- Kemenag
Perkuat Kelembagaan Pesantren, Kemenag Jadikan Spirit Kiai Wahab Hasbullah sebagai Sumber Inspirasi
Jakarta, tvOnenews.com - Kementerian Agama (Kemenag) mengulas pentingnya menghidupkan kembali semangat perjuangan dan pemikiran KH. Abdul Wahab Hasbullah sebagai dasar memperkuat moderasi beragama, transformasi pesantren, dan nilai kebangsaan di tengah tantangan sosial keagamaan saat ini.
Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan bedah buku KH. Abdul Wahab Hasbullah: Pendiri NU Penggerak NKRI bertajuk The Mastermind of Movement: Mengupas Tuntas Seni Kepemimpinan Inklusif dan Dialektika Moderasi yang digelar di Universitas Islam Negeri Jurai Siwo Lampung, Sabtu (16/5/2026).
Forum tersebut menjadi ruang refleksi untuk mengangkat kembali pemikiran dan perjuangan Kiai Wahab Hasbullah sebagai salah satu tokoh penting pendiri Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus penggerak kebangsaan.
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar yang hadir melalui tayangan video menegaskan pesantren merupakan lembaga pendidikan asli Indonesia yang terbukti mampu bertahan menghadapi perkembangan zaman.
Menurutnya, pesantren memiliki peran strategis dalam menjaga moral bangsa dan mencetak generasi pemimpin yang berjiwa nasionalis dan religius.
Dalam sambutannya, Menag menyampaikan pemerintah saat ini sedang memperkuat kelembagaan pesantren melalui transformasi Direktorat Jenderal Pesantren di lingkungan Kementerian Agama.
Ia menilai langkah tersebut penting agar pesantren tidak hanya menjadi benteng moral, tetapi juga berkembang menjadi pusat inovasi, pemberdayaan ekonomi umat, serta lembaga pendidikan yang mampu bersaing di tingkat global.
“Jika dahulu KH. Abdul Wahab Hasbullah menggunakan organisasi dan diplomasi untuk menjaga bangsa, maka hari ini kita harus menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjaga kedaulatan bangsa serta martabat kemanusiaan,” ujar Menag.
Nasaruddin juga mengingatkan pentingnya meneladani pemikiran Kiai Wahab dalam membangun pendidikan Islam yang moderat, adaptif, dan sesuai perkembangan zaman.
Direktur Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said, mengatakan sejarah perjuangan bangsa tidak dapat dipisahkan dari kontribusi pesantren dan tokoh besar seperti Kiai Wahab Hasbullah.
“Ketika berbicara tentang Indonesia dan pesantren, maka tidak lengkap jika tidak membicarakan Kiai Wahab Hasbullah. Beliau bukan hanya pendiri organisasi, tetapi juga pemikir kebangsaan yang menjaga keutuhan Indonesia melalui pendekatan keagamaan yang moderat,” katanya.
Menurut Basnang, warisan pemikiran Kiai Wahab masih relevan untuk menghadapi tantangan intoleransi, kekerasan, dan perpecahan sosial di Indonesia.
Sementara itu, perwakilan keluarga besar KH. Wahab Hasbullah, Ita Rahmawati, menyebut Kiai Wahab sebagai “arsitek dialektika moderasi” yang mampu memadukan nilai agama dan kebangsaan dalam perjuangannya.
“Kiai Wahab mengajarkan bahwa moderasi bukan berarti kehilangan pendirian, tetapi kemampuan menempatkan kebenaran di tengah berbagai ekstremitas,” ujarnya.
Ia menjelaskan buku tersebut membahas kepemimpinan Kiai Wahab melalui pendekatan The Mastermind of Movement, yang menggambarkan kemampuannya membangun gerakan sosial dan keagamaan secara inklusif, strategis, serta visioner.
Kiai Wahab Hasbullah dikenal sebagai salah satu tokoh utama di balik berdirinya Nahdlatul Ulama pada 1926 bersama KH. Hasyim Asy'ari. Ia juga memiliki peran besar dalam perjuangan Komite Hijaz dan menggagas gerakan intelektual serta kebangsaan seperti Taswirul Afkar dan Nahdlatul Wathan.
Rektor UIN Jurai Siwo Lampung, Ida Umami, mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk menghadirkan kembali semangat perjuangan ulama pesantren dalam membangun Indonesia.
“Bedah buku ini bukan sekadar membaca sejarah tokoh, tetapi memahami bagaimana pemikiran Kiai Wahab Hasbullah menjadi fondasi moderasi, pendidikan, dan kecintaan terhadap NKRI. Spirit itulah yang penting diwariskan kepada generasi muda,” ujar Ida.
Kegiatan bedah buku menghadirkan tiga narasumber, yakni Drs. KH. Abdul Mun'im DZ selaku penulis buku KH. Abdul Wahab Hasbullah, Ela Siti Nuryamah (Bupati Lampung Timur), serta Ahmad Ishomuddin (Akademisi dan Tokoh NU Lampung).
Sekitar 1.500 peserta dari kalangan pesantren, akademisi, mahasiswa, organisasi keagamaan, dan pemerintah daerah turut hadir dalam forum tersebut.
Acara juga diwarnai penguatan komitmen bersama melalui kampanye “Pesantren Stop Kekerasan” guna menciptakan lingkungan pendidikan pesantren yang aman, inklusif, dan humanis. (rpi)