news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Dua preman legendaris Indonesia, Hercules dan John Kei..
Sumber :
  • Kolase tvOnenews.com / tangkapan layar youtube Seleb Oncam News / Istimewa

Sama-sama Menyeramkan, John Kei Dulu Pernah Habisi Nyawa Orang, Hercules Mengamuk Obrak-abrik Rumah Sakit, Ini Kisah 2 Preman Legendaris

Sepak terjang Hercules dan John Kei yang dikenal sebagai sosok yang banyak ditakuti orang dan banyak anggota, bukan tanpa alasan, keduanya pernah lakukan..
Kamis, 8 Mei 2025 - 13:21 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Di tengah ketegangan Hercules Ketua GRIB (Gerakan Indonesia Rakyat Bersatu) dengan mantan Panglima TNI, Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo gegara persoalan ucapan sang mantan Preman Tanah Abang 'bau tanah' ke Sutiyoso.

Mantan Panglima TNI, Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo langsung geram atas pernyataan Rosario de marshall atau lebih dikenal Hercules yang dinilai menghina Purnawirawan TNI, Letjen (Purn) Sutiyoso, yang dikenal sebagai  Wadanjen Kopassus tahun 1992.

Mantan Panglima TNI itu mengecam keras sikap Hercules yang dianggap tidak menghargai tokoh Militer Indonesia, Sutiyoso.

Ketegangan Hercules dan Mantan Panglima TNI, Gatot Nurmantyo.
Sumber :
  • Kolase tvOnenews.com / Antara

 

Hercules disebut tidak tahu diri, karena dalam perjalanannya ia mendapat bantuan juga dari Purnawirawan TNI.

“Saya sudah dua bulan lebih puasa bicara, tapi begitu soal Hercules, ini kurang ajar nih orang. Tidak tahu diri. Dia merasa paling hebat,” kata Gatot, dalam pernyataan keras yang menyita perhatian publik.

Tak hanya mengecam, Gatot juga mengungkit masa lalu Hercules yang dikenal sebagai mantan TBO (Tenaga Bantuan Operasi)—dan menyebut bahwa keberadaan Hercules di Jakarta tak lepas dari bantuan para purnawirawan TNI juga. 

“Ingat, kau dulu TBO. Bisa ke Jakarta juga karena bantuan purnawirawan. Kok ngomong seenaknya. Tidak sopan,” tegasnya.

"Sudah jadi raja kau? kamu itu preman, preman yang memakai pakaian Ormas, saya bisa buktikan kalau kau itu preman," sambungnya.

Dalam kesempatan lainnya, Hercules pun tak tinggal diam, ia menantang balik Gatot Nurmantyo sambil mengatakan tidak takut kepada mantan Panglima TNI itu.

Dalam sebuah pernyataan terbuka melalui kanal YouTube Seleb Oncam yang tayang Jumat, 2 Mei 2025, Hercules memberikan klarifikasi sekaligus menyampaikan ketegasannya.

“Kepada Saudara Gatot Nurmantyo, saya tidak takut sama Anda. Saya tidak mencederai Anda. Kenapa Anda bengis banget gitu loh? Aku salah apa?” ujar Hercules.

Dengan gestur sambil menunjuk-nunjuk, Hercules menyampaikan bahwa pernyataannya sama sekali tidak ditujukan kepada Gatot Nurmantyo secara pribadi. 

Ia juga mengaku tidak mengerti mengapa Gatot begitu keras menanggapi ucapannya, sementara sosok yang sebenarnya ia singgung, yakni Sutiyoso, tidak memberikan respons apa pun. 

“Kok Pak Sutiyoso diam saja, Pak Gatot kayak orang kebakaran jenggot gitu loh,” tambahnya. 

Lantas seperti apa rekam jejak John Kei dan Hercules?

Tak hanya Hercules, ada juga sosok John Kei, mantan preman yang memiliki banyak anggota dan bernyali besar.

Dua sosok preman legendaris Indonesia, John Kei dan Hercules namanya sudah banyak dikenal di Indonesia, dengan reputasinya di masa lalu yang identik dengan premanisme.

Keduanya sama-sama mempunyai catatan gelap di masa lalu, apalagi mereka berdua identik dengan sebagai sosok yang preman yang seram dan sama-sama dikenal bernyali besar.

