news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Calon Ketua Umum BPP HIPMI 2026–2029, Anthony Leong..
Sumber :
  • Istimewa

Calon Ketua Umum BPP HIPMI Anthony Leong Usulkan Strategi Komprehensif Hadapi Penguatan Dolar AS

Calon Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) 2026–2029, Anthony Leong meminta pemerintah segera mengambil langkah strategis dan terukur dalam menghadapi penguatan dolar Amerika Serikat.
Jumat, 29 Mei 2026 - 13:32 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Calon Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) 2026–2029, Anthony Leong meminta pemerintah segera mengambil langkah strategis dan terukur dalam menghadapi penguatan dolar Amerika Serikat yang terus memberi tekanan terhadap rupiah. Menurutnya, situasi nilai tukar yang mendekati level Rp17.900 per dolar AS tidak boleh hanya disikapi dengan menjaga sentimen pasar, tetapi harus direspons melalui kebijakan nyata yang mampu menjaga stabilitas dunia usaha dan daya beli masyarakat.

Anthony menilai sektor usaha nasional, khususnya industri yang masih bergantung pada bahan baku impor, saat ini menghadapi tekanan cukup berat akibat meningkatnya biaya produksi. Karena itu, pemerintah dinilai perlu memberikan perlindungan jangka pendek bagi sektor-sektor produktif seperti makanan dan minuman, tekstil, elektronik, serta UMKM berbasis impor bahan baku.

“Pemerintah perlu menghadirkan insentif sementara agar pelaku usaha tetap mampu menjaga operasional dan tidak tertekan oleh lonjakan biaya akibat penguatan dolar,” ujar Anthony dalam keterangannya.

Menurutnya, bentuk dukungan tersebut dapat berupa pengurangan pajak, subsidi bunga kredit, relaksasi pembayaran pinjaman, hingga insentif logistik bagi sektor yang terdampak langsung oleh pelemahan rupiah. Ia mengingatkan, tanpa langkah cepat dari pemerintah, banyak pelaku usaha berpotensi mengalami tekanan margin yang dapat berujung pada pengurangan tenaga kerja.

Di sisi lain, Anthony menilai kondisi ini harus dijadikan momentum untuk mempercepat substitusi impor dan memperkuat struktur industri nasional. Ia mengatakan Indonesia terlalu lama bergantung pada bahan baku impor sehingga gejolak kurs selalu berdampak langsung terhadap biaya produksi dalam negeri.

Karena itu, ia mendorong pemerintah mempercepat industrialisasi, membangun rantai pasok lokal yang kuat, memberi prioritas pada penggunaan produk dalam negeri, serta memberikan insentif kepada perusahaan yang meningkatkan tingkat komponen dalam negeri atau TKDN.

“Kalau bahan baku lokal kuat, tekanan dolar tidak langsung mengguncang biaya produksi nasional. Ini momentum untuk memperkuat industri nasional secara serius,” kata Anthony.

Anthony juga melihat pelemahan rupiah dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor nasional. Ia meminta pemerintah mendorong lebih banyak UMKM masuk ke pasar global dengan memberikan pembiayaan ekspor yang lebih murah, pelatihan digital export, bantuan sertifikasi internasional, serta membuka akses marketplace global bagi pelaku usaha lokal.

Menurutnya, pengusaha Indonesia harus mulai diarahkan agar memiliki sumber pendapatan berbasis dolar sehingga tidak hanya bergantung pada pasar domestik.

“Rupiah yang melemah sebenarnya bisa menjadi peluang untuk memperbesar ekspor dan memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar internasional,” ujarnya.

Selain sektor industri dan ekspor, Anthony juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas energi dan pangan nasional. Ia meminta pemerintah menjaga harga BBM, listrik, dan bahan pangan pokok agar inflasi tidak semakin tinggi dan daya beli masyarakat tetap terjaga.

Menurut Anthony, konsumsi domestik masih menjadi penopang utama ekonomi Indonesia sehingga stabilitas harga kebutuhan masyarakat harus menjadi prioritas pemerintah di tengah tekanan global.

Ia juga mengingatkan agar kebijakan stabilisasi rupiah tidak sepenuhnya dibebankan melalui kenaikan suku bunga yang terlalu agresif. Menurutnya, bunga tinggi justru berisiko membuat kredit usaha melambat, investasi tertahan, dan konsumsi masyarakat melemah.

“Yang harus dijaga adalah keseimbangan antara stabilitas rupiah dan keberlangsungan dunia usaha. Jangan sampai dunia usaha justru kehilangan ruang untuk tumbuh akibat tekanan biaya dan bunga yang terlalu tinggi,” kata Anthony.

Anthony optimistis Indonesia tetap mampu menghadapi tekanan ekonomi global apabila pemerintah fokus memperkuat sektor produktif nasional, memperluas ekspor, menjaga daya beli masyarakat, serta memperkuat ketahanan UMKM sebagai fondasi utama perekonomian nasional.

“Krisis kurs harus menjadi momentum transformasi ekonomi nasional agar Indonesia lebih mandiri, produktif, dan tidak terus bergantung pada impor,” tutup Anthony Leong.(chm)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

07:15
01:03
09:09
05:21
07:09
01:51

Viral