news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Penyanyi mezzo-soprano asal Indonesia Beatrice Jean Consolata Gobang atau Beatrice Gobang, dalam debut solo resitalnya di jantung New York City..
Sumber :
  • Ist

Debut di New York, Resital Beatrice Gobang Gaungkan Musik Lintas Tradisi ke Panggung Dunia

Penyanyi mezzo-soprano muda asal Indonesia, Beatrice Jean Consolata Gobang alias Beatrice Gobang, menggelar debut solo resitalnya di jantung New York City bersama pianis Ayunia Indri Saputro.
Kamis, 19 Maret 2026 - 02:39 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com — Kolaborasi musikal itu membuka malam yang teduh dengan ekspresi keintiman zaman Barok melalui komposisi “Vittoria, mio core!” dari Giacomo Carissimi. Suasana hangat segera menyeruak ke seisi ruangan Piano-Piano Theater di kawasan Manhattan, New York, pada Jumat, 13 Maret 2026.
 
Bertajuk “Poetry, Roots, Resonance”, kolaborasi ini menghadirkan mezzo-soprano muda Indonesia Beatrice Jean Consolata Gobang, yang disapa Beatrice Gobang, dalam debut solo resitalnya di jantung New York City bersama pianis Ayunia Indri Saputro.
 
Resital ini melantunkan melodi perjalanan musikal yang menghubungkan puisi, sejarah, dan ingatan budaya lintas abad. Di bawah arahan artistik Aning Katamsi, program yang disajikan menelusuri berbagai tradisi musikal yang membentuk dunia art song.
 
Teks komposisi “Vittoria, mio core!” yang mengawali resital berasal dari puisi karya Domenico Benigni yang digubah oleh Carissimi (1605-1674), salah satu maestro musik Barok paling terkenal dari Mazhab Musik Romawi. Ia mengalunkan kedalaman emosional serta menyiratkan makna penebusan—merujuk pada “Vittoria” sebagai kemenangan atau kebebasan. 
 
Disusul dua karya anggun WA Mozart (1756-1791) yakni “An Chloë” dan “Voi che sapete”, sebuah aria dari opera “Le Nozze di Figaro” berlatar Spanyol akhir abad ke-18.
 
Vokal Beatrice berdialog selaras dengan permainan piano Ayunia. Memasuki dunia Lied Jerman, melantunkan puisi sebagai inti ekspresi musikal dari para komposer dunia (1700-an hingga awal 1900) yakni “Lachen und Weinen” karya Franz Schubert, “Schwanenlied” karya Fanny Mendelssohn-Hensel, “Herbstlied” karya Felix Mendelssohn, dan “Der Gärtner” dari Hugo Wolf.
 
Setelah menelusuri tradisi Eropa, secara perlahan arah musikal bergeser menuju Indonesia, menghadirkan tembang puitik “Setitik Embun” karya Mochtar Embut (1934-1973) dan “Cempaka Kuning” karya Sjafii Embut (1935-1987). Melalui kedua karya ini, keindahan puisi dan ekspresi musikal Indonesia diperkenalkan kepada pendengar internasional.
 
Selepas jeda, resital membuka lanskap musikal yang lebih luas. Melantunkan “Tiga Sajak Pendek” karya Ananda Sukarlan (1968) dari puisi Sapardi Djoko Damono yang berdampingan dengan melodi Prancis “Les chemins de l’amour” karya Francis Poulenc (1899-1963).
 
Di piano, Ayunia kemudian memainkan “Pagodes from Estampes” karya Claude Debussy (1862-1918). Karya ini lahir dari kekaguman Debussy terhadap bunyi gamelan Jawa yang ia dengar di Paris pada akhir abad ke-19. Setelah itu, program kembali pada akar tradisi Nusantara melalui lagu rakyat “Mana Lolo Banda” dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, sebelum diakhiri dengan sentuhan sederhana “Simple Gifts” karya komposer Amerika Aaron Copland (1900-1990).
 
Beatrice dan Ayunia kemudian memberi dua tambahan pada encore yakni “Le Violette” karya Alessandro Scarlatti (1660-1725) lalu ditutup dengan “Indonesia Pusaka” karya Ismail Marzuki (1914-1958). Melalui rangkaian repertoar ini, keduanya menghidupkan perjalanan emosional dari berbagai akar tradisi hingga resonansi yang bergema. Serta menciptakan pengalaman musikal yang reflektif, hangat, dan penuh makna.

Berita Terkait

1
2 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

04:31
02:55
06:37
07:10
10:08
03:15

Viral