news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Wakil Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus pakar antropologi agama, Imam Subchi.
Sumber :
  • Istimewa

Era Digital Buat Pergeseran Cara Belajar Agama Kaum Muda, Ini Kata Akademisi

Maraknya hijrah digital dan influencer agama di era digital turut menyita perhatian akademisi.
Kamis, 21 Mei 2026 - 23:59 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Maraknya hijrah digital dan influencer agama di era digital turut menyita perhatian akademisi.

Wakil Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus pakar antropologi agama, Imam Subchi mengatakan fenomena tersebut turut menunjukkan adanya perubahan besar cara masyarakat belajar agama terkhusus generasi muda.

Ia menilai adanya transformasi budaya religius yang sangat kuat di tengah masyarakat digital saat ini.

“Hari ini media sosial sudah menjadi ruang baru belajar agama. Anak muda mengaji lewat YouTube, TikTok, Instagram, podcast, hingga komunitas digital. Ini realitas sosial yang tidak bisa dihindari,” kata Imam kepada awak media, Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Imam menjelaskan Survei Indonesia Millennials and Gen Z Report 2026 dari IDN Research mencatat sekitar 65 persen generasi milenial dan Gen Z mengakses konten spiritual atau keagamaan setiap minggu melalui YouTube dan media sosial.  

Sementara itu, laporan We Are Social 2025 menunjukkan jumlah pengguna media sosial di Indonesia telah mencapai sekitar 143 juta akun pengguna, bahkan lebih dari 207 juta penduduk Indonesia aktif menggunakan media sosial.  

Menurut Imam kondisi tersebut membuat otoritas agama ikut mengalami perubahan besar berupa banyak orang lebih mudah menjadikan influencer media sosial sebagai rujukan utama.

“Sekarang seseorang bisa dianggap ahli agama karena viral, sering muncul di FYP, atau punya jutaan followers. Padahal otoritas agama seharusnya dibangun dari proses belajar yang panjang, kedalaman ilmu, dan tanggung jawab moral,” katanya.

Ia menjelaskan budaya media sosial yang cepat dan serba singkat membuat masyarakat lebih menyukai potongan video pendek dibanding penjelasan agama yang utuh dan mendalam.

Akibatnya, persoalan agama yang sebenarnya kompleks sering dipahami secara instan.

“Jangan sampai agama hanya menjadi konten dan simbol visual semata. Hijrah bukan sekadar perubahan penampilan atau unggahan media sosial, tetapi juga perubahan akhlak, cara berpikir, dan kepedulian sosial,” ujarnya.

Imam menilai media sosial membuka peluang besar bagi dakwah dan penyebaran pengetahuan agama yang lebih luas. 

Namun di sisi lain, algoritma media sosial juga berisiko mendorong munculnya konten agama yang sensasional, emosional, bahkan memecah belah karena lebih mudah viral.

Karena itu, ia menekankan pentingnya literasi digital keagamaan agar masyarakat tidak mudah menjadikan popularitas sebagai ukuran utama otoritas agama.

“Tidak semua yang viral memiliki dasar ilmu yang kuat. Masyarakat harus kritis dalam memilih sumber belajar agama dan tidak mudah menerima potongan ceramah tanpa memahami konteksnya,” katanya.

Sebagai perguruan tinggi Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menurutnya, memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan narasi keagamaan yang moderat, terbuka, dan relevan dengan generasi digital.

“Kampus Islam harus hadir di ruang digital dengan pendekatan yang mencerahkan, mudah dipahami, tetapi tetap memiliki kedalaman ilmu. Ruang digital tidak boleh hanya dipenuhi logika viralitas,” ujarnya.

Ia menambahkan, perkembangan teknologi seharusnya menjadi momentum memperluas literasi dan memperkuat nilai-nilai keagamaan yang damai dan inklusif, bukan justru memperdangkal pemahaman masyarakat terhadap agama.

“Teknologi hanyalah alat. Yang paling penting adalah bagaimana agama tetap menjadi sumber etika, kedamaian, dan kemanusiaan di tengah perubahan dunia digital yang sangat cepat,” pungkasnya.(raa)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:29
07:08
00:58
01:40
02:13
02:51

Viral