Kuburan Band sendiri merilis judul lagu AJENG pada 11 September 2025. Single terbaru ini sebagai bentuk Renungan Jenaka namun memiliki makna setiap yang muda akan menjadi tua.
Sementara lagu seolah menyindir Slank yang merebak di media sosial bukanlah milik Kuburan Band. Resa menegaskan, hal tersebut sudah hoaks dan kebenarannya tidak dipertanggungjawabkan pihaknya.
Resa berharap agar masyarakat menelaah berita dengan bijak. Lagu diduga menyindir Slank tersebut merupakan hasil kreasi kecerdasan dari artificial intelligence (AI).
"Yang hoax, karena itu lagu AI," tegas Resa.
Kronologi Kuburan Band Diduga Sindir Slank
- istimewa
Kemunculan lagu kontroversi tersebut berawal dari Slank merilis sebuah lagu di akhir tahun 2025. Lagu tersebut dinilai menyindir pemerintah karena bertajuk Republik Fufufafa.
Bagi Bimbim cs, karya judul lagu tersebut sebagai momentum terbaik untuk Slank hadir menjadi band yang mengkritisi keadaan situasi sosial dan politik saat ini.
Hal ini mengingat citra Slank menjadi salah satu band legendaris dikenal mengkritisi kondisi sosial-politik pada era 1990-an hingga 2000-an.
Load more