- A24
Marty Supreme: Ketika Ambisi Tidak Lagi Sekadar tentang Mimpi
Jakarta, tvOnenews.com - Biasanya, ambisi sering kali digambarkan sebagai sesuatu yang heroik dalam film olahraga. Namun dalam film Marty Supreme, mimpi tidak selalu terlihat mulia. Terkadang, mimpi justru tampak egois, manipulatif, bahkan narsistik.
Film karya sutradara Josh Safdie ini menjadikan ambisi bukan sekadar motivasi, melainkan kekuatan yang memotivasi sekaligus merusak tokoh utamanya secara perlahan.
Dirilis oleh A24 pada 2025, film ini mengikuti perjalanan Marty Mauser, seorang pemain pingpong dari New York pada era 1950-an yang bermimpi menjadi juara dunia.
Karakter Marty diperankan oleh Timothée Chalamet dengan intens, sehingga membuat banyak kritikus menyebutnya sebagai salah satu penampilan terbaik dalam karier sang aktor
Namun alih-alih menjadi film olahraga yang memperlihatkan perjalanan menuju kemenangan, Marty Supreme lebih terasa sebagai potret psikologis tentang obsesi, ego, dan cara bagaimana seseorang bisa membangun mitos besar tentang dirinya sendiri.
Pada permukaannya, kisah film ini tampak sederhana. Marty adalah pemuda Amerika di New York yang memiliki mimpi besar yaitu menjadi pemain pingpong terbaik di dunia.
Tetapi perjalanan menuju mimpi itu tidak pernah digambarkan sebagai proses yang bersih atau inspiratif.
Marty digambarkan sebagai sosok yang bersedia melakukan apa saja demi menuju ketenaran. Dia tidak ragu untuk menipu, memanipulasi orang lain, bahkan merusak hubungan personal.
Mimpi Marty tidak lagi sekadar tujuan hidup, melainkan obsesi eksistensial. Ia tidak hanya ingin menang tapi tujuan paling pentingnya adalah ia ingin diakui.
Karakter Marty juga menarik karena memperlihatkan apa yang dalam psikologi disebut sebagai narcissistic self-construction, yaitu proses membangun identitas diri sebagai sosok luar biasa, bahkan ketika realitas belum tentu mendukungnya.
Sejumlah kritikus film bahkan menggambarkan Marty sebagai figur yang narsistik sekaligus egomaniak, dan menjadi seseorang yang hidup dari cerita besar tentang dirinya yang ia ciptakan sendiri.
Ia terus meyakinkan orang-orang di sekitarnya bahwa dirinya adalah jenius pingpong yang belum ditemukan dunia.
Dalam salah satu ulasan kritikus, Marty bahkan disebut sebagai self-mythologizing con artist atau seorang penipu yang hidup dari mitologi pribadi yang ia bangun sendiri.
Fenomena ini selaras dengan teori kepribadian narsistik yang dibahas oleh psikolog W. Keith Campbell dan Joshua D. Foster dalam penelitian mereka berjudul “The Narcissistic Self: Background, an Extended Agency Model, and Ongoing Controversies” yang diterbitkan di jurnal Journal of Personality pada 2007.
Teori tersebut menjelaskan bahwa individu dengan kecenderungan narsistik sering menunjukkan citra diri yang megalomania, kemampuan memikat secara sosial, serta kecenderungan membangun narasi kehebatan diri untuk menjaga harga diri.
Marty tampak memiliki semua karakteristik tersebut. Ia mampu membuat orang percaya pada visinya, tetapi pada saat yang sama sering menggunakan pesona itu untuk memanipulasi keadaan.
Menariknya, film ini tidak sepenuhnya menghakimi karakter tersebut. Penonton justru diajak memahami bagaimana ego dan mimpi dapat tumbuh bersamaan hingga sulit dipisahkan.
Jika banyak film olahraga menjual gagasan American Dream, Marty Supreme justru memperlihatkan sisi retaknya.
Film ini digambarkan sebagai kisah tentang toxic ambition, ambisi yang begitu kuat hingga merusak hampir semua hal di sekitarnya.
