- Gambar ilustrasi AI
Kasus 3 Santri Dibakar di Lombok Tengah Masuk Babak Baru, KPAI Soroti Biaya Pengobatan Korban
"Sekitar 17 orang yang sudah diperiksa. Itu terdiri dari korban, saksi, orang tua, hingga terduga pelaku," ujar Brata.
Selain itu, penyidik juga meminta pendapat ahli pidana dari Universitas Mataram (Unram) serta berencana memeriksa tenaga medis yang menangani para korban.
KPAI Desak Bantuan Pengobatan, Korban Terkendala Biaya
Di tengah proses hukum, kondisi dua korban yang masih menjalani pemulihan turut menjadi perhatian KPAI. Lembaga tersebut mengungkapkan bahwa keluarga korban mengalami kesulitan membiayai pengobatan akibat adanya kendala penggunaan layanan BPJS Kesehatan.
Anggota KPAI, Diyah Puspitarini, mengatakan keluarga saat ini lebih memprioritaskan pemulihan kondisi fisik anak-anak mereka.
"Keluarga masih fokus pemulihan fisik korban, namun masih terkendala biaya. Info yang didapat ada hambatan penggunaan dana BPJS," kata Diyah.
Karena itu, KPAI mendesak pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan dan BPJS Kesehatan agar segera memberikan dukungan penuh terhadap biaya perawatan korban.
"KPAI mendesak Dinas Kesehatan setempat dan BPJS agar memberikan bantuan pembebasan biaya perawatan untuk anak-anak korban kekerasan fisik, karena mereka harus mendapatkan pertolongan dan rehabilitasi medis sesegera mungkin, terutama dalam kasus ini, anak sampai dibakar dan menderita disabilitas permanen," tegas Diyah Puspitarini.
Menurut KPAI, pemulihan korban tidak hanya membutuhkan penanganan medis jangka panjang, tetapi juga rehabilitasi psikologis mengingat dampak trauma yang dialami setelah peristiwa tersebut.
Berawal dari Dugaan Pembakaran, Satu Santri Meninggal Dunia
Berdasarkan hasil penelusuran Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram, ketiga korban masih duduk di bangku kelas satu madrasah tsanawiyah (MTs). Mereka diduga menjadi korban pembakaran yang dilakukan oleh seorang santri senior setelah sebelumnya disiram menggunakan bahan bakar.
Ketua LPA Kota Mataram, Joko Jumadi, mengungkapkan akibat peristiwa itu dua santri mengalami luka bakar serius, sedangkan satu korban meninggal dunia setelah menjalani perawatan.
"Ada tiga korban. Dua mengalami luka bakar dan satu meninggal dunia," kata Joko.
- instagram Sumagodenny
Peristiwa tersebut sebenarnya terjadi pada November 2025, namun baru menjadi perhatian luas setelah video kondisi korban saat menjalani perawatan di rumah sakit viral di media sosial pada Mei 2026.