Bisa dibilang, siapapun akan malas jika sudah harus berurusan dengan dua sosok preman legendaris, John Kei dan Hercules.

Lantas, seperti apa kisah premanisme John Kei dan Hercules di masa lalu?

Kisah John Kei

Kolase foto Hercules dan John Kei, dua sosok mantan preman yang ditakuti di Jakarta
Sumber :
  • Istimewa

 

Dimulai dari sosok John Refra alias John Kei dikenal sebagai sosok yang banyak ditakuti orang. Hal itu bukan tanpa alasan, John merupakan salah satu preman yang ditakuti banyak orang.

Reputasi John Kei di dunia kriminal bukan kaleng-kaleng, dia tergolong preman yang urusan kriminal kelas berat.

Bahkan kebanyakan orang justru cenderung menghindari berurusan dengan John Refra alias John Kei.

Saking dianggap menakutkan, John Kei sang preman itu pun dujuluki sebagai The Godfather.

Meski begitu, saat di Lapas Nusakambangan, ada yang menarik terlihat dari sosok John Kei saat itu.

Adapun John Kei sang preman yang menakutkan dan dikenal kejam telah berubah menjadi sosok yang cukup lebih baik setelah mendekam di penjara Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Dalam wawancara bersama Andy F Noya pada acara Kick Andy, John Kei memberikan kesaksian tentang perjalanan hidupnya selama di mendekam di penjara Nusakambangan.

Pria kelahiran 10 September 1969 lahir asal pulau Kei, Ambon, Maluku Tenggara itu mengatakan kepada Andy F Noya bahwa masa kecilnya dilalui dengan kemiskinan.

"Saya lahir dari keluarga yang merupakan petani, bapak saya petani, ibu saya petani, miskin. Masa kecil saya setiap pulang sekolah, senior-senior kita adu kita untuk berantem (bully), kalau berantem, kalau satu kalah, udah jadi dua lawan satu, jadi dari kecil saya sebenarnya sudah hobi berantem," kata John Kei seperti dilansir dari tayangan Kick Andy Metro TV, Jumat (12/4/2019).

Menurut John Kei, masa kecilnya pahit, karena harus melalui kemiskinan, dan bully.

"Pahit masa kecil saya, miskin dan sering berkelahi," ujar John Kei.

Pada kesempatan wawancara tersebut, Andy F Noya menanyakan pendidikan John Kei.

"Anda pendidikannya sampai di mana?," tanya Andy F Noya.

Kemudian, John Kei menjawab pertanyaan Andy F Noya.

"Saya di SMEA, seharusnya di STM, dan sebetulnya ini bertentangan dengan keinginan saya, tapi karena orang tua miskin, maka saya sekolah di SMEA, dari situ saya merasa sangat tidak sesuai, makannya saya jadi malah suka berantem-berantem di sekolah, akhirnya sekolahnya putus di SMEA waktu mau naik ke kelas dua," kata John Kei.

Meski begitu, John Kei mengaku mendapat ijazah setelah mengikuti ujian persamaan.

"Saya ke Jakarta, akhirnya di sana saya dapat ijazah persamaan (selevel SMA)," kata John Kei.

Merantau ke Surabaya

Kisah John Kei meninggalkan kampung halaman pertama kalinya adalah untuk menuju Surabaya, Jawa Timur.

Saat itu, John Kei meninggalkan kampung halaman dengan usianya yang masih tergolong muda, yakni 18 tahun.

"Saya punya tekad, karena hidup di kampung itu miskin, kalau miskin, kan, dilihat orang, kan, hina (direndahkan). Di situ saya punya tekad, saya harus keluar dari kampung, saya harus berhasil (di luar) dan nanti balik ke kampung," kata John Kei.

Perjalanannya ke Surabaya pun tidak berjalan mulus, John Kei yang tidak mempunyai uang sepeser pun, hanya bermodalkan nekat memasuki kapal menuju Surabaya.

"Saya sama sekali tidak punya uang, akhirnya saya loncat masuk ke kapal tujuan Surabaya, kemudian saat ditagih tiket, saya jelaskan pada petugasnya, bahwa saya tidak punya uang, tidak punya tiket, dan akhirnya saya diminta untuk bekerja membersihkan kapal," kata John Kei.

