Pihak Keluarga Denada Ungkap Kekecewaan atas Kasus Ressa, Singgung Soal Tekanan Psikis Berat
- YouTube/Comic8Revolution
- Instagram/denadaindonesia
“Ada penekanan secara psikis kepada ibu saya yang selama ini memberikan bantuan untuk mengasuh anak itu. Beliau tidak pernah menerima sepeser pun uang jasa dari Denada, meskipun sebenarnya tidak pernah meminta,” ujar Ronald.
Ia menuturkan bahwa beban mental yang dialami keluarganya mencapai titik kritis setelah muncul tudingan dan serangan verbal dari pihak keluarga Denada lainnya.
Kondisi itu, katanya, sempat membuat sang ibu jatuh sakit hingga hampir pingsan karena tekanan emosional yang terlalu berat.
“Ada serangan dari pihak adiknya Denada yang kemudian memicu saya mengajukan gugatan ini. Waktu itu saya lihat secara psikis dan mental dari ibu saya sudah sampai titik hampir pingsan, jatuh sakit karena peristiwa yang jadi latar belakang saya mengajukan gugatan ini,” ujarnya dengan nada tegas.
Ronald juga menegaskan bahwa gugatan terhadap Denada bukan bertujuan untuk mencari keuntungan finansial, melainkan demi memperoleh keadilan moral atas perlakuan yang dianggap tidak manusiawi terhadap Ressa dan keluarga yang telah membesarkannya.
Ia menegaskan, selama 24 tahun, keluarga besarnya tidak pernah menerima bantuan dalam bentuk apa pun dari Denada.
Bahkan, kebutuhan dasar seperti pendidikan dan tempat tinggal ditanggung sendiri oleh pihak keluarga tanpa bantuan eksternal.
Ronald berharap Denada dapat menunjukkan itikad baik dengan hadir dalam sidang mediasi yang dijadwalkan pada 15 Januari 2026.
Menurutnya, langkah itu akan menjadi bukti bahwa Denada masih memiliki tanggung jawab moral terhadap anak yang kini menggugatnya di pengadilan.
Publik menantikan langkah Denada berikutnya, apakah ia akan hadir dalam mediasi untuk memberikan klarifikasi langsung atau tetap memilih diam di tengah desakan publik dan tekanan emosional dari kedua belah pihak. (adk)
Load more