2 Agenda Denada di Singapura, Kuasa Hukum Tegaskan Penting sebelum Pertemuan dengan Ressa
- Kolase tvOnenews.com / YouTube HepiNews / Instagram @denadaindonesia
tvOnenews.com - Kuasa hukum Denada menegaskan ada 2 agenda penting Denada di Singapura sebelum pertemuan dengan Ressa dapat terwujud.
Keberangkatan Denada Tambunan ke luar negeri memicu berbagai komentar tajam, terutama dari netizen yang menilai ia seolah menunda bertemu anak kandungnya.
Setelah secara terbuka mengakui Ressa Rizky Rossano sebagai anak kandungnya, Denada dikabarkan tengah berada di Singapura.
Kepergiannya kali ini bukan hanya untuk mendampingi putrinya, Aisha Aurum, menjalani pemeriksaan rutin, tetapi juga untuk mempersiapkan langkah mempertemukan Aisha dengan sang kakak, Ressa.
Denada disebut berada dalam kondisi emosional yang lebih stabil dan penuh harapan setelah akhirnya mengungkap kebenaran yang selama ini ia simpan.
Keinginannya untuk bertemu langsung dengan Ressa sudah ada sejak awal ia memutuskan berbicara jujur kepada publik, sebagai bentuk tanggung jawab sekaligus permohonan maaf.
Meski begitu, proses menuju pertemuan tersebut masih dianggap sangat pribadi dan sensitif.
Pihak manajemen memilih tidak ikut campur lebih jauh mengenai waktu dan tempat pertemuan.
Selain menemani Aisha, Denada juga ingin segera berbicara dengan putrinya tentang keberadaan Ressa agar semuanya dapat disampaikan tanpa ditunda.
Namun setelah kabar kepergian Denada ke Singapura mencuat, netizen pun semakin berkomentar tajam.
Banyak yang menganggap Denada seperti sama sekali tidak mau bertemu dengan Ressa, padahal Ressa masih berada di Jakarta hingga saat ini.
Menanggapi hal tersebut, Moch Iqbal, kuasa hukum Denada, menjelaskan posisi kliennya sehingga belum bisa bertemu dengan Ressa dalam waktu dekat.
Dalam wawancara di YouTube Cumicumi pada 10 Februari 2016, ia menegaskan, “Di luar negeri kan belum bisa untuk ketemu ini.”
Moch Iqbal juga mengajak publik untuk berpikir secara rasional mengenai situasi Denada saat ini. Menurutnya, Denada memiliki dua anak yang sama-sama membutuhkan perhatian.
“Ini kan ada dua anak Aisha sama Ressa. Aisha ini kan sedang sakit. Jadi kan Mbak Dena ini kan lebih mengutamakan ini dulu bukan karena apa ya memang seharusnya ini posisi urgent kan,” jelasnya.
Kuasa hukum Denada menilai bahwa memprioritaskan kesehatan Aisha adalah langkah yang wajar.
Ia menegaskan hal tersebut bukan bentuk pengabaian terhadap Ressa.
“Kan ya bukan hal yang aneh kan bukan hal yang apa ya, ya memang ini harus didulukan anak ini masalah pengobatan ini ada apa-apa gimana?” lanjutnya.
Selain fokus pada pengobatan Aisha, Denada juga disebut sedang mempersiapkan langkah emosional dan psikologis sebelum pertemuan besar dengan Ressa terjadi.
Proses ini dinilai sensitif karena melibatkan perasaan kedua anaknya.
Moch Iqbal juga menanggapi kritikan netizen yang menyayangkan Denada tak kunjung bertemu dengan Ressa.
Ia mengaku memahami reaksi publik yang hanya melihat situasi dari pemberitaan media.
“Kalau netizen itu kan kita pahamilah ya kita gak nyalahkan gak apa yang pada intinya gini, netizen itu kan mengetahui apa yang dia lihat yang kemarin-kemarin ini terjadi di media. Ya kita gak menyalahkan kalau netizen ngomong A ngomong B itu lumrah. Yang jelas nanti kita tetap mau menunjukkan ini loh sebenarnya yang terjadi,” tuturnya.
Ia menegaskan Denada memilih tidak terburu-buru agar tidak menimbulkan kesalahpahaman baru. Semua harus dijalani sesuai tahapan yang tepat.
“Kalau kita langsung motong kompas, kita nanti dipikir nyari pembelaan sendiri kan ya enggak enak juga. Kita ikuti tahapan-tahapannya nanti endingnya netizen insyaallah tahu,” pungkasnya.
Pihak Denada menegaskan bahwa pertemuan dengan Ressa Rizky Rossano tetap menjadi niat yang ingin segera diwujudkan.
Namun, Denada memilih menjalani semuanya dengan hati-hati karena kondisi Aisha yang masih membutuhkan perhatian utama.
Publik pun diharapkan dapat memahami bahwa proses ini membutuhkan waktu, kesiapan emosional, serta tahapan yang tepat sebelum Denada akhirnya bisa bertemu langsung dengan Ressa.
(anf)
Load more