- istimewa - antaranews
Atasi Keterbatasan Sekolah 3T, Satgas Pamtas 511/DY Kreatif Ajar Anak Papua Pakai Barang Bekas
Jakarta, tvOnenews.com - Prajurit Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) Yonif 511/DY memberikan pendidikan nonformal kepada anak-anak di Distrik Balingga, Kabupaten Lanny Jaya, Papua Pegunungan, melalui pemanfaatan barang bekas sebagai media pembelajaran.
Komandan Pos Balingga Satgas Pamtas Yonif 511/DY Lettu Infanteri Arif Jumaedi jelaskan pendidikan nonformal penting untuk meningkatkan kualitas pembelajaran bagi masyarakat, terutama di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
"Pendidikan nonformal yang kami ajarkan kepada anak-anak di Distrik Balingga adalah memanfaatkan barang-barang bekas menjadi sesuatu yang memiliki nilai," kata Arif, Minggu (5/7/2026).
Ia mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program TNI Mengajar yang bertujuan meningkatkan literasi sekaligus menghadirkan metode pembelajaran yang lebih menarik bagi anak-anak di wilayah pedalaman Papua.
Menurut Arif, prajurit memanfaatkan kaleng, botol bekas, dan kayu untuk dijadikan alat peraga edukatif serta permainan tradisional yang dapat menunjang proses belajar di sekolah.
"Kami melihat potensi besar pada anak-anak Papua. Dengan mengubah barang bekas menjadi media belajar dan permainan, kami ingin menciptakan suasana belajar yang menyenangkan," ujarnya.
Ia menambahkan keterbatasan sarana pendidikan di daerah pedalaman tidak menjadi hambatan untuk menghadirkan pembelajaran yang kreatif dan berkualitas.
Selain mengembangkan kreativitas, materi pembelajaran juga disisipkan dengan pengenalan nilai-nilai adat istiadat dan sikap saling menghormati antarpemeluk agama.
Menurut Arif, pendekatan tersebut mampu meningkatkan antusiasme anak-anak untuk mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
Sementara itu, Kepala SD Inpres Balingga Tinus Murib mengapresiasi inisiatif prajurit Satgas Pamtas yang menghadirkan metode pembelajaran kreatif bagi para siswa.
"Kehadiran bapak TNI membawa warna baru bagi anak-anak kami. Mereka sekarang lebih rajin masuk sekolah dan lebih ceria karena media pembelajarannya menarik serta dilengkapi permainan interaktif dari barang bekas. Ini sangat membantu kami di tengah keterbatasan sarana sekolah," pungkas Tinus. (aag)