news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Sosok Madu, preman insyaf yang belajar membaca dari penjara.
Sumber :
  • Tangkapan layar Youtube Uya Kuya TV

Masuk Penjara Malah Nyaman, Residivis Pembantaian ini Ngaku ‘Enakan’ di Dalam Penjara, Ternyata Gara-gara ini

Mantan residivis yang telah 6 kali masuk bui mengaku lebih nyaman di dalam penjara dibandingkan di luar. Sosok yang dulunya berprofesi sebagai preman tersebut
Kamis, 11 Mei 2023 - 13:22 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com – Menyusul Tio Pakusadewo kini banyak mantan narapidana yang membagikan kisahnya selama hidup di penjara.

Salah satu napi yang berbagi kisah dalam kanal YouTube Uya Kuya adalah Madu. Diketahui Madu merupakan seorang residivis pembantaian yang dikenal garang di lingkungannya.

Dirinya telah 6 kali keluar masuk penjara untuk kasus yang sama yakni penganiayaan. Ketika diwawancara oleh Uya Kuya, Madu menyebut bahwa dirinya memiliki latar belakang yang cukup kelam.

Harus hidup di jalanan dan terpisah dari orangtua membuat Madu rentan terhadap penganiayaan sejak kecil. Dirinya sering dipukul oleh preman jalanan karena kesalahan-kesalahan sepele sejak usianya masih belia.

“Saya dulunya sering dipukulin sama preman masa kecil saya, saya karena kan jauh sama keluarga, saya hidup di jalan. Udah gitu sering ada kesalahan sedikit sering dipukulin,” ungkap Madu dalam kanal YouTube Uya Kuya (9/5/2023).

Karena dendam dengan preman-preman yang menghajarnya di masa kecil, Madu lantas melakukan penikaman terhadap salah satu dari mereka. Akibat dari ulahnya ini, Madu harus mendekam di penjara selama beberapa lama.

Penjara mempertemukan Madu dengan Heri Coet

Penjara menjadi tempat yang mempertemukan Madu dengan Heri Coet, ketua dari Yayasan Anugerah Insan Residivis (Yayasan AIR) yang saat itu telah menjadi senior di penjara.

Sementara Madu, ketika pertama kali dibui usianya masih berusia 15 tahun. Kala itu ia disuruh oleh Heri Coet untuk berbelanja di kantin. Namun karena tidak bisa baca tulis, Madu salah membelikan pesanan yang diminta oleh sang senior.

Karena iba, Heri Coet lantas menawarkan untuk mengajari Madu baca tulis. Namun dengan imbalan Madu harus memijit seluruh badan Heri Coet untuk belajar satu huruf.

Sejak berada di penjara Madu lantas belajar 1 huruf per hari sehingga bisa kini ia bisa membaca.

“Kalau di luar saya nggak mungkin bisa baca,” ungkap Madu.

“Dipikir-pikir maksudnya ya saya enak di dalam (penjara), makan gratis, makan 3 kali, tidur pun ditungguin, ke toilet nggak bayar, diusahain gimana itu (caranya masuk lagi),” tambah Madu.

Karena merasa nyaman di dalam penjara, Madu lantas mencari gara-gara kembali agar bisa dibui kembali. Cara yang dipilihnya agar bisa dipenjara kembali adalah melakukan pemukulan terhadap preman-preman yang dulu pernah melakukan penganiayaan terhadapnya.

Ketika kembali ke dalam penjara, Madu bertemu lagi dengan Heri Coet dan mereka melanjutkan pelajaran baca tulis. Keduanya lantas berpisah pada tahun 2003 ketika Heri Coet keluar dari penjara dan tidak berhubungan lagi setelah hari itu.

“Saya 6 kali di dalam ketemu terus sama dia (Heri Coet), pokoknya ada kabar A’ Heri di dalam pokoknya saya ngikutin,” ungkap Madu.

“2003 saya pisah, ya sama A’ Heri, 10 tahun dari situ, awalnya saya jauh dari agama, ya. Saya brutal hidup di jalan yang dipikirin gimana caranya cari duit. Saya cari duit yang nggak halala ajalah,” tambah Madu.

Pada tahun 2018 lantas dirinya bertemu kembali dengan Heri Coet dan ia lantas mengikuti sang seniornya ke Bandung. Sejak saat itu Madu mengikuti jejak Heri Coet untuk bekerja secara halal dan bergabung dengan Yayasan AIR. (Lsn)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

02:44
02:34
01:28
01:14
01:19
01:41

Viral