Gubernur Malut Sherly Tjoanda Disorot karena Kostum PDH, Netizen: Pagi-pagi Sudah Dapat Asupan Moodbooster dari Video Ibu
- instagram Sherly Tjoanda
tvOnenews.com - Reaksi netizen kembali jadi sorotan ketika Gubernur Malut, Sherly Tjoanda, mengunggah aktivitasnya usai menghadiri Upacara Hardiknas.
Alih-alih fokus pada kunjungan sosial yang ia lakukan, publik justru ramai membahas hal lain: kostum. Ya, kostum pink yang dikenakan Gubernur cantik itu sukses mencuri perhatian dan memicu gelombang komentar di media sosial.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana visual sering kali lebih cepat menarik perhatian dibanding substansi.
Padahal, di balik kostum pink yang dikenakan Gubernur Malut Sherly Tjoanda, ada misi serius yang tengah dijalankan, meninjau langsung kondisi calon penerima bantuan RTLH 2026.
Namun, bagi sebagian netizen, warna mencolok tersebut justru menjadi “headline” utama.
Kostum Pink Gubernur Cantik Jadi Sorotan Netizen
Dalam unggahan Instagram pribadinya, Sherly Tjoanda menuliskan, “Setelah kegiatan Upacara Hardiknas kemarin, mampir melihat rumah calon penerima bantuan RTLH 2026, memastikan bantuan renov rumah tidak layak huni - tepat sasaran.”
Namun, narasi tersebut seakan tenggelam oleh reaksi netizen yang lebih tertarik pada kostum yang dikenakannya.
Berbeda dari pakaian dinas harian (PDH) ASN pada umumnya yang identik dengan warna putih atau coklat, Sherly tampil dengan PDH berwarna pink. Pilihan warna ini langsung menuai pujian sekaligus perhatian berlebih.
- Instagram @s_tjo
Komentar pun membanjiri unggahan tersebut, mulai dari, “Ibuu baju PDH pinkypinky nya bagus sekali,”* hingga *“Pinknya cocok banget di ibu, moodbooster pagi ini.”
"Pinknya cocok banget di ibu. Sungguh semangat bgt pagi2 sdh dpt asupan moodbooster dari video ibu. good morning my moodbooster,"
Tak sedikit pula yang mengaitkan gaya bicara Sherly dengan nuansa “pinky” yang dianggap menggemaskan.
“Kalau mode pinky, tingkah ibu jadi ikutan pink,” tulis salah satu netizen.
Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya daya tarik visual dalam membentuk opini publik, bahkan ketika isu yang dibawa jauh lebih penting.
Fakta Mengejutkan di Balik Kunjungan RTLH 2026
Di balik sorotan kostum, kunjungan Sherly Tjoanda justru membuka realita yang cukup memprihatinkan. Saat meninjau rumah calon penerima bantuan RTLH 2026, ia menemukan kondisi hunian yang jauh dari kata layak.
Salah satu temuan paling mengejutkan adalah kamar mandi yang berada di area terbuka. Tanpa perlindungan memadai, aktivitas mandi harus dilakukan dengan risiko terlihat orang lain. Bahkan, pemilik rumah mengaku harus mandi pada malam hari demi menjaga privasi.
“Ini kalau mandi gimana? Orang-orang bisa lihat,” ujar Sherly saat melihat langsung kondisi tersebut.
Lebih jauh, akses air pun menjadi persoalan. Air harus diambil dari luar, sementara untuk kebutuhan buang air besar, penghuni rumah harus menggunakan fasilitas umum di gereja. Kondisi ini mempertegas urgensi program bantuan rumah layak huni.
Jika dibandingkan dengan standar hunian sehat menurut Kementerian PUPR, yang mensyaratkan akses sanitasi layak dan privasi dasar, kondisi ini jelas berada jauh di bawah standar minimum.
- instagram Sherly Tjoanda
Program RTLH 2026: Target 1.200 Rumah Layak Huni
Pemerintah Provinsi Maluku Utara sendiri telah meluncurkan program RTLH 2026 sejak 14 Februari 2026. Program ini menargetkan pembangunan dan rehabilitasi 1.200 unit rumah di seluruh kabupaten/kota.
Setiap unit mendapatkan anggaran material sekitar Rp60 juta dengan tipe hunian TP36. Dibandingkan program serupa di tahun-tahun sebelumnya, angka ini menunjukkan peningkatan kualitas, baik dari sisi desain maupun pengawasan.
Program ini juga melibatkan berbagai pihak, termasuk Kanwil BPN untuk percepatan sertifikasi tanah serta BPKP dalam pengawasan anggaran. Tujuannya jelas: memastikan bantuan benar-benar tepat sasaran.
Dalam kunjungannya, Sherly bahkan langsung mengambil keputusan teknis di lapangan. “Ini karena tanahnya besar, bangunan di depan enggak usah dihancurin, bangun di belakang saja,” ujarnya.
Ia juga menyoroti atap rumah yang bocor, “Tambah seng supaya kalau hujan enggak masuk.”
Langkah cepat ini menunjukkan pendekatan problem solving yang jarang terlihat hanya dari laporan di atas meja.
Pada akhirnya, kisah Gubernur Malut Sherly Tjoanda ini menjadi ironi kecil di era digital. Di satu sisi, kostum pink sukses menarik perhatian publik.
Namun di sisi lain, realita pahit yang dihadapi calon penerima bantuan RTLH 2026 justru membutuhkan perhatian yang jauh lebih besar. (udn)
Load more