Tafsir Juz Amma: Surah Al-Kafirun dan An-Nasr, Ustaz Firanda Andirja
- Unsplash/Lexi T
tvOnenews.com — Surat Al-Kafirun dan An-Nasr merupakan dua surat pendek dalam Juz Amma yang sarat makna akidah dan sejarah dakwah Rasulullah ﷺ.
Kedua surat ini menegaskan prinsip tauhid yang murni sekaligus menjadi penanda fase akhir perjuangan Nabi Muhammad ﷺ.
Surat Al-Kafirun: Ketegasan dalam Tauhid, Bukan Toleransi Akidah
Surat Al-Kafirun turun di Makkah ketika kaum musyrikin Quraisy merasa lelah menghadapi dakwah Rasulullah ﷺ. Mereka mengajukan tawaran kompromi: setahun Rasulullah menyembah berhala mereka, dan setahun mereka menyembah Allah.
Tawaran ini tampak seperti “toleransi”, namun sejatinya adalah upaya mencampuradukkan ibadah. Allah pun menurunkan firman-Nya:
“Katakanlah, wahai orang-orang kafir…” (QS. Al-Kafirun: 1)
Panggilan ini bukan sekadar sebutan, tetapi pernyataan tegas tentang status akidah, bukan etika komunikasi sehari-hari.
Dalam kehidupan sosial, Rasulullah ﷺ tetap berinteraksi dengan non-Muslim secara santun, namun dalam urusan ibadah dan keyakinan, tidak ada ruang kompromi.
Pengulangan ayat dalam surat ini menegaskan dua hal penting:
- Rasulullah ﷺ tidak pernah dan tidak akan menyembah apa yang disembah kaum musyrikin.
- Kaum musyrikin tidak akan mengikuti tauhid yang dibawa Nabi ﷺ.
Penutup surat:
“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku”
bukanlah pengakuan bahwa semua agama benar, melainkan pernyataan berlepas diri (bara’ah) dari kesyirikan.
Ayat ini sering disalahpahami sebagai legitimasi pluralisme agama, padahal para ulama tafsir sepakat maknanya adalah pemisahan yang tegas dalam urusan ibadah.
Surat Al-Kafirun karena itu disebut juga Surat Al-Ikhlas dalam ibadah, karena mengajarkan pemurnian penghambaan hanya kepada Allah ﷻ.
Surat An-Nasr: Kabar Kemenangan dan Isyarat Perpisahan
Surat An-Nasr turun menjelang akhir kehidupan Rasulullah ﷺ, setelah peristiwa besar Fathu Makkah. Allah berfirman:
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia masuk agama Allah berbondong-bondong…”
Kemenangan ini menjadi titik balik besar dalam sejarah Islam. Kabilah-kabilah Arab yang sebelumnya menunggu sikap Quraisy akhirnya masuk Islam secara massal.
Tahun itu dikenal sebagai ‘Amul Wufud’, tahun kedatangan utusan-utusan Arab ke Madinah.
Load more