Marty digambarkan bukan hanya sebagai atlet, tetapi juga sebagai penjual sepatu, penjudi pingpong, sekaligus hustler yang selalu mencari celah untuk naik kelas.
Dalam konteks sosiologi, perjalanan hidupnya dapat dibaca melalui strain theory dari Robert K. Merton dalam “Social Structure and Anomie”.
Teori ini menjelaskan bahwa ketika masyarakat menjanjikan kesuksesan tetapi tidak menyediakan akses yang adil untuk mencapainya, sebagian individu akan mencari jalan alternatif legal ataupun ilegal untuk mencapai tujuan tersebut.
Marty adalah gambaran karakter yang hidup di dalam tekanan itu. Ia tidak sekadar ingin sukses. Ia merasa dunia berutang kesuksesan kepadanya.
Kekuatan film ini juga sangat bergantung pada performa Timothée Chalamet sebagai Marty. Banyak kritikus menilai perannya sebagai salah satu transformasi akting paling menarik dalam kariernya.
Kritikus film David Ehrlich bahkan menyebut penampilan Chalamet sebagai salah satu performa paling monumental dalam sinema modern.
Chalamet memainkan Marty dengan energi yang hampir tidak pernah berhenti. Gerak tubuhnya gelisah, dialognya cepat, dan ekspresinya selalu berada di antara percaya diri dan kecemasan.
Di satu sisi, Marty terlihat seperti jenius pingpong. Namun beberapa detik kemudian ia bisa tampak seperti seorang penipu yang mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Kombinasi antara energi, kerentanan emosional, dan pesona manipulatifnya justru membuat karakter ini sulit untuk disukai sepenuhnya, tetapi juga mustahil untuk diabaikan.
Secara visual, film ini juga memiliki identitas yang kuat. Sinematografi digarap oleh Darius Khondji yang memilih merekam film menggunakan format 35mm.
Pilihan ini memberi tekstur gambar yang terasa kasar, gritty, dan penuh energi, menciptakan atmosfer New York tahun 1950-an yang terasa hidup.
Kamera dibuat mengkuti karakter dalam frame close up menciptakan rasa klaustrofobik dan intens, seolah penonton ikut terjebak di dalam pikiran Marty.
Dalam beberapa adegan pertandingan pingpong, kamera mengikuti bola dengan ritme cepat sehingga duel terasa seperti pertarungan psikologis antara dua ego besar.
Di departemen musik, komposer Daniel Lopatin komposer yang dikenal lewat proyek musiknya Oneohtrix Point Never juga tidak kalah jenius.
Alih-alih menghadirkan musik kemenangan yang heroik, Lopatin justru membangun atmosfer yang gelisah dan eksentrik.
Film ini juga menyelipkan beberapa lagu pop klasik seperti “Forever Young” dari Alphaville, “Change” dari Tears for Fears, serta “I Have the Touch” dari Peter Gabriel. Lagu-lagu tersebut menghadirkan nuansa nostalgia sekaligus ironi terhadap mimpi besar yang terus dikejar Marty.
Sebagai film solo pertama Josh Safdie setelah lama bekerja bersama saudaranya, gaya penyutradaraan dalam Marty Supreme masih mempertahankan ciri khas Safdie dengan tokoh utama yang bermasalah secara moral, tempo cerita yang intens, serta dunia urban yang kacau dan penuh karakter eksentrik.
Film ini juga dianggap sebagai versi olahraga dari film Safdie sebelumnya, Uncut Gems (2919) yang juga sangat chaos dan intens.
Overall, Marty Supreme tidakbukan benar-benar menceritakan kisah tentang pingpong. Film ini lebih menceritakan tentang seseorang yang tidak bisa berhenti mengejar sesuatu, bahkan ketika ia sendiri tidak lagi yakin mengapa ia mengejarnya.
Marty percaya bahwa kemenangan akan membuktikan dirinya berharga. Namun semakin ia mengejar mimpi itu, semakin ia kehilangan dirinya sendiri.
Film ini justru mempertanyakan sesuatu yang lebih mendasar, apa yang tersisa dari seseorang ketika seluruh hidupnya berubah menjadi proyek ambisi pribadi?