Sesampainya di Surabaya, John Kei pun tinggal bersama saudaranya, selama kurang lebih tiga bulan.

Namun, tinggal bersama saudaranya selama tiga bulan, diakui John Kei terdapat ketidakcocokan antara dia dan saudaranya itu.

Akhirnya, John Kei pun memutuskan untuk meningglakan saudaranya dan hidup di jalanan.

"Mungkin 2, 3 bulan tinggal bersama, dan enggak cocok, akhirnya keluar dan tidur di emperan jalan, menggelandang di jalanan Surabaya," kata John Kei.

Pertama Kali Membunuh

Setelah di Surabaya, John Kei akhirnya memutuskan untuk hijrah ke Jakarta.

"Saya naik kereta Jayabaya kemudian turun di Jatinegara, naik bajaj ke Berlan," kata John Kei.

Kemudian, petualangan pun dimulai, pada 1992, John Kei menjadi seorang security di sebuah tempat hiburan malam di Jakarta. 

"Saya jadi security di sana, tempatnya banyak bule-bule, waktu itu ada yang ribut (berantem), saya pisahin, terus saya dipukul dari belakang. Akhirnya sempat berantem, polisi datang menyelesaikan, saya kemudian pulang ke rumah, masih penasaran, balik lagi ambil golok, niat saya tadinya, saya enggak mau bunuh dia, cuma mau kasih besutan, ternyata diluar dugaan, parang pas kena leher, dan dia mati," ujar John Kei.

Tak hanya itu, selain korban yang John Kei bunuh, ia pun merasa belum puas kemudian mengejar pihak-pihak lain yang terlibat perkelahian dengannya itu.

"Yang lain-lain saya kejar, balik lagi, potong lagi kakinya, mereka ada banyak, sekitar 5 sampai 6 orang," katanya.

John Kei, mantan preman legendaris berjuluk "The Godfather"
Sumber :
  • Antara

 

Merasa ngeri dengan cerita John Kei menghabisi orang, kemudian Andy F Noya pun menanyakan soal umurnya saat menghabisi nyawa orang.

"Berapa umur Anda saat pertama kali membunuh orang?" kata Andy F Noya.

Kemudian John Kei pun menjawab pertanyaan Andy F Noya.

"Saya sekitar umur 22 tahun," jawab John Kei.

Kemudian, Andy F Noya bertanya lagi pada John Kei soal penyesalan membunuh orang.

"Waktu itu saya tidak menyesal bunuh orang, saya merasa jago kalau bunuh orang," kata John Kei.

Setelah kasus pembunuhan tersebut, John Kei pun menjadi buronan polisi, tapi tak lama kemudian, ia pun menyerahkan diri ke polisi.

"Waktu itu saya buron, tapi waktu tanggal 24 Mei saya menyerahkan diri ke Polda Metro Jaya," kata John Kei.

Dan masa-masa perkelahian pun tidak berhenti sampai disitu, di dalam lapas, John Kei juga masih terlibat perkelahian dengan sesama narapidana.

"Ribut satu penjara, keroyok saya sama teman saya, ribut terus," kata John Kei.

Kisah Hercules Obrak-abrik Rumah Sakit

Sementara itu, sosok mantan preman legendaris Rozario de Marshall atau yang lebih populer dengan nama Hercules masih menjadi daya tarik untuk diperbincangkan, terutama kini kontroversinya saat memimpin Ormas GRIB.

Hal itu tentu saja bukan tanpa alasan, sebab dulu Hercules yang terkenal sebagai preman legendaris itu sosoknya banyak ditakuti orang.

Bahkan, banyak orang yang justru menghindari berurusan dengan sang preman legendaris, Hercules.

Berbicara tentang sosok Hercules yang dulu sebelum bertaubat, ada satu kisahnya yang tak terlupakan.

Ya, kisah itu adalah sang preman legendaris Hercules pernah 'mengobrak-abrik' Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Seperti yang tertera dalam buku X-Files (terbitan tahun 2013) karya ahli forensik Munim Idries, keterangan di buku itu menyebutkan kisah Hercules bikin Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo porak-poranda, hingga membuat meja bedah berantakan, dan lemari pendingin pun dibobol.

