Bocah SD Disumpah Gubernur Jabar Kang Dedi Mulyadi, Disawer Rp30 Juta untuk Modal Ternak Domba
- YouTube/ LEMBUR PAKUAN CHANNEL
tvOnenews.com - Suasana acara Safari Ramadhan – Neuleuman Poekna Peuting di Lapang Cibalagung, Desa Kademangan, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, pada Senin (9/3/2026) berlangsung hangat sekaligus mengharukan.
Dalam kegiatan tersebut, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, berinteraksi langsung dengan warga yang hadir, termasuk seorang bocah sekolah dasar yang kemudian menjadi sorotan.
Anak tersebut bernama Muhammad Azka Hasanudin, siswa kelas 6 SD asal Kampung Cibalagung.
Azka dipanggil ke depan oleh Dedi Mulyadi dan diajak berbincang santai di hadapan ratusan warga yang menyaksikan.
Percakapan itu dimulai dengan pertanyaan sederhana mengenai identitas Azka dan keluarganya.
Bocah tersebut mengaku ayahnya bekerja sebagai sopir angkot, sementara ibunya tidak bekerja.
“Sekarang jadi sopir angkot itu sedang susah mencari uang, ya?” tanya Dedi.
“Iya,” jawab Azka singkat.

- YouTube/ LEMBUR PAKUAN CHANNEL
Dari obrolan tersebut, Dedi kemudian menyinggung kebiasaan jajan Azka.
Bocah itu mengaku sering menggunakan uang jajannya untuk membeli sirup sachet.
“Biasanya dikasih jajan berapa?” tanya Dedi.
“Rp2.000,” jawab Azka.
Dedi lalu mengajak Azka berpikir tentang pilihan yang lebih bermanfaat bagi kesehatan.
Ia membandingkan antara membeli sirup dengan membeli telur.
“Kalau uang jajan itu dipakai beli telur lalu direbus, ada proteinnya tidak?” tanya Dedi.
“Ada,” jawab Azka.
“Mana yang lebih bermanfaat untuk tubuh, sirup atau telur?” lanjutnya.
“Telur,” jawab Azka.
Dari situ, Dedi meminta Azka bersumpah untuk mengubah kebiasaan jajannya.

- YouTube/ LEMBUR PAKUAN CHANNEL
Di hadapan warga, bocah itu diminta berjanji tidak lagi membeli sirup dan menggunakan uangnya untuk membeli makanan yang lebih bergizi.
“Mulai besok saya tidak akan membeli sirup lagi. Uangnya akan dipakai membeli telur,” ucap Azka mengikuti sumpah yang dibacakan Dedi.
Tak berhenti di situ, Dedi juga menyinggung kebiasaan anak-anak bermain ponsel. Azka mengaku memiliki telepon genggam.
KDM pun memintanya kembali bersumpah untuk menjual HP tersebut agar tidak terlalu sering bermain.
“Mulai besok saya bersumpah demi Allah, HP ini akan dijual supaya saya tidak terus bermain HP,” kata Azka.
Diberi Modal Ternak Domba
Setelah percakapan tersebut, Dedi mengajak Azka melihat potensi desa tempat ia tinggal.
Ia menjelaskan bahwa lingkungan pedesaan seperti Cibalagung memiliki banyak lahan, kebun, dan rumput yang cocok untuk beternak.
Dedi kemudian memberikan uang tunai sebesar Rp14 juta sebagai modal awal usaha ternak domba.
Ia menjelaskan rencana sederhana untuk memulai usaha tersebut.
“Harga domba betina sekitar Rp2,5 juta. Kalau beli empat ekor berarti sekitar Rp10 juta. Harga domba jantan yang Rp3,5 juta, beli yang bagus. Nanti kalau setahun beranak, itu sudah jadi investasi,*” ujar KDM.
Ia juga menekankan bahwa memelihara ternak bukanlah pekerjaan yang memalukan.
“Memelihara ternak tidak berarti orang tertinggal. Negara besar seperti Amerika dan Australia juga kuat karena pertanian dan peternakan mereka,” kata Dedi.
Sebagai penutup, Dedi kembali meminta Azka bersumpah dengan cara yang unik. Ia menyebut Azka harus menjadi “koboi”.
“Koboi itu apa? ‘Cow’ artinya sapi, ‘boy’ artinya anak laki-laki. Jadi koboi itu anak laki-laki yang menggembala sapi,” jelasnya.
“Keren tidak?” tanya Dedi.
“Keren,” jawab Azka.
Disawer hingga Rp30 Juta
Aksi Dedi Mulyadi tersebut ternyata memicu simpati para warga yang hadir.
Setelah sang gubernur memberikan bantuan, sejumlah penonton ikut menyawer atau berdonasi untuk Azka.
Jumlah bantuan yang terkumpul pun cukup besar, mencapai sekitar Rp30 juta.
Namun uang tersebut tidak langsung diberikan seluruhnya kepada Azka.
Sebagian besar diserahkan kepada ibunya untuk dikelola secara bijak.
“Yang diberikan langsung kepada anak ibu hanya Rp200 ribu. Sisanya disimpan dulu di Bank BJB supaya dibuat perencanaan usaha yang benar,” kata Dedi.
Menurutnya, uang tersebut sebaiknya digunakan untuk dua hal utama, yakni pendidikan Azka dan pengembangan usaha ternak domba keluarga.
Ia juga mengingatkan bahwa jika uang diberikan seluruhnya tanpa perencanaan, biasanya akan cepat habis.
“Kalau semua uang langsung diberikan biasanya cepat habis,” ujarnya.
Kisah Azka pun menjadi salah satu momen menarik dalam rangkaian Safari Ramadhan tersebut.
Selain memberikan bantuan, Dedi Mulyadi juga memanfaatkan kesempatan itu untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya pendidikan, hidup sederhana, serta memanfaatkan potensi desa sebagai sumber penghidupan. (gwn)
Load more