Tolong Petugas Masjid Persiapkan ini Sebelum Shalat Idul Fitri, Ustaz Adi Hidayat Tegaskan dari Ajaran Rasulullah SAW
- Tangkapan layar YouTube Adi Hidayat Official
tvOnenews.com - Ada beberapa hal menjadi persiapan petugas atau panitia masjid mengenai penyelenggaraan shalat Idul Fitri.
Ustaz Adi Hidayat menyampaikan, persiapan matang untuk melaksanakan shalat Idul Fitri menjadi bagian penting agar para jemaah merasa aman dan nyaman.
Menurut Ustaz Adi Hidayat, beberapa hal ini sebagai bentuk persiapan penyelenggaraan shalat Idul Fitri, karena berdasarkan ajaran yang dituangkan oleh Rasulullah SAW.
Lantas, apa saja hal menjadi persiapan petugas masjid shalat Idul Fitri agar sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW?
Persiapan Pelaksanaan Shalat Idul Fitri

- ANTARA
Â
Dilansir tvOnenews.com dari kanal YouTube Adi Hidayat Official, Sabtu (29/3/2025), Ustaz Adi Hidayat membagikan sejumlah hal persiapan detik-detik melaksanakan shalat Idul Fitri.
Persiapan ini, kata UAH sapaan akrabnya, hanya bersifat anjuran. Namun, sangat penting karena menyangkut dengan sunnah sekaligus yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Direktur Quantum Akhyar Institute itu menjelaskan, persiapan pertama harus menentukan pelaksanaan shalat Ied harus berlangsung saat matahari memunculkan bayangan di dua tombak.
"Penunaian shalat, pertama dilangsungkan di awal waktu bagi Idul Adha, tapi untuk Idul Fitri boleh dimundurkan sampai bayangan matahari di dua tombak," ungkap Ustaz Adi Hidayat.
Ia mencontohkan, jika mengkonversi kondisi bayangan matahari di dua tombak berdasarkan hitungan jam, shalat Idul Fitri terlaksana sekitar pukul 06.30 atau jam setengah 7 pagi.
"Misal ukuran jam misalnya Idul Adha 06.30 nah kalau Idul Fitri boleh jam 06.45 atau 06.50," tutur dia.
Mengapa waktu shalat Idul Fitri lebih telat daripada shalat Idul Adha? Ustaz Adi menuturkan, hal ini berkaitan dengan kesunnahan makan hendak bergegas menuju masjid.
"Hadisnya adalah Nabi mengimani kami di Idul Fitri di saat matahari dua tombak, kalau Idul Adha harus segera, agar saat Dhuha sudah bisa menyembelih hewan kurban," jelasnya.
Terkait persiapan kedua, Ustaz Adi Hidayat menjelaskan, petugas masjid wajib mempersiapkan pelaksanaan shalat Ied di tempat yang lebih luas.
"Adalah Nabi SAW saat akan masuk shalat Idul Fitri akan mengimami dan memilih tempat yang luas, jika masjid tidak menampung banyak, namun ada lapangan, maka pilih lapangan," paparnya.
"Namun, jika lebih baik di masjid misal karena hujan, kembalikan ke masjid, setidaknya ada yang tertampung kemudian melebar tak apa, tapi yang utama tempat yang luas," lanjutnya menjelaskan.
Ia mengingatkan, setiap orang mukmin khususnya panitia penyelenggara shalat Ied tidak boleh membandingkan kondisi masjid pada zaman Nabi dengan era saat ini.
Masjid di zaman Nabi masih berukuran sempit, sedangkan ukuran masjid zaman sekarang telah luas.
"Namun sekarang Masjid Nabawi kan luas, makanya Shalat Ied di dalam," tegasnya.
Ia menambahkan, shalat Idul Fitri bisa saja berlangsung di musholah. Namun demikian, kata musholah dalam hadis tidak mengandung arti dengan pemaknaan musholah di Indonesia.
"Jangan salah tangkap, ya, mengimajinasikan karena kalau disebutkan di Indonesia musholah itu tempatnya kecil, sempit," tuturnya.
"Kalau di mal pinggir toilet, bukan, ya. Musala yang dimaksud di sana artinya tempat shalat," sambungnya.
"Kalau dirujuk lagi ke situasi zaman Nabi SAW apabila disebutkan musholah berarti bukan masjid. Tempat di luar masjid yang biasanya lapangan," tambahnya lagi.
Ustaz Adi Hidayat menjelaskan persiapan ketiga wajib membekali shaf khusus untuk ibu yang membawa anak dan wanita haid.
"Yang menarik, Nabi mengajak perempuan, bahkan yang sedang tak shalat, ibu-ibu yang punya anak, yang penting dalam hadis ini adalah siapkan shaf terbaik untuk mereka," ujar Ustaz Adi Hidayat.
Ia berpesan pada Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) agar shaf khusus sudah disiapkan tanpa digunakan oleh pihak manapun, terkhusus laki-laki yang seharusnya tidak memakai shaf tersebut.
"DKM catat, jika ada perempuan yang tidak shalat, jangan satukan dengan shaf yang sedang shalat, misal ibu-ibu yang punya anak yang belum baligh, mereka tetap bisa hadir," sarannya.
"Jadi, meski mereka tak shalat tapi dengar khutbah, mereka akan mendapat pahala," tambahnya.
Lanjut, Ustaz Adi Hidayat menyarankan persiapan terakhir sangat wajib, yakni mengedarkan kotak infak. Hal ini membantu mereka untuk menerapkan anjuran memperbanyak infak saat Lebaran.
"Bawa infak terbaik, Nabi memerintahkan bilal berputar, siapkan kotak infak silahkan diedarkan itu sunnah, maka ketika sedang khutbah beredar kotak, itu tak apa sunnah," tukasnya.
(put/hap)
Load more