Saat itu, Hercules datang bersama puluhan teman-temannya ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Adapun tujuan Hercules cs saat itu menyerbu Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo adalah untuk melakukan protes akibat tak terima jasad temannya bernama Fernando Helio Prada dipenuhi banyak jahitan.

Untuk diketahui, Fernando Helio adalah teman Hercules sesama orang Timor-timur.

Adapun Fernando Helio Prada tewas akibat luka tusuk di bagian punggung.

Rekan Hercules itu ditikam oleh dua orang pemuda di Kafe Bengkel di Jalan Sudirman, Senin (30/10/2000).

Ketua umum GRIB Jaya, Hercules Rosario Marshal.
Sumber :
  • tvOnenews.com/Julio Trisaputra

 

Saat itu, Fernando bekerja sebagai petugas parkir sekaligus keamanan di Kafe Bengkel.

Selesai bertugas, sekitar pukul 02.00 WIB, Fernando memasuki sebuah mobil Toyota Kijang di area parkir tempatnya bekerja.

Di dalam mobil tersebut terdapat dua pemuda bernama Rifani dan Andi.

Terjadi percekcokan dalam mobil tersebut sehingga mengakibatkan Fernando Helio Prada ditikam oleh Rifani di bagian punggung.

Setelah ditikam, Fernando Helio Prada dilempar dari mobil dan ditolong oleh teman-temannya.

Sementara, Rifani dan Andi melarikan diri menggunakan mobil tersebut.

Fernando yang terluka dilarikan ke Rumah Sakit Pertamina Kebayoran Baru, namun dalam perjalanan nyawanya tidak dapat ditolong.

Kemudian, pagi harinya, jasad Fernando Helio Prada dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Pihak polisi pun saat itu disebut meminta mayat Fernando Helio Prada untuk diautopsi.

Kembali ke tujuan Hercules datang ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo

Emosi Hercules cs meledak saat itu dikarenakan autopsi yang dilakukan dokter Agus terhadap Fernando Helio Prada.

Dalam berbagai sumber disebutkan, pada Selasa (31/10/2000), pukul 12.30 WIB, rekan-rekan Fernando Helio Prada melakukan protes karena merasa tidak terima jasad Fernando Helio dipenuhi jahitan.

Mereka memprotes dokter yang melakukan autopsi karena ditudingnya dilakukan tanpa persetujuan keluarga.

Namun dalam buku berjudul Indonesia X-File itu, pihak rumah sakit Cipto Mangunkusumo justru mengaku sudah membicarakan dan mendapat izin dari keluarga korban.

Rekan-rekan Fernando Helio Prada saat itu menduga dan menuduh dokter telah mencuri organ-organ penting dari tubuh temannya.

Ketegangan itu semakin memuncak ketika Hercules datang. Mereka memaksa masuk ruang kerja para dokter.

Saat itu, dr Munim yang pernah mengautopsi jasad Munir, mencoba menenangkan Hercules dan teman-temannya yang sedang emosi.

Adapun dr Munim, saat itu menjelaskan bahwa organ Fernando Helio Prada tidak ada yang hilang dan mencoba memberitahu prosedur autopsi yang dilakukan.

Namun, saat itu dr Munim justru dijadikan sandera agar membuka kembali jahitan jasad Fernando Helio.

Kakak dari Menteri Keuangan Sri Mulyani, Agus Purwadianto juga saat itu mencoba untuk ikut menjelaskan kepada Hercules dan teman-temannya yang sedang emosi, namun tidak didengar.

Justru, Agus Purwadianto malah dibogem hingga bibirnya berdarah.

Saat itu, pihak rumah sakit Cipto Mangunkusumo pun langsung menghubungi kepolisian.

Buntut kejadian tersebut, para dokter forensik RSCM pun mogok kerja selama tiga hari akibat trauma dengan aksi protes Hercules cs.

Namun pada akhirnya, akibat ulah Hercules dan tiga rekannya itu, mereka saat itu ditangkap dan diadili di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. 

Adapun pada Selasa 20 Desember 2000, Hercules dan ketiga rekannya divonis 2 bulan penjara. (abs/ind)


 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

02:44
02:34
01:28
01:14
01:19
01:41

Viral